Jadi Percontohan Nasional Mandatori B50, Traktor Petani Jateng Bersiap Bebas dari Solar Impor

10 Juli 2026, 10:22 WIB • 2 menit baca
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tertawa antusias bersama sejumlah tokoh dalam peluncuran Mandatori B50 di Karawang, Jawa Barat. Kebijakan ini menjadi awal kebebasan traktor petani di Jateng dari belenggu solar impor.
KEMANDIRIAN ENERGI: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama gubernur Jateng dan Jabar tampak antusias saat peluncuran Mandatori B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Kebijakan penghentian impor solar ini akan langsung diimplementasikan pada mesin traktor petani sebagai percontohan di Jawa Tengah. (Foto: Pemprov Jateng)

KARAWANG, Jatengdata.com – Kelompok petani kini berada di garis depan dalam revolusi energi bersih nasional. Pelaksanaan Mandatori B50 sebagai bahan bakar resmi bergulir di Jawa Tengah dengan menjadikan alat dan mesin pertanian seperti traktor sebagai target operasional pertama. Langkah ini siap melepaskan Indonesia dari ketergantungan solar asing sekaligus menghemat triliunan uang negara.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memastikan wilayahnya siap menjalankan instruksi pusat sebagai percontohan nasional. Ia menjadikan sektor alat dan mesin pertanian sebagai target awal penerapan bahan bakar baru ini. Inovasi tersebut menyentuh langsung denyut nadi kehidupan petani lokal di berbagai pelosok daerah.

“B50 kita fokusnya ke alat-alat pertanian. Sekarang itu Kubota sudah menggunakan alat-alat pertanian dengan B50,” ujar Ahmad Luthfi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga merencanakan perluasan jangkauan biosolar ini. Luthfi menargetkan kapal nelayan dan kendaraan umum segera menyusul menenggak bahan bakar ramah lingkungan tersebut. Pemerintah daerah terus berkoordinasi secara ketat dengan Pertamina untuk menjamin kelancaran pasokan.

Hentikan Ketergantungan Impor

Kebijakan strategis ini sebelumnya diluncurkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026) kemarin. Ia menegaskan penerapan Mandatori B50 membawa Indonesia melangkah maju menuju kemandirian energi sejati. Langkah ini melepaskan negara dari jebakan impor solar yang selama ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ini bukan sekadar capaian teknologi, tetapi bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan sumber daya alamnya sendiri untuk kepentingan rakyat,” ujar Prabowo.

Prabowo memuji kolaborasi lintas sektor yang berhasil mewujudkan terobosan bersejarah ini. Ia meyakini program biodiesel sukses menekan emisi karbon hingga 44 juta ton. Prestasi luar biasa ini membuat dunia internasional menaruh perhatian besar pada langkah berani Indonesia.

Hemat Devisa Ratusan Triliun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan dampak ekonomi yang sangat masif. Negara memproyeksikan penghematan devisa menembus angka Rp170 triliun akibat penghentian impor bahan bakar fosil. Dana raksasa ini kini berputar kembali di dalam negeri untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Kebijakan biosolar secara langsung mendongkrak penyerapan minyak kelapa sawit mentah (CPO). Pasar para petani sawit menjadi jauh lebih pasti dan kebal dari fluktuasi harga global. Program ini sekaligus membuka ribuan lapangan kerja baru pada sektor perkebunan dan pengolahan energi.

“Keberhasilan B50 akan menjadi contoh untuk pengembangan bioetanol,” ujar Bahlil Lahadalia.

Pemerintah pusat menargetkan penerapan penuh kebijakan mandatori ini secara nasional rampung dalam dua bulan ke depan. Implementasi secara masif akan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemimpin global dalam transisi energi hijau.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.