Saat Lantunan Opick Buat Penonton Menangis di Pembukaan MTQ Nasional 2026
SEMARANG, Jatengdata.com – Hembusan angin pada Sabtu malam (12/9/2026) di Lapangan Pancasila Simpang Lima, alun-alun utama di pusat Kota Semarang, menjadi saksi bisu jatuhnya ribuan tetes air mata warga. Duduk di atas hamparan rumput hijau, pandangan mereka tak lepas dari panggung utama saat Opick melantunkan syair tentang kematian.
Momen emosional ini seolah menghapus sekat antara tamu undangan di kursi VIP dan masyarakat umum, melebur dalam satu gelombang kesyahduan pada pembukaan MTQ Nasional 2026.
Kemeriahan visual bermula saat barisan penari asal SMAN 4 Semarang menghentak panggung. Sebanyak 16 penari ini membawakan Tari Rato Jaroeh dengan sangat memukau. Gerakan tangan dan tubuh mereka begitu rampak, solid, serta berirama cepat khas tarian pesisir Aceh, memantik detak kagum dari ribuan pasang mata.
Usai hentakan dinamis tersebut, suasana berubah magis menyambut mahakarya Tari Kisah Tanah Jawi. Ratusan penari berbalut aneka ragam busana tradisional Nusantara memenuhi arena panggung.
Di tengah lautan penari itu, muncul sebuah koreografi kuat menampilkan sosok menyerupai wali yang hadir merengkuh masyarakat. Visualisasi ini secara indah menceritakan bagaimana ajaran Islam membumi di Tanah Jawa melalui sentuhan seni dan budaya.
Derai Air Mata Menjelang Tengah Malam
Puncak emosi pada pembukaan MTQ Nasional 2026 terjadi ketika penyanyi religi Opick naik ke pentas tepat pukul 22.15 WIB (cek videonya di sini). Selama lebih dari satu jam, panggung berubah menjadi ruang muhasabah raksasa. Lantunan syair-syair bernuansa ketuhanan menggema menyelimuti jantung Kota Semarang.
Saat lagu “Bila Waktu Telah Berakhir” dilantunkan, suasana syahdu tak terbendung lagi. Ekspresi wajah Opick yang begitu menjiwai lirik tentang dekatnya kematian sukses menyihir ribuan penonton. Banyak warga yang duduk lesehan tampak tertunduk sambil mengusap air mata, meresapi kefanaan hidup tepat sebelum konser berakhir di penghujung malam pada pukul 23.30 WIB. (
Pesona visual dan kedalaman emosi ini meninggalkan kesan yang amat mendalam bagi audiens. Puji, perantau asal Lampung yang telah dua tahun bermukim di Semarang, tak menutupi kekagumannya atas konsep acara tersebut.
“Keren banget. Baru kali ini melihat acara sekeren ini. Sebelumnya belum pernah ada,” kata Puji.
Fida, warga asal Blora, juga mengamini kemegahan panggung malam itu. Ia berharap perhelatan berbalut budaya serupa dapat rutin terselenggara.
“Keren banget. Ke depan sering diadain acara seperti ini,” katanya.
Pesan Kedamaian dari Jawa Tengah
Pemandangan ribuan warga yang memadati area Simpang Lima sejalan dengan visi pemerintah daerah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen sejak awal menginginkan perhelatan ini merangkul semua pihak.
“Alhamdulillah, pembukaan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah berlangsung sangat meriah dan megah. Kita ingin menunjukkan bahwa MTQ bukan hanya milik para kafilah, tetapi juga milik seluruh masyarakat,” ungkap Ahmad Luthfi didampingi Taj Yasin dalam keterangannya kepada media.
Kemegahan gelaran ini membawa satu misi mulia tentang keberagaman. Jawa Tengah berupaya menghadirkan ruang perjumpaan yang inklusif bagi siapa saja.
“Mudah-mudahan dari Jawa Tengah, MTQ Nasional ini tidak hanya sukses penyelenggaraannya, tetapi juga memancarkan kedamaian dan kebersamaan untuk Indonesia,” ungkap Ahmad Luthfi.
Lantunan selawat, harmoni gerak tari Nusantara, hingga tetes air mata yang jatuh malam itu mengukir jejak spiritual di sudut Kota Semarang. Pendekatan seni budaya terbukti menjadi instrumen paling indah untuk menyatukan hati, meneguhkan rasa persaudaraan lintas daerah dalam satu jiwa Indonesia.
Baca juga:
Pecah Rekor MURI! 288 Ribu Orang Meriahkan Pembukaan MTQ Nasional 2026 di Semarang
Jadwal Lengkap MTQ Nasional 2026 di Semarang: Simpang Lima Hingga UIN Walisongo Jadi Pusat Kompetisi
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.