Sering Dianggap Wajar, Candaan Model Begini Ternyata Hancurkan Mental Anak Perlahan

27 Agustus 2026, 16:24 WIB • 3 menit baca
Dua mahasiswa KKN UIN Walisongo memberikan edukasi anti bullying secara interaktif menggunakan layar digital kepada siswa SD Babat 1 Demak yang berseragam batik kuning di dalam kelas.
Mahasiswa KKN Sambadha Seva Posko 147 UIN Walisongo Semarang mengajak siswa SD Babat 1 Demak berinteraksi saat sosialisasi edukasi anti bullying di ruang kelas, Rabu (26/8/2026). Pendekatan yang santai ini bertujuan menanamkan pemahaman terkait batas candaan guna mencegah perundungan anak sejak dini.

DEMAK, Jatengdata.com – Banyak orang dewasa kerap memaklumi ejekan antar siswa sebagai candaan biasa. Padahal, tindakan tersebut berpotensi merusak mental anak secara perlahan jika masyarakat terus membiarkannya.

Menyadari besarnya ancaman dari kebiasaan buruk ini, sebuah inisiatif edukasi anti bullying berupaya membongkar batas tipis antara bercanda dan perundungan. Langkah ini sekaligus membekali siswa agar berani melawan tindakan penindasan di sekolah.

Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sambadha Seva Posko 147 UIN Walisongo Semarang merealisasikan langkah nyata pencegahan tersebut. Mereka secara proaktif menggelar sosialisasi interaktif bagi para siswa SD Babat 1, Desa Babat, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, pada Rabu (26/8/2026).

Kegiatan edukasi ini menyoroti fakta krusial bahwa kita tidak bisa menganggap semua candaan sebagai hal wajar. Tim KKN secara lugas mengenalkan berbagai bentuk perundungan kepada anak-anak. Mereka memberi contoh kebiasaan mengejek, memanggil teman dengan sebutan buruk, mengucilkan, hingga tindakan fisik yang menyakiti orang lain.

Pendidik mengategorikan candaan yang membuat seseorang merasa sedih, malu, takut, atau sakit hati secara berulang sebagai bentuk bullying.

Mengenali Batas Perasaan Teman

Anggota Divisi Sosialisasi Lingkungan KKN Sambadha Seva Posko 147, Viki, mengatakan edukasi anti bullying tersebut sangat penting. Tujuannya agar siswa memahami batas antara bercanda dan tindakan yang menyakiti perasaan teman.

“Kadang anak-anak suka bercanda dengan temannya. Tetapi belum tentu temannya merasa senang. Jadi, kita kasih tahu kalau bercanda juga harus melihat perasaan teman. Kalau membuat teman sakit hati, lebih baik jangan dilakukan,” ujar Viki.

Pendekatan santai dan interaktif ini sukses memancing partisipasi para siswa. Mereka aktif menjawab pertanyaan dan menceritakan pengalaman kesehariannya.

Salah seorang siswa SD Babat 1, Azriel, mengaku mendapat pemahaman baru mengenai dampak perundungan setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Seru, tadi jadi tahu kalau mengejek teman terus-terusan itu tidak baik. Kalau ada teman yang sedih, sebaiknya ditolong, bukan malah ikut mengejek,” ujar Azriel.

Berani Tolak Bullying dan Lapor

Selain mengenali ragam bentuk kekerasan verbal maupun fisik, tim KKN membekali siswa dengan panduan tindakan darurat. Pemateri mengajak siswa berani mengatakan “tidak” terhadap bullying. Mereka juga meminta siswa tidak sekadar menjadi penonton saat melihat temannya mengalami penindasan.

Tim KKN turut mengarahkan siswa untuk segera bercerita kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang mereka percaya. Langkah komunikasi ini sangat vital apabila siswa mengalami perundungan atau menghadapi persoalan yang membuat mereka merasa tidak aman.

Mereka memberikan edukasi anti bullying tersebut sebagai wujud nyata penanaman karakter positif sejak dini. Melalui pemahaman yang komprehensif, kesadaran saling menghargai dan keberanian menghentikan penindasan tentu mampu menciptakan lingkungan sekolah yang benar-benar aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa.

Kontributor: KKN UIN Walisongo Posko 147
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.