Hentikan Kawin Sedarah Sapi, Peternak Senggi dan Undip Bangun Mini Ranch di Keerom, Papua

27 September 2026, 12:23 WIB • 3 menit baca
Sekelompok peternak dan mahasiswa Undip membentangkan meteran untuk mengukur lahan berumput yang akan dijadikan kandang komunal guna mencegah inbreeding sapi.
Peternak perintis kawasan Senggi bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Undip tengah melakukan pengukuran lahan demplot kandang komunal. Upaya ini merupakan langkah awal pembangunan mini ranch untuk mengatasi masalah inbreeding sapi di Kabupaten Keerom, Papua.

KEEROM, PAPUA, Jatengdata.com – Penurunan kualitas fisik ternak akibat praktik kawin sedarah (inbreeding) dan minimnya nutrisi pakan mendorong lima peternak di Satuan Pemukiman (SP) 2 Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, mengambil tindakan nyata.

Melalui kolaborasi bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip), warga merintis kandang komunal berkonsep mini ranch untuk menyelamatkan dan memperbaiki mutu genetik sapi di perbatasan timur Indonesia tersebut.

Ancaman Krisis Genetika dan Pakan

Potensi peternakan di Kawasan Transmigrasi Senggi selama ini menghadapi dua tantangan utama di lapangan. Kendala paling utama terbatasnya sirkulasi genetik ternak memicu maraknya praktik kawin sedarah atau inbreeding sapi. Lebih parahnya lagi, buruknya kualitas Hijauan Pakan Ternak (HPT) turut memperburuk kondisi ini. Akibat rentetan masalah tersebut, pertumbuhan sapi melambat dan ukuran tubuhnya mengecil dari standar genetik ideal.

Merespons krisis genting ini, TEP Undip Tim 3 pimpinan Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM., merancang solusi teknis terpadu. Tepatnya pada akhir Agustus lalu, tim akademisi menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Dalam forum tersebut, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan lebih dari 30 peternak menyepakati program perbaikan mutu. Mereka merumuskan metode Inseminasi Buatan (IB) serta penataan ternak terpusat sebagai jalan keluar terbaik.

Munculnya Lima Peternak Perintis

Beranjak dari kesepakatan itu, hasil pemetaan lapangan memunculkan lima peternak yang tampil mengambil inisiatif perubahan. Hariyanto, Ikhsanudin, Hatta, Bambang, dan Bayu maju sebagai garda terdepan dalam inisiatif ini mengatasi masalah inbreeding sapi ini. Selanjutnya, tim Undip mengukuhkan kelima warga ini sebagai local champions sekaligus motor penggerak kelompok PATRIOT PERINTIS (Peternak Indonesia Timur Senggi).

“Kita semua diuntungkan. Lima orang inilah yang akan menjadi awal untuk belajar dan berkembang bersama, baik dari sisi ilmu maupun teknologi peternakan. Mari kita kerja bersama,” kata Hariyanto, peternak yang menjabat sebagai koordinator subsektor peternakan tersebut.

Sejalan dengan semangat komunal itu, Anggota TEP Undip Tim 3, Slyses Merryl, menegaskan bahwa kemauan kuat warga menjadi penentu utama kelancaran program ini.

“Kami melihat ada beberapa peternak yang memiliki kemauan untuk maju dan mengambil peran sejak tim kami melakukan survei awal. Mereka inilah yang kemudian kami dorong menjadi local champions, bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi juga menjadi penggerak bagi peternak lainnya,” ujar Slyses.

Konsep Mini Ranch Terintegrasi

Untuk menyiasati kendala pakan dan manajemen ternak yang rumit, warga dan tim Undip langsung memetakan lahan percontohan (demplot) kandang komunal. Di lokasi tersebut, mereka menerapkan sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA). Melalui konsep cerdas ini, peternak mengintegrasikan pemeliharaan sapi dengan budidaya pakan, pengolahan limbah menjadi kompos, dan pemanfaatan biochar.

Sementara itu, dalam dua pekan ke depan, warga memfokuskan kegiatan pada pembersihan lahan serta penyiapan bibit pakan. Tidak hanya asal menanam, tim ahli secara khusus menyesuaikan jenis rumput dengan hasil uji laboratorium terhadap sampel hijauan lokal Senggi.

“Harapan kami, Senggi dapat berkembang menjadi salah satu sentra bibit sapi di Kabupaten Keerom. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan peternak yang berani menjadi perintis, penggerak, yang luar biasa. Inilah semangat yang kami bawa melalui PATRIOT. Lima peternak ini adalah langkah awal untuk menggerakkan lebih banyak peternak agar maju bersama,” papar Daud Samsudewa.

Akhirnya, sinergi konkret di pedalaman Papua ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Sebab, upaya warga memperbaiki kualitas ternak sangat sejalan dengan misi pengentasan kemiskinan (SDG 1), penanggulangan kelaparan melalui perbaikan nutrisi (SDG 2), serta penguatan kemitraan lintas sektor (SDG 17).

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.