Awas Kebiasaan Baik Anak Runtuh Saat Libur Sekolah! Lakukan 3 Hal Ini Usai Pembagian Rapor

19 Juni 2026, 13:52 WIB • 3 menit baca
Seorang ayah berkemeja batik dan anak laki-laki berseragam sekolah sedang fokus membaca rapor siswa bersama di sofa ruang tamu
Momen kebersamaan seorang ayah dan anaknya yang sedang fokus membaca rapor sekolah di ruang tamu rumah mereka. Foto ini mengilustrasikan peran penting orang tua dalam mendukung pendidikan anak.

SEMARANG, Jatengdata.com – Pembiasaan ibadah dan kedisiplinan anak yang dibangun susah payah selama enam bulan terancam hancur hanya dalam hitungan minggu selama libur panjang. Praktisi pendidikan sekaligus Kepala SD Muhammadiyah 12 Semarang, Muhammad Burhan Khaerudin, melontarkan peringatan tajam ini bertepatan dengan momentum krusial pembagian rapor pekan ini.

Banyak wali murid sering kali memfokuskan perhatian untuk menanyakan peringkat kelas saat mengambil hasil belajar anak. Padahal, esensi sejati dari pertemuan tatap muka tersebut adalah menyamakan frekuensi antara guru dan orang tua sebelum masa libur sekolah tiba.

Pihak sekolah menilai banyak orang kerap menyalahartikan liburan sebagai masa bebas dari segala aturan. Kondisi ini secara otomatis memicu kelonggaran luar biasa dalam menjaga ritme ibadah anak dan perilaku sehari-hari di rumah.

“Di sekolah, mereka beribadah karena sistem dan lingkungan pendukung. Di rumah dan di masyarakatlah, realitas menguji kualitas iman dan kemandirian ibadah mereka secara nyata tanpa sekat ruang kelas,” ujar Burhan mengingatkan para orang tua, Jumat (19/6/2026).

Liburan Sebagai Ujian Nyata Karakter Anak

Masa libur sekolah pasca pembagian rapor sejatinya adalah ujian otentik yang sebenarnya bagi kualitas anak. Di sekolah Islam khususnya, guru telah memupuk pembiasaan salat tepat waktu, salat dhuha, hafalan Al-Qur’an, hingga kesantunan bertutur kata secara ketat. Namun, seluruh pondasi karakter anak tersebut bisa runtuh jika orang tua abai mengambil alih tongkat estafet pengawasan.

Merespons ancaman tersebut, sekolah perlu mentransformasikan pembagian rapor menjadi ruang pembekalan strategis. Guru tidak sekadar menyerahkan deretan angka, tetapi membekali orang tua dengan tiga strategi pengasuhan konkret yang anti-tekanan.

Strategi pertama berpusat pada konsistensi pendekatan hati. Sekolah menyarankan orang tua mengajak anak beribadah melalui komunikasi yang menyentuh, serta menghindari bentakan yang justru memicu sikap antipati. Selanjutnya, orang tua perlu memanfaatkan media kontrol positif seperti mutaba’ah yaumiyah (evaluasi ibadah harian) sebagai jangkar spiritual harian anak.

Langkah ketiga sekaligus yang paling krusial menyoroti keteladanan orang tua di rumah. Guru terbaik selama liburan adalah ayah dan ibu mereka sendiri, kata Burhan.

Kita bisa memastikan anak tidak akan rajin mengaji jika orang tuanya menghabiskan waktu luang hanya dengan menggenggam gawai. Kesalehan anak selama berada di rumah adalah cerminan langsung dari atmosfer yang orang tua ciptakan.

“Angka-angka di dalam rapor tidak boleh menjadi label tetap, melainkan sekadar peta penunjuk jalan. Liburan sesungguhnya adalah momentum emas orang tua menjadi arsitek karakter di rumah,” tegas Burhan menutup penjelasannya.

Momentum pembagian rapor harus menyadarkan masyarakat bahwa pendidikan adalah kemitraan yang berkelanjutan. Kesiapan orang tua mengawal masa libur sekolah akan menentukan apakah anak-anak mampu bertahan sebagai generasi yang mandiri dalam beribadah atau tidak.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.