Dimsum Kelor Lele, Makanan Tambahan Pemberantas Stunting Inovasi Mahasiswa Undip
SEMARANG, Jatengdata.com – Inovasi kuliner unik berupa ‘Dimsum Kelor Lele’ hadir sebagai alternatif baru Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk memberantas stunting. Arya Fatikh Izzan Juweri, mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip), mengembangkan menu praktis berbahan lokal ini guna memastikan anak-anak dan masyarakat lebih menyukai pangan bergizi.
Arya sengaja memanfaatkan daun kelor dan ikan lele sebagai bahan dasar inovasinya. Masyarakat sangat mudah menemukan kedua bahan pangan tersebut di lingkungan sekitar. Apalagi keduanya memiliki kekayaan nutrisi makro dan mikro.
Ia kemudian memodifikasi bahan tersebut menjadi bentuk dimsum. Ia melakukan ini agar sajian gizi tampil lebih menarik secara visual. Anak-anak pasti lebih semangat mengonsumsi makanan dengan bentuk yang apik. Langkah ini juga memudahkan masyarakat saat menyantapnya.
Inovasi tersebut berupaya mematahkan stigma lama. Banyak pihak menganggap masyarakat sulit membuat makanan sehat. Mereka juga sering menilai menu pencegah stunting kurang menggugah selera.
“Pencegahan stunting tidak cukup hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana pangan bergizi bisa diterima dan disukai masyarakat,” ungkapnya.
Berawal dari Program Kesetaraan Akses
Inovasi Dimsum Kelor Lele merupakan salah satu pilar program SENANDUNG ASA. Arya menggagas program ini dengan dedikasi tinggi. Melalui aksi nyata tersebut, Arya berhasil merebut Juara 1 Putra Duta GenRe Indonesia 2026.
BKKBN menyerahkan penghargaan tingkat nasional itu dalam Puncak Ajang Kreativitas GenRe Nasional (ADUJAKNAS). Acara ini berlangsung di Kantor BKKBN, Jakarta, Selasa (22/9).
Selain berfokus pada pemenuhan gizi, Arya juga merancang prototipe pelatihan motorik bagi remaja disabilitas. Ia merancang media latihan tersebut secara khusus. Tujuan utamanya meningkatkan kemandirian kelompok difabel dalam beraktivitas sehari-hari, seperti makan, menulis, dan menyikat gigi. Arya turut menyertakan sistem pendampingan bertahap ke dalam program ini.
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika alat itu digunakan, tetapi ketika seorang anak yang sebelumnya membutuhkan bantuan mulai berkata, ‘Aku bisa sendiri,’” ujar Arya kepada FK Undip, Kamis (24/9).
Dorong Kebijakan dan Replikasi Nasional
Selain menelurkan inovasi produk, Arya bersama timnya turut menyusun rekomendasi kebijakan publik. Mereka telah menghimpun sekitar 1.300 aspirasi remaja. Aspirasi ini membahas isu penguatan Youth Center, pencegahan perkawinan anak, hingga peran ayah. Tim ini lantas mendorong aspirasi tersebut kepada pemerintah daerah dan DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Arya menyebut keberhasilannya memetakan masalah sosial terwujud berkat pendekatan Belajar Bertolak dari Masalah (BBDM). Ia memperoleh metode ini selama berkuliah di Fakultas Kedokteran Undip. Metode tersebut melatih mahasiswa untuk menganalisis penyebab utama suatu masalah. Mahasiswa kemudian merumuskan solusi yang berpijak pada data lapangan.
“Cara berpikir itu sangat membantu saya ketika merancang program SENANDUNG ASA, melihat masalah terlebih dahulu, mendengar masyarakat, lalu menciptakan solusi yang bisa diterapkan,” jelas Arya.
Ke depan, Arya berharap masyarakat dan pemerintah daerah lain segera mereplikasi inovasi Dimsum Kelor Lele. Ia juga ingin instansi terkait mengadopsi alat bantu disabilitas ciptaannya. Gelar Juara Nasional ini menjadi momentum emas baginya. Ia berencana memperluas jangkauan kebermanfaatan tersebut secara masif.
“Saya ingin SENANDUNG ASA tidak berhenti di Jawa Tengah. Saya ingin kebermanfaatan itu tumbuh dari satu provinsi, lalu menjangkau Indonesia,” ujarnya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.