Berbekal Kayu dan Nyali, Relawan Jinakkan Kebakaran Gunung Sumbing

25 Oktober 2026, 18:19 WIB • 5 menit baca
Seorang relawan berseragam oranye berbekal dahan kayu memukul tanah berbara yang mengepulkan asap saat menjinakkan kebakaran Gunung Sumbing secara manual.
BERBEKAL KAYU DAN NYALI – Seorang relawan menggunakan dahan kayu berdaun untuk memukul bara api yang mengepulkan asap putih di lereng Gunung Sumbing yang menghitam. Berkat nyali dan kerja keras para petugas serta relawan lintas basecamp yang memadamkan api secara manual di medan terjal, tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran Gunung Sumbing hingga 100 persen pada Sabtu (24/10/2026). (Foto: Dok. Humas/jatengdata.com)

TEMANGGUNG, Jatengdata.com – Kepulan asap putih masih membubung pekat dari hamparan tanah miring yang menghitam di lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah, saat seorang relawan mengayunkan dahan kayu berdaun ke arah bara api. Dengan kain pelindung yang menutup wajah dari sengatan jelaga, para relawan Basecamp Bimawari bertaruh nyali memukulkan ranting pohon memadamkan bara api secara manual sejak Senin, 19 Oktober 2026. Akhirnya, mereka berhasil menuntaskan pemadaman kebakaran Gunung Sumbing secara total pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026.

Perjuangan dramatis menembus kabut asap di medan berjurang tanpa alat modern ini pun memantik perhatian Gubernur Ahmad Luthfi yang turun langsung menemui para relawan di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Temanggung pada Ahad, 25 Oktober 2026.

Di sudut lereng yang curam, sisa-sisa tanaman pakis hijau tampak kontras bersanding dengan semak belukar yang telah berubah menjadi arang hitam. Tak jauh dari titik pemadaman itu, sejumlah relawan berkaus oranye dengan ransel di punggung berjalan beriringan menembus kabut dan asap tipis yang menggantung di sela-sela pepohonan.

Tanpa selang air maupun perangkat pemadam canggih, para relawan menjadikan keberanian dan sebatang kayu di genggaman sebagai tumpuan utama untuk menghentikan laju si jago merah di perbatasan Wonosobo, Magelang, dan Temanggung tersebut.

Enam Hari Menantang Jurang saat Kebakaran Gunung Sumbing

Perjuangan panjang bermodalkan nyali di lereng gunung itu menyisakan kenangan mendalam bagi Jumari, atau Petruk, Wakil Ketua Basecamp Pendakian Bimawari di Desa Wonosari. Saat menerima kunjungan di Basecamp Bimawari pada Ahad, 25 Oktober 2026, ia menceritakan detik-detik awal ketika para relawan Basecamp Bimawari menerima informasi munculnya api dari sisi Kabupaten Wonosobo yang mulai merembet mendekati wilayah Kabupaten Temanggung.

“Mulai kebakaran itu sekitar pukul 16.00 pada Senin. Kami mendapat kabar dari Wonosobo. Selasa, kami melakukan penyisiran untuk memastikan pendaki yang masih berada di atas, termasuk di Segoro Wedhi, sudah aman,” ujarnya usai berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Seusai memastikan seluruh pendaki turun dengan selamat, para relawan kembali mendaki pada hari Rabu untuk mengamankan sejumlah aset penting di sepanjang jalur pendakian, mulai dari patok penanda arah hingga kamera pengawas (CCTV). Selanjutnya, pada Kamis, 22 Oktober 2026, personel Basecamp Bimawari bergabung dengan relawan Basecamp Batursari. Lalu keesokan harinya mereka bersinergi bersama Basecamp Banaran guna menggempur titik api di kawasan Jalur Cepit serta Glapansari.

Kerja keras lintas komunitas selama berhari-hari itu pun membuahkan hasil manis menjelang akhir pekan. “Lalu pada Sabtu, api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi,” kata Petruk.

