Wamen PU Ungkap Kebiasaan Sepele Mahasiswa yang Jadi Akar Korupsi

10 Agustus 2026, 14:37 WIB • 2 menit baca
Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti memberikan kuliah tamu peringatan antikorupsi dari mimbar Universitas Diponegoro kepada mahasiswa baru Undip
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., saat memberikan kuliah umum bertajuk “Membangun Generasi Berintegritas” pada Sidang Terbuka Senat Akademik Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus UndipTembalang, Semarang, Jumat (7/8/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Korupsi nyatanya tidak selalu bermula dari skandal besar. Mahasiswa sering tanpa sadar memupuk bibit kejahatan ini lewat kebiasaan sepele saat kuliah, seperti menyontek dan datang telat.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., mengungkap fakta mengejutkan ini ketika ia memberi peringatan tegas kepada 4.950 mahasiswa baru Undip 2026.

Ia menyampaikan pesan penting ini dalam Kuliah Tamu “Membangun Generasi Berintegritas” pada Sidang Senat Akademik Undip di Gedung Serbaguna Muladi Dome, Tembalang, Semarang, Jumat (7/8/2026).

Wamen PU Diana menegaskan, hari pertama kuliah bukan sekadar ajang memulai kelas akademik. Momen ini menjadi titik krusial yang menentukan karakter kepemimpinan masa depan.

Bahaya Sikap Permisif Mahasiswa

Pejabat yang telah berkarier lebih dari tiga dekade pada Kementerian PU ini menyoroti pudarnya budaya antikorupsi akibat kebiasaan membiarkan hal-hal kecil. Menurutnya, mahasiswa yang memilih diam saat melihat kekeliruan justru menumbuhkan bibit kejahatan luar biasa.

“Integritas dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Datang tepat waktu, tidak menyontek, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, berani berkata benar, dan menolak sesuatu yang tidak semestinya, sekecil apa pun itu,” pesan Wamen PU Diana Kusumastuti.

Untuk memutus rantai masalah ini, ia menantang generasi muda agar mereka memanfaatkan teknologi guna memperkuat sistem transparansi publik.

“Teknologi perlu digunakan untuk memperbaiki sistem dan memberi manfaat, bukan justru membuka ruang penyalahgunaan,” tegasnya.

Ancaman Generasi Pintar Tanpa Integritas

Menuju Visi Indonesia Emas 2045, Diana mengingatkan bahwa negara tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur berkelanjutan atau gedung megah. Kemajuan teknologi canggih juga tidak akan memiliki makna tanpa sumber daya manusia yang jujur. Ia menilai kecerdasan akademik semata tidak cukup untuk membawa kemajuan nyata bagi bangsa.

“Pribadi yang pintar tanpa integritas akan menjadi ancaman. Sebaliknya, integritas yang kuat membuat ilmu pengetahuan memberi manfaat sebesar-besarnya,” ujar Wamen PU Diana yang juga sedang menempuh studi doktoral pada kampus Undip ini.

Dorongan Berpikir Besar Rektor Undip

Senada dengan hal itu, Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mendorong mahasiswa agar mereka tidak sekadar mengejar gelar sarjana dan target Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Ia menantang civitas academica untuk berani mencoba dan menciptakan dampak langsung bagi masyarakat luas.

“Berpikir kecil capek, berpikir besar juga capek. Pilih yang besar, pilih yang berdampak besar untuk diri sendiri dan masyarakat,” pesannya.

Sebagai bukti nyata, ia mencontohkan karya teknologi pengolahan air inisiasi Undip. Karya ini kini berhasil membantu warga pesisir utara Jawa saat mereka mengatasi krisis air bersih.

“Sebaik-baik kampus adalah yang paling banyak manfaatnya bagi masyarakat,” pungkas Prof. Suharnomo.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.