Push-Up Tiap Malam demi Lolos Program Magang Jepang 2026

6 Juli 2026, 16:29 WIB • 3 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Kepala Disnakertrans Ahmad Aziz meninjau ratusan pemuda peserta seleksi Magang Jepang 2026 di halaman Kantor Disnakertrans Jateng, Semarang.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (kedua dari kiri) didampingi Kepala Disnakertrans Jateng Ahmad Aziz (kiri) memberikan semangat saat meninjau langsung barisan peserta seleksi Program Magang ke Jepang 2026 di halaman Kantor Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Senin (6/7/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Angka-angka matematika dan rasa pegal di sekujur tubuh sudah menjadi teman akrab Bima Sujatmiko selama berbulan-bulan terakhir. Pemuda 18 tahun asal Pemalang ini rela menyiksa fisiknya siang dan malam demi menembus ujian berat, memikul harapan besar agar sang adik tercinta tetap bisa melanjutkan sekolah.

Bima dan ratusan anak muda lainnya menghadirkan pemandangan mengharukan saat mengikuti tahapan seleksi program magang Jepang 2026 di halaman Kantor Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans Jateng) di Kota Semarang, Senin (6/7/2026) pagi.

Peluh perlahan membasahi wajah Bima di tengah padatnya antrean. Ia berdiri tegap, menjaga posturnya tetap sempurna saat menanti giliran seleksi fisik. Berbulan-bulan lamanya, pemuda ini sengaja menukar waktu bermain dengan rutinitas yang menguras tenaga.

Setiap hari, Bima tanpa kompromi memaksa tubuhnya berlari, melakukan push-up, hingga sit-up demi memenuhi kerasnya standar syarat magang ke Jepang. Setelah fisik kelelahan, ia kembali duduk menghadapi tumpukan buku pada malam hari untuk mengasah kemampuan matematika dasar secara mandiri.

Semua rasa sakit dan lelah itu seketika menguap ketika ia mengingat wajah sang adik di kampung halaman. “Untuk meningkatkan ekonomi keluarga agar bisa membiayai sekolah adik,” katanya singkat. Kalimat ini menyiratkan beban besar yang ia pikul di atas bahu mudanya.

Merajut Asa Bersama Ratusan Pendaftar

Tentu saja, Bima tidak berjuang sendirian di medan ujian tersebut. Pagi itu, sebanyak 401 peserta dari total 508 pendaftar memadati lokasi seleksi dengan napas tertahan. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dari berbagai provinsi, mulai dari Jawa Timur, NTB, Banten, hingga Kalimantan Utara.

Keberagaman latar belakang ini membuktikan bahwa program magang ke negeri sakura bukan sekadar bursa kerja rutin. Banyak dari peserta ini memendam asa untuk mengangkat derajat keluarga, memutar roda ekonomi, dan merajut masa depan. Harapan meraih pundi-pundi gaji magang di Jepang kerap kali menjadi jembatan satu-satunya untuk melunasi utang keluarga atau mewujudkan impian pendidikan adik-adik mereka.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir menginspeksi barisan peserta, langsung menangkap gelora semangat dari wajah-wajah tegang tersebut. Ia memandang ratusan pemuda itu sebagai aset berharga yang akan membawa nama bangsa.

“Tenaga kerja Indonesia tidak kalah dengan tenaga kerja negara-negara lain. Etos kerja Indonesia patut diperhitungkan sebagai sumber daya manusia yang kompetitif di internasional,” ujarnya memberikan suntikan moral di tengah cuaca pagi.

Mengukir Karakter Lewat Kegagalan

Luthfi juga sangat menyadari bahwa persaingan dalam seleksi ini amat menguras emosi dan mental. Ia meminta para pemuda tangguh ini tetap membusungkan dada, apa pun hasil akhir dari panitia seleksi nanti.

“Kegagalan adalah suatu keberhasilan yang tertunda. Tidak usah berkecil hati manakala nanti ada yang diterima atau tidak. Saya bangga hari ini kamu telah mencoba,” katanya dengan nada kebapakan.

Senada dengan pesan tersebut, Wakil Direktur IM Japan, Yamauchi Takeshi, menegaskan kembali nilai paling esensial dari program lintas negara ini. Ia mengingatkan bahwa merantau dan bertahan hidup di negeri orang menuntut lebih dari sekadar otot yang kuat, melainkan mental baja.

“Bekerja di Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun, ada sangat banyak hal yang bisa dipelajari,” ujarnya.

Halaman instansi pemerintah pagi tadi bukan sekadar lokasi ujian mencari kerja. Tempat ini menjadi saksi bisu pertaruhan nasib generasi muda.

Bagi Bima dan peserta lainnya, menembus ketatnya seleksi magang Jepang 2026 merupakan langkah krusial. Sebab di balik setiap tetes keringat mereka hari ini, doa tulus orang tua selalu menyertai agar kelak anak-anaknya membawa pulang kehidupan yang lebih bermartabat.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.