Tangis Penyesalan di Bangku Sekolah: “Ternyata Ejekanku Meninggalkan Luka”
KENDAL, Jatengdata.com – Gelak tawa di ruang kelas MI NU 73 Poncorejo akhirnya mulai terhenti, Senin (10/8/2026). Suara riang itu perlahan berganti isak tangis yang menyayat hati. Pagi yang awalnya penuh sorak-sorai dari 56 siswa kelas IV dan V mendadak runtuh. Sebuah kenyataan baru saja menampar nurani mereka.
Melalui sesi edukasi anti bullying, benteng kepolosan anak-anak ini akhirnya berhasil ditembus. Dari momen tersebut, mereka perlahan sadar. Rentetan kata ejekan rupanya bukan sekadar candaan ringan. Lebih dari itu, kata-kata tersebut mampu meninggalkan luka yang jauh lebih panjang bagi korbannya.
Sejak awal, mahasiswa tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Posko 178 merancang kegiatan ini secara interaktif. Mulanya, mereka menyuguhkan materi dengan penuh energi. Sebagai respons, anak-anak menyambut riang lewat nyanyian dan yel-yel. Alhasil, suasana pun terasa sangat antusias, bahkan mulai ramai dengan canda senda gurau khas anak-anak.
Namun aatmosfer ceria itu perlahan luruh saat layar proyektor menyala. Tim KKN memutar sebuah film tentang dampak bullying. Sontak, semua mata langsung menatap ke arah depan.
Di deretan bangku, seorang siswi berhijab putih tampak menunduk. Tangannya perlahan menyeka air mata menggunakan secarik tisu. Tak jauh darinya, siswa lain tampak termenung khidmat. Mereka begitu larut menonton film tersebut. Secara spontan, renungan itu akhirnya membuat sejumlah siswa menangis di dalam kelas.
Membangun Benteng Karakter Sejak Dini
“Kami berusaha membungkus edukasi ini seseru mungkin. Kami tidak menyangka suasana bisa berubah begitu drastis,” kata Nanang Abdillah. Selaku koordinator kegiatan, ia memandu langsung sesi paling emosional tersebut.
Tentu saja, tim KKN punya alasan kuat menyasar kelas IV dan V dalam sesi edukasi anti bullying Mereka mendasarkan pilihan ini pada perhitungan matang terhadap usia anak-anak.
“Kami mengadakan edukasi untuk kelas empat dan lima, yang mana usianya mau menginjak usia remaja. Mereka butuh bekal supaya tidak terjerumus, terutama soal perundungan,” jelas Nanang.
Memang, anak berusia 9-11 tahun melewati masa penting pembentukan karakter. Oleh karena itu, edukasi anti bullying harus ditanamkan kuat-kuat pada rentang usia ini. Sebab, anak-anak sering menganggap sebuah ejekan sebagai candaan semata. Mereka juga cenderung menilai dorongan kecil sebagai permainan.
Lewat pendekatan berdurasi dua jam, tim KKN mengajak mereka merenung. Secara perlahan, kakak-kakak mahasiswa ini membimbing siswa mengenali pengertian hingga cara menghadapi perundungan.
Lingkungan Aman Berawal dari Hal Sederhana
Menciptakan lingkungan belajar yang aman rupanya tidak melulu membutuhkan tindakan besar. Sebagai langkah awal, langkah-langkah sederhana justru mampu melahirkan kedamaian.
Contohnya, siswa membiasakan diri untuk berhenti mengejek dan menolak ikut-ikutan menindas. Bukan hanya itu, siswa juga harus berani bersuara bahwa perundungan bukanlah candaan.
Isak tangis penyesalan di ruang kelas ini pun menjadi bukti nyata, edukasi anti bullying sukses membawa pemahaman baru bagi mereka.
Keheningan hari itu merangkum satu pelajaran berharga. Tidak seorang pun pantas menjadikan tindakan menyakiti perasaan teman sebagai sebuah candaan.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.