Rambut Memutih Bukan Halangan, Momen Haru Pria 73 Tahun Jadi Wisudawan Undip Tertua

1 Agustus 2026, 12:58 WIB • 3 menit baca
Dr JLM Siahaan, wisudawan Undip tertua berusia 73 tahun, mengenakan toga dan berdiri tersenyum karismatik di tengah kerumunan wisudawan muda yang sedang duduk saat prosesi kelulusan di Muladi Dome.
MOMEN INSPIRATIF: Sosok Dr. J.L.M. Siahaan (tengah) tampak menonjol dan berdiri penuh kebanggaan di antara para lulusan muda. Di usia 73 tahun, ia mencatatkan diri sebagai wisudawan Undip tertua saat resmi meraih gelar Doktor Sejarah pada upacara kelulusan di Gedung Muladi Dome, Tembalang, Jumat (31/7/2026). (Foto: Istimewa/Jatengdata)

SEMARANG, Jatengdata.com – Lautan toga hitam berpadu dengan wajah-wajah muda yang berseri memadati Gedung Muladi Dome, Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang, Jumat (31/7/2026). Namun, di tengah semarak perayaan Wisuda ke-183 tahap 5 tersebut, pandangan hadirin justru tertuju pada satu sosok istimewa yang berdiri tegak dengan senyum penuh kebanggaan.

Di balik kacamata dan rambutnya yang telah memutih, Dr. J.L.M. Siahaan tampak karismatik berdiri di antara para lulusan muda. Ia hadir untuk membuktikan satu hal: nyala semangat menuntut ilmu tak pernah bisa padam oleh usia. Dr. J.L.M. Siahaan mencatatkan namanya sebagai wisudawan Undip tertua pada prosesi kali ini.

Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, Dr. J.L.M. Siahaan berhasil menyelesaikan studi berat dan meraih gelar pada Program Doktor Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip. Momen hangat kelulusannya pun terekam jelas saat Rektor Prof. Dr. Suharnomo, M.Si. menyambutnya dengan senyum lebar di atas panggung.

Pencapaian luar biasa ini langsung mendapat apresiasi tinggi dari jajaran rektorat. Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Dr. rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., memberikan penghormatan khusus kepada wisudawan Undip tertua tersebut di momen wisuda Undip 2026 ini.

“Kelulusan ini menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia,” tegas Prof. Heru dengan nada bangga.

Alasan Banting Setir ke Ilmu Sejarah

Menariknya, rekam jejak Dr. J.L.M. Siahaan sejatinya tidak berasal dari latar belakang ilmu budaya murni. Ia justru memiliki karier panjang sebagai konsultan survei dan perencanaan jalan raya serta jembatan. Lulusan Sarjana (S1) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini bahkan sebelumnya telah menamatkan pendidikan Magister (S2) di University of Pennsylvania pada bidang Transportation Economic Development.

Lalu, apa yang membuat seorang ahli infrastruktur ini rela kembali berkutat dengan tumpukan buku dan riset sejarah di usia senjanya? Jawabannya adalah panggilan jiwa. Di luar kesibukan profesionalnya, ia kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar sejarah dan budaya, khususnya mengenai kawasan Toba.

“Selama ini saya masih sering diminta menjadi narasumber mengenai sejarah dan budaya Toba. Karena itu, saya ingin memperdalam ilmu agar apa yang saya sampaikan memiliki landasan akademik yang semakin kuat,” ungkap J.L.M. Siahaan dengan mata berbinar.

Perjalanan meraih gelar Doktor Sejarah Undip tentu bukan jalan yang mulus. Ia harus membagi energi fisik yang tak lagi muda dengan ketatnya riset akademik. Kendati demikian, dukungan penuh dari lingkungan akademik Undip membantunya melewati setiap rintangan. Atmosfer belajar yang kondusif serta bimbingan dosen yang kooperatif membuatnya mampu bertahan hingga garis akhir.

Bagi J.L.M. Siahaan, toga yang ia kenakan di perayaan kelulusan ini bukanlah sekadar simbol pencapaian pribadi. Ada pesan mendalam yang ingin ia wariskan kepada generasi penerus bangsa.

“Jangan pernah berhenti belajar. Usia bukan penghalang untuk terus menuntut ilmu. Selama masih ada kesempatan, teruslah belajar dan berkarya,” pesannya dengan suara mantap.

Kisah Dr. J.L.M. Siahaan sebagai wisudawan Undip tertua adalah sebuah refleksi tajam bagi kita semua. Ia menampar rasa malas yang kerap menghinggapi generasi muda, sekaligus memeluk erat harapan bahwa manusia sejatinya adalah pembelajar abadi. Di usia 73 tahun, sang doktor telah mewariskan sebuah teladan nyata: selagi napas masih berhembus, tidak pernah ada kata terlambat untuk memperluas cakrawala pengetahuan.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.