Nyali Relawan Basecamp Bimawari Hadapi Medan Terjal dan Angin

Upaya menjinakkan amukan api di ketinggian gunung hanya dengan dahan kayu tentu menuntut ketahanan fisik serta mental yang luar biasa. Tiupan angin kencang di area terbuka membuat lidah api cepat melompat. Sedangkan letak titik kebakaran di bibir jurang memaksa relawan mencari jalur memutar yang menguras waktu serta tenaga.

“Kendalanya angin karena di atas kencang, jadi agak susah untuk memadamkan api. Medannya juga lumayan berat karena ada jurang. Ada titik api di jurang, kami harus memutar lagi. Proses pemadaman kami lakukan secara manual, pakai kayu,” tuturnya.

Beruntung, para relawan Basecamp Bimawari telah mengantongi pelajaran berharga dari peristiwa kebakaran Gunung Sumbing berskala besar beberapa tahun silam. “Paling besar sebelumnya tahun 2019, itu habis. Jadi, untuk kali ini sudah ada pengalaman dari kejadian sebelumnya,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menilai bencana kebakaran hutan dan lahan di lereng gunung tersebut memiliki pola berulang dalam rentang waktu sekitar delapan tahun. Oleh karena itu, ia mengusulkan penyediaan infrastruktur pendukung kepada Gubernur Ahmad Luthfi. Hal ini agar relawan tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan air dan akses jalur saat memadamkan api di masa mendatang.

“Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani. Karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu, jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api,” ujarnya.

Ancaman Krisis Mata Air Warga Kabupaten Temanggung

Kekhawatiran masyarakat lereng gunung terhadap bencana kebakaran hutan ini memiliki alasan kuat. Hal ini berkaitan langsung dengan urusan kebutuhan dasar sehari-hari. Pasalnya, kerusakan vegetasi akibat kebakaran Gunung Sumbing selalu memicu penyusutan debit sumber mata air warga. Perlu waktu pemulihan sekitar dua hingga tiga tahun agar mata air kembali normal..

Warga Desa Wonosari akan semakin merasakan dampak penyusutan debit air tersebut apabila musim kemarau panjang tiba. “Kalau ada sumur resapan di daerah Perhutani, itu akan membantu kestabilan sumber mata air warga. Di desa kami sudah ada sekitar 200 sumur resapan,” imbuhnya.

Selain penguatan infrastruktur penampung air, warga juga mendambakan dukungan perangkat teknologi pemetaan dini. Hal ini agar para relawan tidak hanya mengandalkan pemantauan manual dari bawah.

Muhadi, salah seorang warga Desa Wonosari, mengusulkan pengadaan drone pemantau titik panas. Wahana nirawak ini sekaligus pembuka jalur darurat untuk mendukung operasional masing-masing basecamp pendakian.

Warga menilai perangkat pemantau udara itu sangat krusial untuk mendeteksi kepulan asap sejak dini. Drone juga dapat bermanfaat untuk membantu operasi pencarian pendaki dalam kondisi darurat.

“Harapannya, ini yang terakhir. Kami minta beberapa alat agar bisa memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran, tetapi juga hal lain, termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat,” ujarnya.

Evaluasi Gubernur Ahmad Luthfi untuk Pemulihan Pascabencana

Menanggapi aspirasi para pejuang lingkungan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat untuk memperkuat koordinasi pemantauan kawasan hutan. Menurutnya, seluruh pihak harus mendasarkan langkah evaluasi pascabencana pada pendataan faktual mengenai luas lahan, kerusakan vegetasi, hingga nasib satwa liar di wilayah Wonosobo, Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

“Yang kita evaluasi adalah upaya pascabencana. Di antaranya, kebutuhan dasar masyarakat harus terpenuhi, seperti air bersih, juga reboisasi,” kata Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu, 25 Oktober 2026.

Padamnya bara kebakaran Gunung Sumbing kini menandai babak baru bagi relawan Basecamp Bimawari dan warga di lereng bukit untuk memulihkan kembali sabuk hijau mereka. Sinergi antara nyali besar warga lokal, kearifan menjaga sumber mata air di Kabupaten Temanggung, serta komitmen Gubernur Ahmad Luthfi dalam mengawal reboisasi menjadi benteng utama guna mencegah bencana serupa pada masa depan.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.