Meredam Bibit Perundungan Lewat Sentuhan Seni

27 Agustus 2026, 21:55 WIB • 3 menit baca
Mahasiswa KKN UIN Walisongo mendampingi siswa MI NU Candirejo membuat kerajinan kawat bulu sebagai pendekatan kreatif meredam bibit perundungan anak.
Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 29 UIN Walisongo mendampingi para siswa merangkai kawat bulu di halaman MI NU Candirejo, Kamis (20/08/2026). Kelas seni interaktif ini menjadi medium untuk memupuk empati sekaligus meredam bibit perundungan di lingkungan madrasah. (Foto: Tim KKN UIN Walisongo Pokso 29)

CANDIREJO, SEMARANG, Jatengdata.com – Buku pelajaran dan papan tulis bukan satu-satunya sumber ilmu bagi siswa madrasah. Nadhif Azami membuktikannya saat asyik merangkai kawat bulu menjadi karya seni berbentuk buah ceri. Lewat senyum polosnya, bocah kelas 3 sekolah dasar ini menunjukkan bahwa kebahagiaan belajar bisa tercipta dari langkah sederhana yang sekaligus ampuh menekan bibit perundungan sejak dini.

Keceriaan tersebut mewarnai suasana pagi di halaman MI NU Candirejo pada Kamis (20/08/2026). Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 29 menyulap ruang terbuka menjadi kelas seni massal. Mereka membagikan bahan warna-warni untuk merangsang kreativitas siswa di desa tersebut.

Sepanjang pagi itu, tawa renyah dan diskusi interaktif menggantikan ketegangan ruang kelas. Para mahasiswa mengajarkan cara membuat karya secara langsung. Mereka menyusun langkah praktis agar siswa mudah mengikuti instruksi pembuatan kerajinan ini.

Azam memusatkan seluruh perhatiannya pada rakitan tersebut. Jari-jari kecilnya cekatan menekuk kawat merah menjadi bentuk bulatan presisi. Ia menganggap proses perakitan benda ini tidak menyulitkan sama sekali.

Azam kemudian mengungkap makna emosional di balik buah ceri mungil yang baru saja ia selesaikan.

“Gampang. Gantungan kunci, kalau enggak kenang-kenangan,” ucapnya dengan nada bangga saat menjelaskan hasil karyanya.

Menangkal Bibit Perundungan Lewat Ruang Berekspresi

Kepolosan siswa tersebut membuktikan kerajinan tangan memegang peran penting dalam menyatukan emosi anak. Kepala Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Candirejo, Imam Mukhlis S.H.I, menyadari potensi positif dari aktivitas ini. Ia melihat kolaborasi antarsiswa mampu meredam ego mereka secara natural untuk mencegah tumbuhnya bibit perundungan di lingkungan sekolah.

Imam mengaitkan kekompakan siswa dengan strategi menciptakan ruang belajar yang aman. Ia sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang membimbing anak didiknya memupuk empati.

“Harapannya ke depan, MI ini bullying-nya semakin hilang, dan tidak ada lagi bullying di madrasah ini,” ungkap Imam menegaskan visi utamanya.

Lebih dari sekadar mencegah gesekan antarsiswa, Imam juga memproyeksikan lahirnya wirausahawan kecil dari madrasah ini. Ia meyakini kegiatan kerajinan kreatif ini menyimpan dampak yang jauh lebih besar.

“Siapa tahu nanti, inisiatif dari teman-teman KKN ini bisa benar-benar menginspirasi anak-anak kita di MI Ma’arif Candirejo untuk ke depannya menjadi lebih kreatif. Siapa tahu nanti mereka ada yang menjadi produsen atau bisa memproduksi hasil-hasil dari ilmu yang sudah jenengan berikan,” jelasnya.

Merespons dukungan tersebut, tim mahasiswa KKN merancang program ini murni untuk kebebasan berekspresi. Koordinator Desa KKN MIT ke 22 UIN Walisongo Posko 29, Adib Abyan Albari, menjelaskan pendekatan yang mereka gunakan.

“Mengembangkan jiwa seni dan motorik anak tidak harus selalu tegang di dalam kelas; belajar juga bisa dilakukan lewat tawa dan diskusi yang interaktif,” tutur Adib.

Seutas kawat bulu di tangan Azam telah berbicara lebih lantang daripada sekadar teori. Kegiatan seni ini sukses menjadi ruang inkubasi yang membebaskan ekspresi sekaligus menumbuhkan kepedulian antarsiswa. Mahakarya kecil tersebut perlahan membentuk generasi yang berani bermimpi melampaui batas ruang kelas dan mematikan bibit perundungan sebelum sempat berkembang.

Baca juga:

Berkaca dari Kasus Bully Siswa Semarang, Ini Tips Orang Tua Siapkan Anak Kebal Perundungan

Hentikan Ceramah Kaku! Ini Cara Cerdas Ajarkan Area Privasi pada Anak untuk Cegah Bullying

Tangis Penyesalan di Bangku Sekolah: “Ternyata Ejekanku Meninggalkan Luka”

Kontributor: Tim KKN UIN Walisongo Pokso 29
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.