Malam Magis di Perang Obor Jepara, Saat Sabetan Api Menjelma Jadi Doa Penolak Bala

26 Mei 2026, 12:42 WIB • 4 menit baca
Sabetan obor daun kelapa yang menghasilkan percikan bunga api dramatis di tengah kegelapan malam saat warga menggelar tradisi Perang Obor Jepara di Desa Tegalsambi.
Pemandangan dramatis percikan api yang membumbung di udara saat warga menggelar tradisi Perang Obor Jepara di Desa Tegalsambi. Atraksi saling hantam obor daun kelapa ini bukan sekadar tontonan, melainkan wujud doa penolak bala yang kini menjadi daya tarik utama Wisata Jepara 2026. (Foto: Humas Pemprov)

JEPARA, Jatengdata.com – Bau asap dan daun kelapa terbakar menusuk tajam di tengah rintik hujan yang mengguyur Desa Tegalsambi. Bagi Petruk dan warga lokal, hawa panas dari kobaran api perang obor Jepara malam itu bukan sekadar tontonan ekstrem. Sabetan menyala di udara justru menjadi wujud nyata warga mewariskan Tradisi Tegalsambi lintas generasi, mengukuhkan ritual ini sebagai doa penolak bala sakral dan magnet abadi wisata Jepara 2026.

Hujan yang sempat turun semalam, Senin (25/5/2026), sama sekali tak mampu memadamkan bara antusiasme massa. Ribuan orang justru semakin merangsek maju, merapatkan barisan di bawah pekatnya langit malam. Mereka menahan napas, menanti momen magis ketika warga mulai menyulut gulungan daun kelapa kering.. Percikan bunga api perlahan membumbung liar ke udara, menerangi wajah-wajah yang tegang sekaligus penuh harap.

Di tengah pusaran lautan manusia itu, Petruk berdiri tegap menantang hawa panas. Pria paruh baya ini bukan sekadar penonton. Darah keberanian telah mengalir deras dalam nadinya selama lebih dari dua dekade. “Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya dengan sorot mata bangga menatap kobaran api.

Hantaman obor yang beterbangan mungkin memicu kengerian bagi pendatang baru. Namun, kebanggaan Petruk malam itu memuncak karena sang putra tercinta telah berdiri di sampingnya, ikut menembus desingan api. “Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya memastikan estafet keberanian keluarganya tetap menyala terang dalam menjaga tradisi Tegalsambi.

Bukan Sekadar Tontonan, Melainkan Doa Keselamatan

Kuning, perempuan yang tumbuh besar bersama riuhnya ritual ini, turut meyakini getaran emosional yang sama.. Ia menyadari betul bahwa pertunjukan saling hantam obor kerap memicu rasa ngeri bagi awam. “Orang luar mungkin melihatnya berbeda. Tapi bagi kami yang lahir di sini, ini tradisi turun-temurun,” katanya menegaskan identitas kampung halamannya.

Infografis 4 fakta magis tradisi Perang Obor Jepara 2026, mulai dari legenda penyembuh abad ke-16 hingga doa komunal penolak bala.
Peta visual empat fakta magis di balik sakralnya tradisi Perang Obor Jepara 2026 sebagai ritual tolak bala dan warisan budaya lintas generasi. (Grafis: Jatengdata.com)

Bagi masyarakat lokal, sabetan api yang menyala justru menjadi simbol pelindung tak kasat mata. Keyakinan magis ini mengakar kuat dari legenda abad ke-16,ketika masyarakat meyakini pukulan api mampu menyembuhkan ternak yang sakit.

Kini, ritual ekstrem tersebut menjelma menjadi doa komunal yang melangit agar Tuhan menjauhkan desa dari petaka.. “Harapannya ke depan semoga lebih bagus lagi dan tetap lestari,” pungkasnya dengan nada bergetar.

Magnet Wisata Jepara 2026 dan Warisan Budaya Takbenda

Menyandang status resmi sebagai warisan budaya takbenda, daya pikat acara sakral ini tak pelak menghipnotis ratusan pengunjung lintas daerah. Jatus, wisatawan asal Batealit, rela menembus kemacetan dan berdesakan memecah rintik hujan demi menyaksikan daya tarik wisata Jepara 2026 paling ikonik ini. “Ramai sekali walaupun hujan,” katanya dengan mata tak berkedip.

Ia merasakan energi kebersamaan malam itu sukses menghangatkan dinginnya angin malam. “Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya bersemangat.

Keunikan festival ini turut memantik kekaguman Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang meresapi dimensi spiritual di balik kasarnya sabetan obor. “Ini bentuk doa kepada Allah SWT agar masyarakat diangkat dari bala dan diberi keselamatan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Wagub menangkap potensi raksasa ritual purba ini untuk mendongkrak denyut ekonomi warga sekitar. “Ini bagian dari menarik masyarakat supaya datang ke sini dan mencicipi makanan khas masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, di balik riuhnya perayaan, sang Wagub menitipkan satu pesan pengingat yang menampar relung hati. “Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” katanya tegas.

Di balik magisnya sabetan bara, perang obor Jepara pada akhirnya adalah cermin murni tentang keteguhan manusia dalam merawat amanah leluhur. Kobaran yang menghangatkan malam di desa ini membuktikan bahwa tradisi Tegalsambi adalah jiwa komunal yang terus hidup tanpa takut terbakar zaman. Selama generasi penerus terus menggenggam kuat estafet obor ini, statusnya sebagai warisan budaya takbenda akan terus abadi, memancarkan cahaya terang bagi pesona wisata Jepara 2026 di mata dunia.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.