Mengapa Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat Jawa Tengah Rendah?

1 Oktober 2026, 11:05 WIB • 3 menit baca
Sekda Jateng Sumarno berbicara mengenai tingkat konsumsi ikan masyarakat Jawa Tengah bersama Wamenko Pangan dan Wamen KKP berlatar layar presentasi potensi perikanan pada sosialisasi Gemarikan di Semarang.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno (kiri) memaparkan kondisi perikanan daerahnya bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Murofiq (tengah) dan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf (kanan) dalam acara Sosialisasi Peraturan Presiden tentang Gemarikan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (30/9/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Meskipun produksi perikanan menembus satu juta ton per tahun, tingkat konsumsi ikan masyarakat Jawa Tengah ternyata masih sangat rendah. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengungkapkan fakta mengejutkan ini saat menyoroti ketimpangan pasokan dan distribusi ikan segar dari kawasan pesisir ke wilayah tengah Jateng.

Rendahnya konsumsi ikan Jawa Tengah tidak berasal dari masalah harga mahal atau stok pasar yang menipis. Faktor budaya justru menjadi penyebab utama warga Jateng jarang memasukkan ikan ke dalam menu harian mereka.

Masyarakat yang mendiami wilayah tengah Jawa Tengah, seperti kawasan Solo dan Boyolali, memiliki kebiasaan menyantap ragam olahan daging sapi atau ayam. Rantai distribusi ikan segar Jateng yang belum optimal menjangkau daerah pedalaman turut memperparah kondisi ini. Warga di pedalaman seringkali hanya menemukan produk olahan ikan asin atau awetan, bukan ikan segar tangkapan nelayan.

“Yang menjadi problem kenapa konsumsi ikan di Jawa Tengah itu rendah? Karena memang budaya masyarakat Jawa Tengah itu tidak makan ikan. Kuliner kita juga kebanyakan daging,” ujar Sumarno dalam acara Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gemarikan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (30/9/2026).

“Ikan yang ke tengah selalu ikan yang diawetkan, diasinkan. Inilah yang harus kita gerakkan, bagaimana ikan-ikan segar bisa masuk ke tengah Jawa Tengah,” jelasnya.

Ironi Produksi Melimpah yang Lari ke Pasar Ekspor

Sejatinya, Provinsi Jawa Tengah menyimpan potensi perikanan yang sangat melimpah ruah. Para peternak ikan budidaya daerah ini mencatatkan angka produksi mendekati 500 ribu ton setiap tahunnya. Nelayan pesisir juga menghasilkan angka tangkapan fantastis pada kisaran 500 ribu ton.

Sayangnya, total konsumsi ikan masyarakat Jawa Tengah baru menyentuh angka 400 ribu ton. Para pedagang justru mengalirkan sebagian besar komoditas ikan unggulan seperti nila menuju luar daerah atau menembus pasar ekspor ke Jepang dan Eropa.

“Produksi kita sebenarnya bisa memenuhi. Kita konsumsinya baru 400 ribu ton. Banyak yang keluar, karena dari Jawa Tengah banyak yang diekspor, ada ke Jepang, ada ke Eropa,” katanya.

Infografis berjudul Ironi Ikan Jawa Tengah yang membandingkan angka produksi ikan sebesar 1 juta ton dengan tingkat konsumsi yang hanya 400 ribu ton.
Infografis yang menyoroti ironi perikanan di Jawa Tengah, di mana produksi mencapai 1 juta ton dan mampu diekspor hingga ke Jepang dan Eropa, namun angka konsumsi masyarakat lokal hanya di angka 400 ribu ton.

Sinergi Strategis Lewat Program MBG

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini merumuskan langkah strategis untuk membenahi masalah pemenuhan gizi masyarakat Jateng. Mereka siap memanfaatkan berbagai program pemerintah pusat sebagai pintu masuk untuk mengubah pola konsumsi harian warga secara bertahap.

Pemerintah pusat melalui kementerian sektoral juga menaruh perhatian besar terhadap pemerataan gizi masyarakat. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Murofiq, menegaskan bahwa peningkatan konsumsi ikan bukan sekadar urusan pemenuhan perut. Pemerintah bertujuan membangun sumber daya manusia unggul sekaligus mendongkrak kesejahteraan ekonomi nelayan lokal lewat langkah ini.

“Kami berharap Jawa Tengah segera mengambil langkah yang fundamental dalam rangka meningkatkan tingkat konsumsi ikan di masyarakatnya. Karena tingkat konsumsi ikan di Jawa Tengah tidak termasuk yang besar dalam skala nasional,” ujar Hanif.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, turut memastikan pemerintah segera mengintegrasikan agenda Gemarikan 2026 ini dengan program nasional. Pemerintah bersiap memasukkan menu ikan segar ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjangkau masyarakat secara luas dan berkelanjutan.

“Sebagai contoh, hasil ikannya nanti akan diambil oleh MBG. Yang mungkin sebelumnya satu kali seminggu atau satu kali dua minggu, menjadi satu atau dua kali satu minggu,” katanya.

Ikan menyimpan keunggulan luar biasa sebagai sumber protein tinggi yang ramah kantong. Pemerintah meyakini sinergi distribusi ikan segar Jateng dan program Makan Bergizi Gratis ini mampu mendongkrak tingkat konsumsi ikan Jawa Tengah demi mencetak generasi masa depan yang cerdas dan sehat.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.