Wisata Ramah Muslim Jawa Tengah Melesat ke Peringkat 2 Nasional

16 Oktober 2026, 20:23 WIB • 4 menit baca
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen memegang piala penghargaan Provinsi Terbaik Kajian Indonesia Muslim Travel Index 2026 di panggung ISEF 2026 saat wisata ramah muslim Jawa Tengah melesat ke peringkat 2 nasional.
MELESAT KE PERINGKAT 2 NASIONAL – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (mengenakan batik hijau dan peci hitam) memegang trofi penghargaan Provinsi Terbaik Kajian Indonesia Muslim Travel Index 2026 (IMTI 2026) bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana serta jajaran penerima penghargaan pada ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Assembly Hall JICC, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

JAKARTA, Jatengdata.com – Pengembangan wisata ramah muslim Jawa Tengah berhasil melesat dari peringkat kelima menuju peringkat 2 nasional berdasarkan penilaian Indonesia Muslim Travel Index 2026 (IMTI 2026). Capaian ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperluas layanan wisata ramah muslim sekaligus mendongkrak daya saing pariwisata dan ekonomi syariah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima langsung penghargaan tersebut dalam ajang Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit 2026 di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Bank Indonesia tersebut, Taj Yasin Maimoen hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Ia menyatakan bahwa kenaikan peringkat ini memicu semangat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membangun pariwisata berkelanjutan. Pengembangan sektor tersebut kini berjalan terintegrasi dengan layanan ramah muslim serta penguatan ekonomi syariah.

“Alhamdulillah, kali ini kita ada di peringkat kedua. Ini hadiah buat kita semua, buat masyarakat Jawa Tengah yang menyongsong pada tahun 2027. Yaitu pariwisata berkelanjutan, ramah muslim, dan ekonomi syariah,” ujarnya.

Seiring keberhasilan menembus peringkat 2 nasional, tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menyebut pemerintah provinsi tengah menyiapkan peta jalan pengembangan wisata ramah muslim Jawa Tengah. Penyusunan panduan strategis tersebut melibatkan perangkat daerah terkait bersama Bank Indonesia. Langkah ini memfokuskan program pada penguatan fasilitas serta layanan utama bagi wisatawan muslim.

Lebih lanjut, Gus Yasin menjelaskan bahwa penataan ekosistem tersebut mencakup sektor perhotelan, pusat kuliner, hingga fasilitas pendukung di berbagai destinasi wisata. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen memperluas jangkauan layanan ramah muslim agar tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.

“Kita berkolaborasi dengan dengan BI, dengan stakeholder yang ada untuk menciptakan destinasi yang ramah muslim,” katanya.

Perluasan Fasilitas Perhotelan hingga Potensi Pasar Global

Sebagai rujukan nyata, Taj Yasin Maimoen mencontohkan ketersediaan fasilitas hotel dengan kolam renang terpisah di Kabupaten Karanganyar sejak 2024. Menurutnya, para pelaku industri wisata dapat menjadikan inovasi layanan di Karanganyar tersebut sebagai referensi pengembangan di kabupaten dan kota lain.

“Ini perlu kita genjot, kita promosikan supaya nanti bisa berkembang di daerah-daerah yang lain. Bukan hanya di Karanganyar saja, akan tetapi berkembang ke seluruh Jawa Tengah,” jelas wagub Jateng dua periode itu.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua destinasi ramah muslim dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Indonesia mencatatkan skor 79 yang menjadi capaian tertinggi sepanjang keikutsertaannya dalam indeks global tersebut.

“Pencapaian ini semakin menegaskan kesiapan dan daya saing Indonesia,” ujarnya.

Menurut Widiyanti, Indonesia memiliki modal kuat dalam mengembangkan pariwisata ramah muslim. Hal ini karena ketersediaan kuliner halal, tempat ibadah, dan layanan pendukung telah menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kendati demikian, pemerintah tetap perlu meningkatkan mutu layanan serta kemudahan akses informasi. Upaya ini agar wisatawan muslim dunia memilih Indonesia sebagai tujuan utama perjalanan.

“Wisata muslim bukanlah sebuah niche market. Ini adalah salah satu pasar pariwisata global yang sangat menjanjikan,” katanya.

Proyeksi Kunjungan 2030 dan Acuan Daya Saing Daerah

Secara global, Widiyanti memproyeksikan kunjungan internasional wisatawan muslim dunia pada 2030 mampu menembus angka 262 juta kunjungan. Pergerakan wisatawan mancanegara tersebut menyimpan estimasi pengeluaran tahunan sekitar 310 miliar dolar AS.

Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu mengimbangi besarnya potensi ini dengan upaya meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus nilai belanja wisatawan.

Untuk mendorong kualitas destinasi di tingkat provinsi, pemerintah memanfaatkan instrumen penilaian Indonesia Muslim Travel Index 2026. Widiyanti menerangkan bahwa indeks tersebut mengukur kesiapan daerah dalam menyediakan layanan dan pengalaman wisata ramah muslim. Kerangka penilaiannya mengadaptasi standar Global Muslim Travel Index yang meliputi aspek akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

“IMTI 2026 yang diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi wisata ramah muslim,” pungkasnya.

Keberhasilan wisata ramah muslim Jawa Tengah melesat ke peringkat 2 nasional pada Indonesia Muslim Travel Index 2026 ini memperkuat fondasi pariwisata daerah. Melalui kolaborasi lintas sektor yang dikawal Taj Yasin Maimoen, perluasan fasilitas ramah muslim di seluruh kabupaten dan kota siap menggerakkan pertumbuhan ekonomi syariah secara berkelanjutan.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.