Bebas Bau! Trik Pengolahan Sampah Rumah Tangga Jadi Cuan di Ungaran

5 Juli 2026, 20:48 WIB • 4 menit baca
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Polimarin menyerahkan tong komposter biru kepada tokoh masyarakat RW 3 Genuk Ungaran untuk dukung program pengolahan sampah rumah tangga mandiri.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Polimarin, Heri Kiswanto (kiri), menyerahkan bantuan tong komposter secara simbolis kepada Ketua RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, Muhammad Arifin, Ahad (5/7/2026). Bantuan ini bertujuan mendorong kemandirian warga dalam pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos bernilai ekonomi. (Foto: Jatengdata.com)

UNGARAN, Jatengdata.com – Tumpukan limbah dapur yang biasanya warga biarkan membusuk dan memicu penyakit, kini siap disulap menjadi “emas hitam” bernilai ekonomi di RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Warga memelopori program pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri. Hal ini sebagai respon tegas untuk melawan ancaman krisis Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian darurat.

Selama bertahun-tahun, warga terbiasa membuang sampah organik dan anorganik secara campur melalui sistem “kumpul-angkut-buang” ke TPA. Padahal, tumpukan sampah sedemikian memicu pencemaran air, menyebarkan bau tidak sedap, serta menghasilkan emisi gas metana yang berbahaya bagi bumi.

Urgensi warga untuk mengelola limbah rumah tangga secara mandiri sudah sedemikian krusialnya. Menurut catatan Biri Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sampah terangkut ke TPA di Kabupaten Semarang sudah mencapai 293.000 meter kubik. Data dari kantor yang sama tahun 2022 menyebutkan sampah organik rumah tangga menyumbang porsi terbesar hingga 61,56% dari total timbulan sampah sehari-hari.

Melihat kondisi darurat ini, Ketua RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, Muhammad Arifin, menegaskan bahwa warga harus segera mengubah perilaku mereka.

“Sampah ini sebenarnya bukan hanya barang yang bisa dibuang. Kalau kita hanya membuang, nanti lama-lama akan menimbulkan masalah di kemudian hari,” tegas Arifin.

Bantuan Komposter dan Pelatihan dari Polimarin

Kalangan akademisi mendukung penuh langkah mandiri warga Genuk dalam mengelola sampah. Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) merespons dengan menyalurkan bantuan alat dan menggelar pelatihan teknis di Balai RW 3, Genuk, Ungaran Barat, Ahad (5/7/2026).

Pelatihan menghadirkan narasumber pakar urban farming sekaligus agroekologi dari UIN Walisongo Semarang, Dian Triastari Armanda. Akademisi sekaligus pendiri Citigrower ini mengajarkan pengolahan sampah rumah tangga menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos.

Lima dosen lintas disiplin ilmu dari jurusan Teknika, Nautika, dan Bisnis Maritim Polimarin mengawal langsung program ini berbekal dana hibah dari Kemdiktisaintek. Tim Polimarin menyerahkan total 35 unit komposter kedap udara. Komposter ini mencakup 10 unit berkapasitas 60 liter, 10 unit 120 liter, dan 15 unit berukuran 20 liter. Tim ini juga memastikan pendampingan berkelanjutan hingga warga mahir memproduksi kompos secara mandiri.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Polimarin, Heri Kiswanto, menuturkan bahwa timnya melakukan intervensi ini karena melihat manajemen limbah di TPA masih minim.

“Kami melihat di TPA di sini sampahnya belum dikelola secara baik. Oleh karena itu, kami mengusulkan agar pengelolaan sampah ini bisa dimanajemen secara lebih baik, salah satunya dengan memilah antara sampah organik dengan anorganik,” papar Heri.

Pemuda Ubah Sampah Jadi Uang

Karang Taruna Wira Panca Bakti RW 3 tampil sebagai mesin penggerak utama dalam mengeksekusi program ini di lapangan. Para pemuda ini mengawal penuh siklus ekonomi sirkuler bertajuk Trash to Cash. Mereka mengambil peran untuk mengoperasikan tong komposter, sekaligus gencar mengedukasi warga agar disiplin memilah sampah sejak dari dapur.

Ketua Karang Taruna RW 3, Yahya, dengan jeli menyoroti potensi ekonomi di balik besar limbah sisa makanan warga. Ia optimis inisiatif ini sanggup meruntuhkan stigma negatif generasi muda terhadap sampah yang selama ini mereka anggap kotor.

“Bagaimana cara mengolah sampah itu menjadikan uang, ini sangat menarik. Harapannya, produk hasil olahan ini juga bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat,” ujar Yahya antusias.

Rahasia “Emas Hitam” Bebas Bau

Sementara itu, narasumber pelatihan Dian Triastari Armanda, membagikan trik khusus pengomposan anaerob agar warga sukses dan terbebas dari bau busuk saat mengolah limbah. Kunci utamanya bertumpu pada kedisiplinan warga memilah sampah organik murni dan memanfaatkan larutan bioaktivator Effective Microorganisms (EM4). Warga cukup mencacah sisa makanan, memasukkannya ke komposter tertutup, lalu menyemprotkan campuran larutan EM4, air, dan gula.

Dian menjelaskan bahwa bioaktivator ini bekerja cepat menekan bau menyengat sekaligus mengakselerasi dekomposisi organik. Proses penguraian sampah organik yang tadinya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hanya beberapa minggu.

Hasil akhirnya, warga dapat memanen cairannya sebagai Pupuk Organik Cair (POC) dan mengolah ampas padatnya menjadi humus “emas hitam”. Produk pengolahan sampah rumah tangga ini bernilai jual tinggi di pasar. Warga juga dapat menggunakannya sendiri untuk menggerakkan urban farming di pekarangan rumah.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.