Kekeringan Jateng Meluas, Gubernur Ahmad Luthfi Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih

29 Juli 2026, 10:44 WIB • 2 menit baca
Petugas BPBD Purbalingga menyalurkan bantuan air bersih dari truk tangki merah ke dalam puluhan jerigen milik warga yang antre akibat dampak kekeringan Jateng.
PURBALINGGA – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengisi puluhan jerigen warga menggunakan truk tangki air di wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Penyaluran air bersih ini merupakan bagian dari upaya mitigasi pemerintah dalam mengatasi krisis pasokan air akibat meluasnya dampak kekeringan Jateng pada musim kemarau 2026.

SEMARANG, Jatengdata.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) bergerak cepat mengatasi ancaman kekeringan Jateng. Gubernur Ahmad Luthfi menyalurkan 6,8 juta liter bantuan air bersih. Penyaluran ini menyasar 25 kabupaten dan kota yang terdampak kemarau panjang.

Bantuan air bersih tersebut telah menjangkau 61.139 keluarga. Total warga penerima manfaat mencapai 184.643 jiwa. Langkah ini bertujuan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Distribusi bantuan berlangsung lancar hingga 24 Juli 2026.

Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, memberikan laporan rinci terkait situasi ini. Ia menyebut kekeringan Jateng kini melanda 83 kecamatan dan 148 desa. Akibat eskalasi tersebut, 11 pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat.

Stok Air Bersih Dipastikan Aman

“Total air bersih yang kami distribusikan mencapai 6,8 juta liter,” ungkap Bergas. Ia menyampaikan laporan ini secara langsung kepada Gubernur Ahmad Luthfi. Pertemuan strategis tersebut berlangsung pada Senin (27/7/2026).

Sebagian besar pasokan berasal dari APBD tingkat provinsi maupun kabupaten. Volume bantuan dari anggaran daerah mencapai 4,8 juta liter. Selanjutnya, donasi CSR, PMI, dan TNI-Polri menyumbang tambahan sekitar 1,9 juta liter. Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara menerima pasokan air paling besar.

Meskipun penyaluran berjalan masif, Bergas menjamin stok air sangat memadai. Pemerintah telah menyiapkan total 44,9 juta liter cadangan air bersih. Saat ini, sekitar 40 juta liter air masih tersedia.

Oleh karena itu, warga tidak perlu panik menghadapi dampak kekeringan Jateng. “Ketersediaan air maupun anggaran masih mencukupi. Kita hanya perlu mengatur ritme distribusinya,” tegas Bergas.

Antisipasi Kebakaran dan Bantuan Petani

Selain krisis air, BPBD juga menyoroti peningkatan ancaman kebakaran. Musim kemarau sering memicu kejadian nahas tersebut. Selama 5 Juni hingga 19 Juli 2026, petugas mencatat 275 insiden kebakaran di berbagai wilayah.

Insiden ini mencakup 56 kebakaran hutan lahan serta 219 kebakaran bangunan. Kebakaran lahan tebu mendominasi kasus kebakaran area terbuka. Total kerugian materiil akibat rentetan bencana ini mencapai puluhan miliar rupiah.

Melihat situasi ini, Gubernur Ahmad Luthfi menginstruksikan mitigasi secara ketat. Ia meminta para kepala daerah memetakan wilayah rawan secara akurat. Distribusi air juga harus berjalan cepat, efisien, dan tepat sasaran.

“Intinya kebutuhan air bersih masih cukup. Kita tinggal fokus pada eksekusi distribusinya,” ucap Ahmad Luthfi.

Di sisi lain, pemerintah juga memikirkan nasib para petani. Ketersediaan air irigasi menjadi prioritas utama demi menjaga target produksi padi tahun 2026.

Sebagai solusi, Ahmad Luthfi telah meminta bantuan pompa air kepada Menteri Pertanian. Usulan tersebut sudah mendapat persetujuan pusat. Kini, Dinas Pertanian segera mengirimkan perangkat pompa untuk memitigasi hantaman kekeringan Jateng.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.