Humor Ala Menteri Abdul Muti, Ketika “Air Doa” Sang Pejabat Justru Bikin Sakit
SEMARANG, Jatengdata.com – Siapa sangka, perbincangan soal orang sakit bisa memancing gelak tawa ratusan jemaah di tengah acara yang biasanya berlangsung serius. Alih-alih menyanggupi permintaan merapal doa penyembuh layaknya tabib sakti, Menteri Abdul Muti, yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, justru blak-blakan menolak jika diminta ‘menyembur’ air putih. Bayangkan saja, dengan senyum usilnya, ia malah membayangkan jutaan bakteri dari mulutnya yang siap berpindah dan memperparah kondisi pasien.
Momen kocak di sela-sela pengajian pimpinan Muhammadiyah Semarang ini bukan sekadar humor kosong, melainkan sentilan manis agar umat tak lagi lugu dan meminggirkan akal sehat dalam beragama.
Gedung Harmoni Muhammadiyah Kedungmundu bergemuruh oleh tawa pada Sabtu (13/6/2026) siang kemarin. Suasana mendadak cair saat sang Sekretaris Umum PP Muhammadiyah melontarkan humor cerdasnya dari atas mimbar. Kapasitasnya sebagai ulama sekaligus tokoh pendidikan nasional membuat pesan yang disampaikan terasa begitu berbobot namun membumi.
Ia menggeser perlahan pemahaman jemaah dari sekadar pasrah pada doa menuju pentingnya tindakan nyata. Melalui narasi jenaka, Menteri Abdul Muti menyoroti fenomena pengobatan spiritual yang sering kali melupakan ketajaman logika medis.
Ia mengajak audiens merenungkan kembali esensi teologi Al Maun yang menuntut aksi konkret kemanusiaan. Sifat Allah Yang Maha Menyembuhkan, menurutnya, menuntut manusia untuk aktif meracik obat dan mengembangkan ilmu kedokteran. Oleh karena itu, gerakan persyarikatan selalu berupaya melahirkan ahli farmasi dan membangun RS Muhammadiyah yang modern.
Pria asal Kudus itu kemudian memberikan perbandingan menggelitik antara mukjizat kenabian dan kondisi fisik manusia biasa. “Kalau nabi yang mendoakan air lalu meminumkannya ke orang sakit, itu bisa sembuh karena syafaat,” selorohnya memancing senyum jemaah. “Tapi kalau Abdul Mu’ti yang melakukan, malah tambah parah penyakitnya karena banyak bakteri dari saya.”
Kalimat satire tersebut menyadarkan audiens bahwa sakralisasi praktik beragama tanpa dasar sains justru bisa membahayakan keselamatan. Lebih jauh, Abdul Muti menyayangkan sikap sebagian umat yang masih menganggap ibadah pasif sudah cukup menebus kewajiban sosial. Ia menuntut setiap kader menerjemahkan teks keimanan menjadi solusi rasional atas penderitaan sesama manusia.
Mengubah Teks Suci Menjadi Aksi Bernyawa
Perubahan cara pandang ini berakar kuat dari sejarah panjang gerakan tajdid (pembaharuan). Menteri Abdul Muti mengingatkan kembali warisan pemikiran pendiri persyarikatan tentang besarnya tanggung jawab sosial umat. Ia menatap tajam ke arah peserta pleno, menegaskan bahwa rutinitas membaca kitab suci tanpa implementasi tidak akan menyembuhkan luka masyarakat yang sedang kesulitan.
“Kiai Ahmad Dahlan dulu mengajarkan bahwa membaca Al-Ma’un saja belum menjadi pengamalan yang kaffah,” tuturnya dengan nada suara yang meyakinkan. “Al-Qur’an itu bukan sekadar guidance for living, melainkan harus kita jadikan sebagai petunjuk yang hidup atau living guide.”
Humor cerdas Menteri Abdul Muti ini meninggalkan jejak perenungan yang sangat dalam. Bahwa, mengamalkan teologi Al Maun di era modern bukan lagi sebatas duduk manis dan mengharap mukjizat turun dari langit. Namun kesalehan sejati justru teruji ketika umat berani turun tangan, membangun fasilitas kesehatan seperti RS Muhammadiyah yang canggih, dan meracik obat bagi mereka yang merintih.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.