Ilmuwan Undip Masuk Top 50 Dunia, Bikin Radiasi CT Scan Lebih Aman
SEMARANG, Jatengdata.com – Inovasi memangkas bahaya radiasi CT scan telah berhasil membawa nama Indonesia ke jajaran elite global. Baru-baru ini, lembaga pemeringkat ScholarGPS merilis data, anak bangsa Dr. Choirul Anam sukses menempati posisi ke-48 dunia di bidang tersebut. Terobosannya terbukti efektif melindungi pasien anak dan dewasa.
Pemeringkatan ScholarGPS terbaru ini sebenarnya bersifat lintas disiplin ilmu. Daftar ini merangkum peneliti dari berbagai penjuru dunia yang meliputi ranah radiologi, onkologi, teknik biomedis, hingga fisika.
Di kancah elite inilah, Dr. Choirul Anam mencetak prestasi gemilang. Akademisi Departemen Fisika Undip ini berhasil menempati peringkat ke-48 dunia dalam bidang computed tomography (CT scan).
Pencapaian Dr. Anam terbilang merupakan sebuah lompatan yang sangat cepat. Pada laporan tahun sebelumnya, ia masih berada di posisi ke-99 dunia. Kenaikan drastis ini otomastis mengangkat nama Indonesia di panggung sains. Kini, Dr. Anam berdiri sejajar dengan para maestro teknologi pencitraan medis.
Bersanding dengan Maestro Medis Global
Berada di posisi ke-48 dunia membuat Dr. Anam bersanding dengan nama-nama besar seperti Prof. Cynthia McCollough dari Mayo Clinic Amerika Serikat, Prof. Joël Greffier dari Prancis. Ia sejajar pula dengan Prof. John Damilakis (Yunani) dan Prof. Madam Rehani (Amerika Serikat).
Menjadi wakil Indonesia di level tersebur jelas merupakan sebuah pembuktian, bahwa kualitas riset anak bangsa terbukti mampu bersaing tangguh dengan institusi raksasa dunia.
Solusi Nyata Keselamatan Pasien
Fokus utama riset inovator dari Semarang ini menyasar keselamatan masyarakat. Dr. Anam mengembangkan perangkat lunak khusus untuk mengotomatisasi dosimetri radiasi. Tujuannya adalah mengoptimalkan kualitas citra klinis pada mesin CT scan.
Alhasil, dengan teknologi tersebut dokter spesialis kini bisa mendeteksi penyakit secara akurat. Keberhasilan ini terjadi karena adanya visualisasi organ internal yang sangat tajam. Lebih dari itu, inovasi ini sukses menekan bahaya radiasi secara drastis sehingga kualitas diagnosis tetap terjaga tanpa memicu risiko tinggi.
Kini, pasien tidak perlu lagi khawatir saat wajib menjalani pemeriksaan medis berulang. Selain itu, teknologi tersebut berkinerja krusial dalam melindungi kelompok rentan. Khususnya, pasien anak-anak kini jauh lebih aman dari risiko paparan radiasi jangka panjang.

Katalisator Menuju World Class University
Keberhasilan inovasi kesehatan ini tak pelak membawa kebanggaan besar bagi kampus Undip di kancah pendidikan global. Terlebih lagi, universitas berusia 69 tahun ini tengah mempercepat langkah menuju 500 besar World Class University (WCU). Dalam kompetisi tersebut, indikator reputasi akademik dan sitasi riset memegang peranan sangat krusial.
Pihak manajemen universitas lantas memberikan apresiasi setinggi-tingginya. “Prestasi Dr. Anam menjadi katalisator penting bagi civitas akademika Undip lainnya,” ujar perwakilan manajemen universitas.
Karya monumental tersebut sekaligus menjadi bukti nyata kehebatan riset lokal. “Dari laboratorium di Semarang, kita bisa melahirkan riset berdampak. Karya ini diakui dan digunakan komunitas medis internasional,” tambahnya.
Dari tren positif inovasi riset pemangkasan bahaya radiasi CT scan ini, Undip optimis dapat terus meningkatkan kontribusi ilmiahnya di tingkat global. Hal tersebut sekaligus juga untuk menginspirasi generasi peneliti muda Indonesia agar tidak ragu bermimpi dan berkarya di level tertinggi internasional.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.