Kolaborasi Peneliti Undip dan Skotlandia Kembangkan Teknologi Recovery Lithium untuk Mineral Kritis

28 Agustus 2026, 11:53 WIB • 3 menit baca
Lima peneliti Undip dan University of Aberdeen berjas lab berdiri di sekitar peralatan riset teknologi membran untuk pemulihan lithium. Papan tulis menampilkan diagram teknis di School of Engineering, University of Aberdeen.
Delegasi Undip, termasuk Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto (kedua dari kiri, berbaju dasi) dan Ir. Titik Istirokhatun (kedua dari kanan), berfoto bersama Dr. Amin Sharifi (kanan) dan tim di Center of Processes and Materials, School of Engineering, University of Aberdeen, Skotlandia, saat kolaborasi riset teknologi recovery lithium.

SKOTLANDIA, Jatengdata.com – Kebutuhan global terhadap mineral kritis seperti lithium untuk industri teknologi tinggi dan energi hijau terus melonjak. Merespons tren ini, tim peneliti Universitas Diponegoro (Undip) berkolaborasi dengan University of Aberdeen, Skotlandia, berfokus mengembangkan teknologi membran guna memulihkan (recovery) lithium dari subsurface brines.

Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. dan Ir. Titik Istirokhatun, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU dari Undip, bersama Dr. Amin Sharifi dari University of Aberdeen memimpin riset kolaborasi ini. Proyek strategis tersebut berjalan berkat dukungan pendanaan dari skema International Science Partnerships Fund (ISPF).

“Kami mempelajari bagaimana proses difusi dan adsorpsi berlangsung sehingga dapat dikembangkan material yang semakin selektif dan efektif untuk mengambil unsur yang dibutuhkan,” jelas Prof. Heru.

Tantangan Pemanfaatan Sumber Sekunder

Dunia saat ini sangat bergantung pada komoditas strategis, termasuk lithium, neodimium, dan nikel. Komponen berharga ini menjadi pilar utama produksi ponsel pintar, teknologi pertahanan, hingga baterai kendaraan listrik. Pendekatan ekstraksi dari sumber sekunder, seperti tailing pertambangan dan limbah elektronik, menawarkan alternatif potensial mengingat cadangan mineral primer terus menipis.

“Ke depan kita tidak bisa hanya berpikir mencari sumber mineral baru. Kita juga harus memiliki kemandirian teknologi untuk mengambil kembali unsur berharga dari sumber yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk sumber sekunder. Di sinilah teknologi recovery, membran, dan adsorben menjadi sangat relevan,” ujarnya.

Pengembangan teknologi ini sekaligus merespons isu lingkungan secara langsung. Proses pemisahan konvensional kerap menghasilkan limbah berbahaya. Bahkan terkadang berasosiasi dengan material radioaktif apabila pihak industri salah mengelolanya.

Selektivitas Ion dan Kemandirian Teknologi

Penggunaan teknologi membran menawarkan peluang proses pemisahan unsur yang jauh lebih presisi. Tim peneliti memusatkan kegiatan eksperimen di Laboratorium Membrane Research Center (MeRC) Undip dan Center of Processes and Materials University of Aberdeen untuk merancang material berdaya target tinggi terhadap lithium dari campuran ion kompleks.

“Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan material yang mempunyai kemampuan selektif terhadap lithium di antara berbagai ion lain yang terdapat di dalam sumbernya. Karena itu penelitian ini mempelajari karakteristik membran dan adsorben sekaligus mekanisme difusi serta adsorpsinya,” jelas Titik Istirokhatun, Ph.D.

Ia menegaskan bahwa tim merancang riset ini untuk menghasilkan dampak implementatif. “Pengetahuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan proses pemisahan dan recovery mineral yang lebih efektif, efisien, dan nantinya dapat diterapkan sesuai kebutuhan industri,” katanya.

Infografis kolaborasi Undip dan University of Aberdeen mengembangkan teknologi membran canggih untuk pemulihan lithium sebagai mineral kritis energi h
Infografis ilustrasi kolaborasi riset strategis antara peneliti Undip dan University of Aberdeen dalam mengembangkan teknologi membran untuk mengekstrak mineral kritis lithium. (Grafis: jatengdata.com)

Langkah inovatif ini sejalan dengan strategi pemerintah yang membentuk Badan Industri Mineral (BIM) pada 2025. Inisiatif tersebut bertujuan mempercepat hilirisasi dan memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.

“Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar, tetapi kekuatan kita ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada kepemilikan sumber daya alam. Kita harus memperkuat riset, sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi agar mineral tersebut memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa dan masyarakat dengan teknologi yang kita kuasai bukan yang kita beli,” kata Prof. Heru.

Eksplorasi akademik ini terus berkembang lebih luas. Kunjungan delegasi Undip ke Skotlandia pada 10–14 Agustus 2026 turut mematangkan peluang program double degree bagi mahasiswa magister maupun sarjana.

“Kolaborasi internasional yang kuat idealnya tidak berhenti pada satu proyek penelitian, tetapi berkembang ke pertukaran peneliti, mahasiswa, penelitian bersama, hingga program double degree agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” pungkas Prof. Heru.

Inovasi teknologi ekstraksi ini membuktikan komitmen institusi dalam menghasilkan karya saintifik yang berdampak nyata. Langkah terukur ini mendongkrak penguasaan sains sembari mendorong kemandirian nilai tambah mineral strategis nasional.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.