Rahasia Rumus 1:3:10! Cara Membuat Eco Enzyme Pengganti Sabun

14 Agustus 2026, 14:22 WIB • 4 menit baca
Sejumlah ibu-ibu mempraktikkan cara membuat eco enzyme dengan memasukkan potongan limbah sayuran hijau dan air ke dalam wadah botol plastik untuk diracik menjadi cairan pembersih alami.

MAGELANG, Jatengdata.com – Jangan langsung membuang kulit buah dan sisa sayuran di dapur Anda! Pelajari panduan praktis cara membuat eco enzyme menggunakan rumus rahasia 1:3:10 dari pakar biologi UIN Walisongo. Buktikan sendiri besarnya manfaat eco enzyme yang tidak hanya ampuh sebagai cairan pembersih alami peluntur lemak, tetapi juga sangat efektif memangkas anggaran belanja bulanan keluarga.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MMK Posko 2 UIN Walisongo menginisiasi kegiatan edukasi inovatif ini pada Kamis (13/8/2026) di Dusun Duren, Desa Jati, Kecamatan Sawangan. Mereka menyasar sekitar 20 warga setempat dengan satu tujuan yang sangat jelas, yakni mengubah paradigma masyarakat dalam membuang limbah.

Selama ini, kebiasaan masyarakat membuang sisa dapur sembarangan justru memicu krisis ekologis yang serius di lingkungan sekitar. “Lebih dari 60% limbah rumah tangga kita adalah sampah organik. Saat menumpuk di TPA tanpa oksigen, sampah ini membusuk dan melepaskan gas metana—gas rumah kaca yang membakar atmosfer bumi,” tegas Dian Triastari Armanda, M.Si., pakar biologi sekaligus narasumber utama dalam pelatihan tersebut.

Rahasia Rumus Eco Enzyme 1:3:10

Untuk memutus rantai polusi tersebut, mahasiswa KKN mengajarkan langkah demi langkah cara membuat eco enzyme secara mandiri kepada warga. Kuncinya terletak pada rumus eco enzyme 1:3:10 yang sangat presisi namun warga bisa mengaplikasikannya dengan mudah.

Masyarakat cukup mencampur satu bagian gula merah atau molase, tiga bagian kulit buah atau sisa sayuran segar, dan sepuluh bagian air bersih. Proses pembuatannya membutuhkan perhatian mutlak pada pemilihan wadah fermentasi anaerobik.

“Wajib menggunakan plastik bermulut lebar, jangan pernah menggunakan kaca karena tekanan gas fermentasi dapat menyebabkan wadah pecah,” ujar Dian memperingatkan para peserta agar terhindar dari risiko ledakan.

Infografis panduan cara membuat eco enzyme yang menampilkan rumus rasio 1:3:10, terdiri dari 1 bagian gula merah, 3 bagian sisa sayuran segar, dan 10 bagian air bersih, beserta instruksi fermentasi selama 90 hari.
Infografis tahapan memproduksi cairan pembersih alami dari limbah dapur organik menggunakan rumus rasio eco enzyme 1:3:10. Proses ini mencakup panduan komposisi bahan dasar hingga teknik pembuangan gas fermentasi selama 90 hari. (Grafis: jatengdata.com)

Panen Cairan Pembersih Alami Tanpa Kedaluwarsa

Pembuatan cairan organik ini membutuhkan waktu fermentasi selama 90 hari atau tiga bulan penuh. Pada bulan pertama, mikroba pengurai sangat aktif menghasilkan gas. Oleh karena itu, warga wajib membuka tutup wadah setiap hari maksimal lima detik untuk membuang tekanan gas agar wadah tidak menggelembung. Memasuki bulan kedua dan ketiga, warga pantang membuka wadah sama sekali agar proses ekstraksi biokimia berjalan sempurna.

Setelah tiga bulan berselang, warga siap memanen cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam manis segar khas fermentasi. Warga bisa langsung merasakan manfaat eco enzyme yang terbukti multifungsi untuk berbagai keperluan sektor rumah tangga sehari-hari.

“Dari eco enzyme, kita bisa gunakan untuk bahan pembersih rumah tangga seperti pembersih lantai, pencuci piring. Juga bisa sebagai pupuk tambahan bagi tanaman, pestisida alami, penjernih air, hingga penghilang bau, misalnya sisa kotoran kucing atau hewan lain,” urai Dian yang juga merupakan founder Citigrower, urban farming initiative.

Selain ramah lingkungan, inovasi ini menargetkan penghematan ekonomi rumah tangga secara langsung. Melalui produksi mandiri ini, warga sukses menekan drastis ketergantungan pada produk kimia pabrikan.

“Jadi, kalau pakai eco enzyme, masyarakat bisa mengurangi pengeluaran untuk pembelian bahan-bahan kebersihan tersebut,” pungkas Dian.

Hebatnya lagi, warga tidak membuang ampas sisa panen tersebut dengan sia-sia. Hal ini karena mereka masih bisa menyaring dan menggunakannya kembali sebagai starter (biang) untuk proses fermentasi batch berikutnya.

Pengelolaan Sampah Mandiri

“Tujuan utama penyelenggaraan acara ini adalah memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat dalam mengelola sampah mandiri,” urai Khilyan Khakmi, Koordinator Desa Tim KKN.

Kepala Dusun Duren, Riswanto, bersama Ketua RW setempat, Handoyo Sukamto, sangat mengapresiasi terobosan ramah lingkungan ini. Berbekal panduan cara membuat eco enzyme ini, mereka berharap seluruh warga desa mampu konsisten mempraktikkan pengelolaan sampah mandiri dari rumah.

“Besar harapan kami, warga Dusun Duren dan kelompok tani dapat mengaplikasikan ilmu ini secara konsisten di rumah masing-masing. Dengan begitu, limbah rumah tangga terolah dengan baik dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan maupun pertanian lokal,” tutup Khilyan, mahasiswa KKN dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains UIN Walisongo.

Langkah sederhana ini menjadi tonggak penting demi menciptakan kemandirian ekologis sekaligus mengamankan keuangan keluarga.

Baca juga:

Selamatkan Tangan Petani, Inovasi Alat Penabur Pupuk KKN UIN Walisongo Curi Perhatian

Atasi Hama, Mahasiswa KKN Undip Ciptakan Smart Light Trap Berbasis AI untuk Petani Temanggung

Tinggalkan Gawai! Intip Cara Membuat Ecoprint yang Bikin Haru

Kontributor: KKN-MMK UIN Walisongo
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.