Riset Dosen Unsoed di NUS Dorong Pengakuan Diaspora Lintas Negara

27 Oktober 2026, 14:16 WIB • 2 menit baca
Para peserta dan pemakalah internasional berfoto bersama dalam workshop yang mengangkat isu pekerja migran perempuan di National University of Singapore (NUS).
FORUM DI KANCAH GLOBAL – Suasana kebersamaan para akademisi, peneliti, dan pemakalah internasional saat mengikuti workshop bertajuk "Global Indonesians as a Shifting Diaspora" di National University of Singapore (NUS). Forum strategis ini menyoroti diskursus penting seputar hak, advokasi, dan kontribusi pekerja migran perempuan. (Foto: Dok. Istimewa/Jatengdata.com)

SINGAPURA, Jatengdata.com – Upaya panjang dalam memperjuangkan hak-hak buruh migran kini membuahkan hasil nyata berupa penguatan diskursus akademik dan kebijakan global. Melalui riset advokasi digital yang dipresentasikan di National University of Singapore (NUS), perguruan tinggi berhasil mendorong pengakuan bahwa pekerja migran perempuan bukan sekadar tenaga kerja, melainkan subjek aktif yang membentuk diaspora Indonesia.

Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si., membawa hasil riset tersebut dalam workshop internasional “Global Indonesians as a Shifting Diaspora” di NUS pada 22–23 Oktober 2026.

Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk gagasan, tetapi juga sukses membuka peluang kolaborasi riset internasional serta mengangkat isu strategis pekerja migran dari tingkat lokal di Banyumas menuju panggung global.

Advokasi Digital dan Ruang Publik Lintas Negara

Dampak besar dari pemaparan di Singapura ini membuka ruang pengakuan transnasional bagi buruh migran di Hong Kong, Malaysia, Kamboja, dan Taiwan. Riset etnografi digital terhadap aktivitas kreator konten Yuni Andarwati di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook membuktikan bahwa ruang digital kini berfungsi efektif sebagai transnational counterpublics.

Ruang publik lintas negara ini tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan dan jejaring solidaritas, tetapi juga melahirkan figur digital migrant advocate yang memperjuangkan hak-hak buruh secara mandiri.

“Selama ini pekerja migran perempuan sering diposisikan sebagai objek kebijakan. Lewat riset ini, saya ingin menunjukkan bahwa mereka adalah subjek yang aktif membentuk diaspora Indonesia, dan mereka berhak diakui sebagai bagian dari diaspora itu,” ujar Dr. Tyas.

Rekam Jejak Riset dan Kontribusi Global

Panitia penyelenggara dari Asia Research Institute NUS meloloskan Dr. Tyas melalui proses seleksi call for papers yang sangat ketat. Tercatat ada enam akademisi asal Indonesia yang terpilih untuk tampil berdampingan dengan pemakalah dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Australia, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura.

Keterlibatan aktif Dr. Tyas dalam isu pelindungan pekerja migran Indonesia didasari oleh pengalaman lebih dari dua dekade dalam bidang penelitian, advokasi, dan pemberdayaan, khususnya bagi perempuan migran di Hong Kong dan Malaysia, serta perannya sebagai Pembina komunitas pekerja migran SERUNI di Banyumas.

“Suara pekerja migran dari Banyumas layak didengar di forum global. Semoga ini juga menyemangati mahasiswa dan dosen kita untuk terus menyuarakan riset di forum internasional,” tambahnya.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.