Tak Perlu Khawatir Gula Darah Naik, Inovasi Beras Rendah Glikemik Ini Aman bagi Penderita Diabetes
SALATIGA, Jatengdata.com – Kabar baik bagi masyarakat luas, khususnya penderita diabetes yang kerap membatasi konsumsi nasi putih. Kini telah hadir inovasi beras pratanak (parboiled rice) berlabel Low Glycemic Index (LGI) bermerek Q-Tha.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK Undip) bersama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) resmi memperkenalkan beras ini di Salatiga pada Senin (5/10/2026).
Beras sehat ini menawarkan solusi pemenuhan karbohidrat yang lebih aman karena tubuh akan memprosesnya lebih lambat. Hal ini mencegah terjadinya lonjakan kadar gula darah secara drastis setelah makan.
Keunggulan Nutrisi dan Tekstur
Rendahnya indeks glikemik pada beras Q-Tha berasal dari proses pengolahannya yang spesifik. Berawal dari gabah yang masih basah (kering panen), petani mencuci dan merendam gabah tersebut selama beberapa jam sebelum mengukusnya (steaming) pada suhu tinggi.
Tahapan pengukusan ini sangat krusial karena memaksa nutrisi super dari kulit padi—seperti vitamin B, zat besi, dan kalsium—meresap langsung ke dalam biji beras (endosperma). Proses pemanasan ini sekaligus melarutkan sisa residu pupuk maupun bahan kimia sintetis pada gabah.
Dari segi kuliner, proses tersebut menghasilkan karakter beras yang padat, terpisah, dan tidak lengket setelah matang. Proses produksi ini juga menonaktifkan enzim pemecah pati, sehingga nasi menjadi lebih tahan lama saat Anda menyimpannya dan tidak menggumpal saat memanaskannya kembali.
Kerek Harga Dasar Gabah Petani
Sementara itu lahirnya inovasi beras sehat ini sendiri berawal dari kelangkaan pupuk yang memicu tingginya biaya produksi. Masalah ini sempat menyulitkan para petani dalam menjaga produktivitas pangan.
Menghadapi krisis tersebut, akademisi Undip dan kelompok tani berkolaborasi mencari jalan keluar. Mereka memutuskan untuk menciptakan produk olahan beras bernilai tambah tinggi. Harapannya, produk ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu menyelamatkan kesejahteraan petani dan menutupi tingginya biaya produksi.
Peningkatan kualitas dan tambahan nilai gizi pada produk hilir ini otomatis membuat harga jual beras menjadi lebih kompetitif di pasaran.
Pembina SPPQT, Bahruddin, menjelaskan bahwa inovasi ini menjadi strategi ampuh untuk mengangkat Harga Eceran Tertinggi (HET) gabah langsung dari tingkat petani.
“Kesetimbangan harga dan kualitas beras ini secara otomatis dapat meningkatkan harga dasar gabah yang sekaligus memberikan solusi petani terhadap biaya produksinya,” papar Bahruddin dalam kegiatan di Rumah Produksi Kelompok Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) Salatiga.
Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Lanjutan
Adapun kehadiran produk beras Q-Tha merupakan hasil riset dan pendampingan berkelanjutan dari FPIK Undip yang telah berjalan sejak tahun 2025. Pendampingan ini mencakup uji kelayakan usaha hingga penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) untuk menjamin standar keamanan pangan.
Ketua Tim Pengabdian FPIK Undip, Prof. Dr. Ir. Nur Taufiq-Spj, M.App.Sc., menjelaskan bahwa program ini adalah bentuk komitmen kampus dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
“Program pengabdian FPIK Undip berkomitmen mendukung lahirnya inovasi pangan berbasis riset yang berdampak langsung pada masyarakat. Melalui pendampingan di Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, kami mendorong penerapan teknologi beras parboiled dengan Low Glycemic Index (LGI) agar mampu menghasilkan beras sehat bernutrisi tinggi, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi para petani binaan secara berkelanjutan,” ungkap Prof Taufiq.
Inisiatif yang sejalan dengan prinsip green and blue farming ini juga telah menarik perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka melakukan penjajakan kerja sama pada 2 Oktober 2026. Guna memastikan keberlanjutan produksinya, FPIK Undip dan SPPQT sepakat mendirikan holding company PT Agro Tekno Lestari pada 3 Oktober 2026.
“Selanjutnya, pengabdian FPIK Undip ke depan dapat benar benar memberikan makna bagi masyarakat baik dari sisi pendampingan sebagai mitra aktif, perbaikan ekonomi beneficiaries (petani/nelayan) dan keberpihakan yang adil antara produsen dan konsumen. Oleh karenanya, keselarasan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) dapat benar benar sebagai perencanaan akademis yang melegakan semua pihak. Dan tentu dapat menambah lapangan pekerjaan yang layak, sekaligus mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan,” pungkasnya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.