Kejutan Rute Wisata Borobudur, dari Tur Malam Hingga Susur Pantai

4 Juni 2026, 07:15 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi kolase rencana rute wisata Borobudur yang menampilkan kontras siluet wisatawan di Candi Borobudur pada malam hari dengan pencahayaan keemasan, berdampingan dengan potret keluarga menikmati pemandangan wisata alam Gunung Sindoro Sumbing di pagi hari yang cerah.
ILUSTRASI – Desain konseptual rancangan rute wisata Borobudur yang memadukan wacana tur candi di malam hari dengan wisata alam pegunungan Sindoro-Sumbing. Gagasan aglomerasi ini mengemuka dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah guna merumuskan sabuk pariwisata terintegrasi. (Visual: Generasi AI)

TEMANGGUNG, Jatengdata.com – Pemerintah kini tengah menyiapkan gagasan liburan tanpa batas bagi para pelancong. Rencana rute wisata Borobudur lintas daerah ini sangat ambisius. Gagasan ini akan merangkai eksotisnya tur candi di bawah bintang malam. Petualangan alam menuju lereng pegunungan dan pesisir selatan turut melengkapi rute tersebut.

Para kepala daerah menjadikan wacana konektivitas pariwisata ini sebagai bahasan utama. Mereka membahasnya dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu (3/6/2026).

Proyek aglomerasi Keburejo-Gelangmanggung ini memasuki pembahasan intens. Pemerintah merancang sabuk ekonomi yang mengintegrasikan Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Purworejo, Kebumen, dan Temanggung.

Mendobrak Tradisi, Mengadopsi Konsep Global

Pemerintah provinsi bertekad menghapus status Borobudur sebagai destinasi tunggal. Kawasan warisan dunia ini akan bertransformasi menjadi pusat jejaring pariwisata. Rencana rute wisata Borobudur terbaru ini akan langsung menawarkan paket perjalanan ke kawasan penyangga.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan pentingnya merumuskan detail konektivitas antarwilayah. Ia ingin Jawa Tengah mengadopsi sistem pariwisata layaknya di mancanegara.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kedua dari kiri), bersama sejumlah kepala daerah menunjukkan dokumen kesepakatan usai penandatanganan dalam acara Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu (3/6/2026). Forum ini menjadi langkah awal merumuskan wacana aglomerasi pariwisata dan rute wisata Borobudur yang terintegrasi.

“Di Turki, begitu masuk ke sana langsung ditawari destinasi ke beberapa tempat. Semua sudah terkoneksi. Di wilayah eks Karesidenan Kedu juga harus begitu,” kata Ahmad Luthfi.

Ia memastikan konsep awal konektivitas ini bakal menguntungkan seluruh wilayah. Kawasan pegunungan maupun pesisir akan merasakan dampak positifnya.

“Borobudur bisa dirasakan oleh Kebumen, dan pantai-pantai Kebumen yang bagus juga bisa dirasakan oleh Borobudur,” ujarnya.

Wisata Malam Borobudur dan Ratusan Desa Wisata

Pemerintah juga mulai mematangkan ekosistem pendukung melalui pembangunan desa wisata baru. Kelima daerah bersiap meluncurkan 165 desa wisata pada tahun 2027. Temanggung mulai fokus merancang usulan wisata alam Sindoro Sumbing bersama komunitas lokal.

Inovasi paling berani datang dari Kabupaten Magelang. Pemerintah setempat tengah mendorong gagasan pembukaan candi hingga malam hari. Langkah ini menjadi bagian dari pesona wisata malam Borobudur. Rencana lintas sektoral tersebut bertujuan memperpanjang masa tinggal pelancong.

Infografis Jatengdata memaparkan empat poin rencana aglomerasi rute wisata Borobudur: integrasi lima wilayah penyangga, inovasi wisata malam Borobudur, pengembangan 165 desa wisata baru pada 2027, serta konektivitas jalur terpadu dari wisata alam Sindoro Sumbing hingga pantai selatan.
INFOGRAFIS – Peta konsep rencana aglomerasi rute wisata Borobudur yang mengintegrasikan lima wilayah penyangga (Keburejo-Gelangmanggung). Wacana konektivitas ini akan membentang menyatukan wisata sejarah, wisata alam pegunungan, hingga pesisir pantai selatan. (Grafis: Jatengdata)

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, meyakini wacana inovasi ini akan membawa dampak ekonomi langsung. Syaratnya, pemerintah pusat dan pengelola harus memberikan izin operasional.

“Kami berupaya agar Borobudur bisa dibuka malam hari. Dengan begitu potensi okupansi perhotelan di Magelang bisa ikut terangkat,” ujarnya.

Menyatukan Kalender Event dan Menjaga Heritage

Pemerintah mutlak memerlukan sinergi antarwilayah agar tidak terjadi benturan jadwal acara. Seluruh pemerintah kabupaten/kota sepakat menyusun kalender perayaan secara kolektif. Agenda ini merangkum festival pegunungan hingga parade budaya Geopark Kebumen.

Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, mendorong semua pihak segera merumuskan kolaborasi intensif ini. “Kami ingin ada koordinasi dan kolaborasi untuk kalender event agar tidak bentrok. Bila memungkinkan dibuat kalender event bersama yang mencakup seluruh wilayah,” katanya.

Tim perumus segera memanggil pengelola Taman Wisata Candi (TWC) dan perwakilan UNESCO. Mereka akan menyatukan visi eksploitasi ekonomi tanpa merusak nilai pusaka. Pemerintah berharap kolaborasi lintas wilayah ini menjadi lokomotif kebangkitan pariwisata nasional.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.