Bukan Angkat Senjata, 555 Ribu Santri Jateng Siap Perangi Kemiskinan Daerah

22 Oktober 2026, 10:39 WIB • 2 menit baca
Barisan santri putra dan putri berdiri rapi mengikuti rangkaian Upacara Hari Santri 2026 berlatar spanduk raksasa di Kota Tegal.
PERINGATAN HARI SANTRI – Barisan santri putra dan putri berbaris rapi saat mengikuti Upacara Hari Santri Nasional 2026 berlatar spanduk raksasa bertuliskan "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" di Kota Tegal, Kamis (22/10/2026). Dalam momentum perayaan Hari Santri 2026 tingkat provinsi ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak 555 ribu santri se-Jateng turun tangan memerangi kemiskinan daerah. (Foto: Dok. Istimewa/Jatengdata.com)

KOTA TEGAL, Jatengdata.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menggerakkan sekitar 555 ribu santri guna meneruskan semangat juang Resolusi Jihad. Ia mengajak kalangan pesantren memerangi kemiskinan dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat, bukan lagi memanggul senjata melawan penjajah.

Ahmad Luthfi menyerukan pesan heroik tersebut saat memimpin Upacara Peringatan Hari Santri 2026 tingkat provinsi di Jalan Pancasila, Kota Tegal, Kamis (22/10/2026).

Sang gubernur mengingatkan bahwa esensi Resolusi Jihad cetusan KH Hasyim Asy’ari harus terus menyala, meskipun tantangan zaman telah berganti rupa. Pada masa kini, para santri memikul tanggung jawab besar menyelesaikan persoalan sosial dan ekonomi masyarakat daerah.

“Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan,” ujarnya.

Target Pengentasan Kemiskinan

Selanjutnya, Luthfi membeberkan kondisi menantang Provinsi Jawa Tengah yang saat ini mencatat angka kemiskinan sebesar 9,21 persen. Pemerintah provinsi mematok target ambisius guna mengentaskan satu juta warga dari jurang kemiskinan, seiring pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 5,76 persen merujuk data mutakhir Badan Pusat Statistik (BPS).

Merespons tantangan tersebut bertepatan dengan momen Hari Santri 2026, Luthfi mendorong pesantren bertransformasi menjadi pusat inkubasi wirausaha. Ia meminta para santri mengasah keterampilan bisnis dan kewirausahaan, tidak sekadar menguasai ilmu agama.

Visi besar ini selaras dengan program Pesantren Obah garapan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah komando Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

“Provinsi Jawa Tengah telah memberikan beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak. Kita juga memberikan beasiswa kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan negara lainnya, sebanyak 58 santri,” kata Luthfi.

Di samping itu, pemerintah provinsi menyiapkan insentif guru agama pada 2025 bagi 230.830 penerima dengan total alokasi anggaran mencapai Rp 277 miliar.

Khusus di Kota Tegal, Pemprov Jateng turut menyerahkan bantuan renovasi masing-masing senilai Rp 25 juta bagi Ponpes Al Munawarroh Margadana, Nurul Ma’arif, Insan Tebuireng, dan Mambaul Ulum. Selain itu, pemerintah mengucurkan insentif kepada 1.390 pengajar keagamaan senilai total Rp 834 juta beserta 300 paket sembako.

Peran Santri Sebagai Penyejuk Masyarakat

Lebih jauh, Luthfi menaruh harapan agar kalangan pesantren ikut mendinginkan suasana dan menjaga ketertiban masyarakat, terutama saat tensi geopolitik sedang memanas. Ia menilai stabilitas wilayah memegang peran krusial sebagai fondasi mutlak pembangunan daerah.

“Potensi ini harus kita kelola dan kita gandeng untuk menjadi cooling system, atau penyejuk di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada akhirnya, Luthfi menegaskan bahwa medan juang santri milenial berada pada ranah penyelesaian persoalan nyata masyarakat.

“Para santri harus mempunyai kebanggaan dalam dirinya untuk ikut membangun bangsa,” tandasnya.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.