Ekspedisi Patriot Undip 2026: Tinggalkan Ego, Rangkul Ondoafi Papua
SEMARANG, Jatengdata.com – Suara langkah kaki menggema memenuhi aula kampus, menyiratkan tekad bulat yang pantang mundur. Kini, ratusan mahasiswa lintas kampus itu bersiap menyeberangi zona nyaman mereka. Bahkan, mereka rela menukar kemudahan akses kota dengan senyum hangat warga transmigran pedalaman, dengan bergabung dalam misi Ekspedisi Patriot Undip 2026.
Mereka sadar, menaklukkan hati masyarakat adat di belantara Nusantara membutuhkan lebih dari sekadar gelar akademis. Misi ini menuntut ketulusan untuk menundukkan kepala dan melebur bersama tradisi demi memajukan daerah pinggiran.
Suasana haru biru itu terekam jelas dalam acara Pembekalan dan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot Undip 2026 yang digelar pada Selasa (21/7/2026), di Gedung ICT Center, Kampus Undip Tembalang. Undip bersama 21 universitas mitra resmi menerjunkan 144 mahasiswa ke 24 area penugasan. Area itu membentang dari kawasan Transmigrasi Keerom di Papua hingga pelosok Sumatera Selatan.
Bisa disebut ekspedisi ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarperguruan tinggi. Tercatat, beberapa kampus ternama di Indonesia turut bergabung. Diantaranya Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sriwijaya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammaadiyah Surakarta, hingga Universitas Cendrawasih,. Sementara kampus dari Semarang yang ikut serta adalah Universitas Negeri Semarang, Universitas Semarang dan Universitas Sultan Agung.
Dari 24 area penugasan, mereka menyasar 20 titik di Papua, termasuk Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom. Sementara empat tim lainnya siap mengabdi di wilayah Sumatera Selatan. Lokasinya mencakup KT Petata di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), KT Parit Rambutan Ogan Ilir, KT Telang Banyuasin, dan KT Kikim Lahat.
Sesampainya di lapangan nanti, ujian sesungguhnya menanti kaum intelektual muda ini. Mereka tidak sekadar membangun infrastruktur fisik. Sebaliknya, mereka harus menjembatani komunikasi silang budaya. Terkait hal ini, Annastasia Ediati, S.Psi., M.Sc., Ph.D.,dalam pembekalannya menegaskan pentingnya pendekatan kultural. Pesan ini berlaku bagi para mahasiswa yang bertugas di Papua maupun wilayah transmigrasi lainnya.
“Di beberapa daerah tertentu, tim perlu memperhatikan penghormatan atau prosesi meminta izin kepada Kepala Suku, atau dikenal Ondoafi di Papua,” jelas Annastasia. Melalui arahan tersebut, ia mengurai strategi empati yang menjauhi sikap menggurui.
Senjata Empati untuk Pembangunan Desa Transmigrasi
Pada dasarnya, transformasi di daerah pelosok menuntut strategi yang luwes. Hal ini sangat penting demi menyukseskan pembangunan desa transmigrasi. Untuk itu, Dr. Nurul Hasfi, S.Sos., M.A., turut membekali para pemuda ini dengan teknik story-telling agar mereka mampu menyuarakan denyut nadi kehidupan desa secara digital.
“Teknik story-telling bukan hanya sekadar konten, namun memadukan emosi, konten, dan identitas sehingga terbangun interaksi emosional dengan penonton,” tandasnya yang menjadikan teknik ini sebagai senjata komunikasi yang ampuh.
Bahkan, kata Dr. Nurul, dari hasil penelitian Stanford GSB, story-telling ini lebih mudah diingat sebanyak 22 kali sehingga audiens dapat lebih terhubung dengan cerita.
Sementara itu, pemateri pembekalannya lainnya Dr. Ir. Jawoto Sih Setyono, MDP membedah kebijakan pembangunan transmigrasi dari masa ke masa. Sedangkan Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB., MBA., Ph.D. di sesi akhir menyampaikan wawasan penguatan ekonomi lokal melalui jalan pemberdayaan masyarakat.
Berbekal berbagai materi tersebut, tim gabungan bergerak dengan tujuan jelas. Mereka siap mengakselerasi pemberdayaan masyarakat desa dalam mendukung program Kementerian Transmigrasi.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Person in Charge (PIC), Prof. Dr.Ing. Wiwandari Handayani, S.T., M.T., MPS, mengajak seluruh peserta untuk bersinergi menyalurkan inovasi menuju pembangunan berkelanjutan.
“Fokus program tahun ini kita mendukung pembangunan infrastruktur, komoditas, kelembagaan, dan sumber daya manusia,” terangnya.

Pesan Rektor Undip: Duta Kampus yang Berdampak
Tidak hanya itu, dukungan penuh dan pesan mendalam mengalir pula dari pimpinan tertinggi universitas. Melalui pidato virtualnya, Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menitipkan pesan penting. Mahasiswa harus senantiasa menjaga nama baik almamater dan memberikan dampak nyata.
“Saya melepas teman-teman semua ke area Sumatera dan Papua, semoga terus menjadi inspirasi dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Selamat jalan, mudah-mudahan teman-teman kembali dengan keadaan sehat,” pesannya dengan hangat.
Melengkapi pesan emosional tersebut, Wakil Rektor IV Wijayanto, Ph.D. yang mewakili Rektor Undip menyematkan atribut secara simbolis untuk melepas para pemuda ini.
“Ini adalah kiprah kita sebagai duta universitas berdampak, untuk membangun daerah serta mendengarkan aspirasi masyarakat. Tim yang telah berangkat pada tahun 2025 melaksanakan tugas dengan baik dan lancar. Semoga tim Ekspedisi Patriot Undip 2026 programnya juga akan sangat sukses dan bermanfaat,” tuturnya di dampingi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNDIP, Prof. Dr.Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T.
Kini, ratusan pemuda intelektual tersebut bersiap menorehkan karya nyata dan terobosan inovasi mereka dalam mengubah wajah desa pinggiran. Melalui misi Ekspedisi Patriot Undip 2026 mereka bertekad menjadi motor penggerak utama pembangunan desa transmigrasi di pelosok Nusantara.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.