Internet Saja Tak Cukup, Ini Wajah Baru Desa 5.0
BANYUMAS, Jatengdata.com – Akses internet cepat ke pelosok ternyata belum menjamin kemajuan nyata jika masyarakat tidak mengimbanginya dengan kesiapan sumber daya manusia. Fakta krusial ini memicu lahirnya konsep revolusioner ekosistem Desa 5.0. Sebuah konsep yang menargetkan perombakan total cara warga beradaptasi dengan teknologi masa depan.
Merespons tantangan tersebut, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) resmi meluncurkan Kick-Off Desa BRILian 2026 Batch 2 pada Selasa (18/8/2026). Berlangsung secara daring melalui platform Zoom, acara ini turut menghadirkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, H. Yandri Susanto, sebagai pembicara kunci.
SDM Kuat Jadi Kunci Transformasi Desa Digital
Kolaborasi Unsoed dan BRI kali ini melampaui sekadar distribusi infrastruktur teknologi. Rektor Unsoed Prof. Akhmad Sodiq menegaskan bahwa transformasi desa digital mutlak membutuhkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan kepemimpinan lokal yang tangguh.
“Teknologi yang canggih tidak akan memberikan dampak yang optimal apabila tidak diikuti dengan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya, kepemimpinan yang mampu mengarahkannya, serta kelembagaan yang mampu memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” ujar Prof. Akhmad Sodiq.
Melalui ekosistem Desa 5.0, inovasi digital berfungsi sebagai ujung tombak kesejahteraan masyarakat. Warga kini bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar, menarik pembiayaan baru, hingga mendongkrak sektor potensial seperti UMKM dan pertanian.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor yang kuat. Institusi perguruan tinggi seperti Unsoed hadir menyuplai riset terapan yang aplikatif, pemerintah memfasilitasi kebijakan, sementara dunia usaha seperti BRI membuka lebar akses permodalan bagi warga desa.
Lahirkan Inovasi Praktis Berkelanjutan
Sementara itu Ketua LPPM Unsoed Prof. Elly Tugianti memandang Desa BRILian 2026 Batch 2 sebagai ruang strategis untuk menggali potensi wilayah secara langsung. Ia menyoroti pentingnya penciptaan terobosan digital yang benar-benar membumi, bukan sekadar teori akademis yang sulit masyarakat terapkan.
“Bukan sekadar inovasi yang terlihat baik di atas kertas, tetapi inovasi yang digunakan, dirasakan manfaatnya, dan mampu bertahan dalam jangka panjang,” tegas Prof. Elly.
Melalui pergeseran paradigma menuju kawasan Desa 5.0 ini, wilayah pedesaan segera mengubah posisi mereka secara signifikan. Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif, melainkan bersiap tampil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tangguh dan mandiri.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.