Pesan Keras Ulama di Musda MUI Jateng: Beda Jangan Sampai Meledak

11 Juni 2026, 11:41 WIB • 2 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berbincang hangat dan berdiskusi dengan para ulama saat menghadiri Musyawarah Daerah Musda XI MUI Jateng di Ungaran.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (tengah) berinteraksi hangat dengan para tokoh agama di sela-sela agenda Musyawarah Daerah (Musda) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah di Ungaran, Kabupaten Semarang. Kolaborasi erat antara umara (pemerintah) dan ulama ini didorong sebagai langkah strategis menjaga kondusivitas umat dan mencegah konflik sosial.

SEMARANG, Jatengdata.com – Perbedaan pandangan keagamaan yang berisiko memicu konflik sosial luas mendapat peringatan keras dari para petinggi majelis ulama. Menjawab keresahan tersebut, sebuah taktik strategis disiapkan dalam forum Majelis Ulama Indonesia atau MUI Jateng guna menyatukan berbagai ormas Islam sebagai jalan keluar darurat agar masyarakat tetap tenang.

Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Marsudi Syuhud, menyoroti pentingnya merangkul seluruh elemen umat. Ia menyebut majelis ini hadir sebagai rumah besar bagi organisasi besar Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, hingga Al-Washliyah. Langkah tersebut bertujuan mengelola perbedaan praktik keagamaan dengan terukur.

Marsudi mengingatkan bahwa keberagaman pandangan merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun, pengelolaannya membutuhkan perhatian ekstra agar letupan kecil tidak telanjur berkembang menjadi konflik sosial berskala besar.

“Perbedaan tetap bisa disatukan dalam MUI,” ujarnya saat memberikan arahan tegas dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI MUI Jateng di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (10/6/2026).

Ulama Sebagai ‘Radiator’ Sosial

Sejalan dengan visi persatuan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turut mempertegas posisi strategis para pemuka agama. Luthfi secara khusus menggandeng ulama untuk bertindak sebagai cooling system atau penyejuk suasana. Strategi ini ia nilai ampuh menangkal derasnya arus disinformasi dan ujaran kebencian di ruang publik.

Gubernur mengibaratkan peran tokoh agama selayaknya radiator pada kendaraan bermotor. Komponen krusial ini terbukti mampu menjaga suhu mesin tetap normal meski sedang menghadapi tekanan panas yang ekstrem di tahun politik.

“Masyarakat akan adem apabila ada ulama yang hadir memberikan pembinaan,” kata Luthfi.

Luthfi kemudian mengajak kepengurusan baru MUI Jateng memperkuat kolaborasi bersama pemerintah provinsi. Ia berani membuka pintu kantor gubernur selebar mungkin agar berfungsi sebagai ruang diskusi bersama. Ruang ini nantinya memfasilitasi pencarian solusi atas berbagai persoalan krusial umat.

Pemerintah menyadari mereka tidak mampu mengatasi kompleksitas tantangan zaman secara sendirian. Tantangan tersebut membentang dari urusan dinamika geopolitik hingga target kesejahteraan ekonomi warga daerah.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri seperti Superman, kita butuh super team,” tegasnya mematahkan anggapan kerja tunggal.

Kolaborasi lintas sektor ini terbukti membuahkan hasil positif bagi pembangunan daerah. Angka kemiskinan berhasil ditekan ke level 9,39 persen, sementara capaian pertumbuhan ekonomi melesat mencapai 5,89 persen.

Musyawarah yang mengusung tema “Menjaga Moralitas Beragama, Bermasyarakat, dan Bernegara” ini sekaligus menetapkan arah kepengurusan dan program kerja MUI Jateng periode 2026–2031.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.