Pakar UIN Bongkar Rahasia Cara Membuat Kompos Tidak Bau

6 Juli 2026, 09:04 WIB • 3 menit baca
Seorang pemuda mempraktikkan cara membuat kompos tidak bau dengan memasukkan jerami kering ke dalam tong komposter biru, didampingi pakar agroekologi UIN Walisongo.
Warga RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, mempraktikkan langsung cara membuat kompos tidak bau dengan memasukkan bahan "coklatan" berupa jerami kering ke dalam tong komposter. Praktik ini dipandu langsung oleh pakar agroekologi UIN Walisongo, Dian Triastari Armanda (tengah memegang mikrofon), dalam rangkaian program pengabdian masyarakat Polimarin, Ahad (5/7/2026).

UNGARAN, Jatengdata.com – Tumpukan limbah basah sisa makanan ternyata bisa disulap menjadi pupuk organik bernilai tinggi tanpa memicu bau busuk di permukiman. Ilmu penting ini langsung dipraktikkan warga khususnya anggota Karang Taruna Wira Panca Bakti RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, melalui pelatihan bersama pakar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo pada Ahad (5/7/2026). Edukasi ekonomi sirkular ini merupakan program pengabdian masyarakat dari Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin).

Rasio Tepat Jadi Kunci Utama 

Mereka kini mempelajari metode praktis mengolah limbah dapur yang selama ini hanya dibuang begitu saja ke bak sampah. Ahli agroekologi dari Fakultas Sains Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Dian Triastari Armanda, membagikan rahasia penting tersebut kepada masyarakat.

Ia menegaskan bahwa cara membuat kompos tidak bau sangat bergantung pada perbandingan bahan penyusunnya.

“Kalau pernah dengar bikin kompos kok bau, nah ini pasti kurang coklat. Cara memperbaikinya, tambahi coklatan selama proses,” ujar Dian Armanda di hadapan puluhan pemuda Karang Taruna.

Bahan “coklatan” merupakan material kaya karbon seperti daun kering, serabut kelapa, atau kardus bekas. Sementara itu, bahan “hijauan” mencakup sisa sayuran segar dan nasi sisa yang menyumbang unsur nitrogen.

Oleh karena itu, kita harus memastikan rasio kompos karbon nitrogen seimbang, yakni idealnya 30 banding 1. Jika limbah hijau terlalu banyak, tumpukan sampah akan menjadi terlalu basah dan memicu timbulnya bau busuk.

Peran Vital Cairan EM4

Selain menakar bahan baku, keberhasilan proses ini juga membutuhkan bantuan mikroorganisme penyerap. Dalam pelatihan, peserta mempraktikkan penggunaan EM4 (Effective Microorganisms) sebagai cairan bioaktivator andalan. Cairan ini berisi koloni bakteri pembongkar sampah yang bekerja mempercepat proses pembusukan alami.

Namun, peserta tidak boleh langsung menuangkan cairan tersebut ke tumpukan sampah. Mereka harus melakukan proses inkubasi terlebih dahulu.

“Kita bangunkan dulu dia tidur. Caranya gimana? Kasih makan. Kalau dikasih makan dia pasti bangun. Makanannya apa? Gula,” tutur Dian menjelaskan cara mengaktifkan bakteri tersebut.

Kita cukup mencampur larutan EM4 dengan air bersih dan cairan molase atau tetes tebu. Kemudian, kita diamkan campuran itu selama lima belas menit. Setelah bakteri aktif, barulah kita semprotkannya ke dalam tong komposter, terang Dian.

Infografis panduan langkah demi langkah cara membuat kompos tidak bau, menampilkan takaran rasio bahan organik, proses aktivasi bakteri EM4, jadwal pembuangan gas, dan indikator keberhasilan pupuk kompos.
Infografis panduan praktis cara membuat kompos tidak bau di rumah. Kunci utamanya terletak pada perbandingan bahan kering dan basah (30:1), serta proses aktivasi bakteri pembongkar sampah menggunakan campuran cairan EM4, air, dan gula. (Grafis: Jatengdata.com)

Mengubah Sampah Menjadi Emas Hitam

Setelah semua bahan masuk ke tong komposter, kita wajib menutup rapat wadah pembusukan tersebut. Meskipun begitu, kita perlu membuka tutup komposter setiap dua hari sekali untuk membuang penumpukan gas karbon dioksida.

Lewat pelatihan kompos UIN Walisongo bersama tim Polimarin ini, peserta akhirnya mengerti indikator keberhasilan pupuk mereka. Kompos yang matang sempurna akan berwarna hitam legam dan mengeluarkan aroma wangi fermentasi seperti tape.

Dengan menguasai cara membuat kompos tidak bau ini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat RW 3. Mereka tidak hanya bisa menggunakan pupuk organik tersebut untuk menyuburkan tanaman pekarangannya. Lebih jauh lagi, warga berpeluang mengemas dan menjual produk pupuk itu guna menambah pundi-pundi penghasilan keluarga

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.