Demi Air Anak Cucu, Aisyiyah Jateng Lakukan Aksi Penanaman Pohon di Tawangmangu
KARANGANYAR, Jatengdata.com – Dengan jemari berlumur tanah, sekelompok perempuan paruh baya cekatan menanam bibit pohon di tepi aliran Jumog Putri, Tawangmangu. Di tengah sejuknya lereng Gunung Lawu, mereka antusias melakukan aksi penanaman pohon. Langkah ini adalah ikhtiar menyelamatkan anak cucu dari ancaman kekeringan akibat perubahan iklim.
Mengenakan rompi hijau terang di atas pakaian batik, para relawan Aisyiyah Jateng rela turun ke tanah berlumpur. Alih-alih berdiskusi di dalam ruangan, mereka memilih berpeluh menata ban bekas di tepian air. Upaya ini penting untuk mencegah longsor. Langkah tersebut menjadi wujud nyata kepedulian terhadap konservasi air Jumog Putri.
Sambil melempar senyum, tangan tangguh para perempuan ini memindahkan bibit hijau ke dalam tanah. Mereka menyadari ancaman perubahan iklim kian mendesak. Karena itu, aksi penanaman pohon ini tak lagi sekadar teori. Ini murni gerakan akar rumput relawan Aisyiyah Jateng demi menjaga air bersih bagi generasi mendatang.
Menjaga Nafas Bumi dari Ancaman Perubahan Iklim
Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Lilik Tri P., berdiri di antara barisan relawan. Ia memandangi hamparan tebing yang mulai menghijau. Pandangannya teduh namun tegas khas pejuang lingkungan.
Ia paham betul esensi merawat setiap jengkal tanah dalam aksi penanaman pohon ini. Baginya, langkah ini adalah wujud dakwah nyata. Tujuannya menjaga kelestarian alam sekaligus menghadapi ancaman perubahan iklim.
“Di jambore ini kita menanam pohon. Meski belum musimnya, insyaallah tanaman ini akan dirawat dengan baik. Pemangku tempat di Jumog Putri, Blumbang, Tawangmangu siap menjaga,” ujarnya optimis.
Aksi penanaman 1.000 bibit pohon ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Jambore Dakwah Kemanusiaan PWA Jawa Tengah di Tawangmangu, Karanganyar, 25-26 Juni kemarin.
Pilihan lokasi ini bukan tanpa alasan atau sekadar mengejar estetika. Lilik menjelaskan, kawasan Jumog Putri memiliki sumber air memadai. Peluang bibit tumbuh jauh lebih besar demi suksesnya konservasi air Jumog Putri. Komitmen relawan Aisyiyah Jateng ini bahkan melampaui seremoni sesaat. Timnya sudah merancang sistem pengawasan ketat ke depan.
“Kita nanti juga akan mengadakan kegiatan monitoring terhadap tumbuh dan tidaknya tanaman itu. Insyaallah dengan tanaman ini kita akan melestarikan dan menjaga alam dengan baik,” tambahnya.
Jejaring Relawan Aisyiyah Jateng di Sepanjang Aliran Sungai
Guna menyukseskan aksi penghijauan tersebut, para relawan Aisyiyah Jateng menggandeng Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jumantono. Sinergi ini memastikan pasokan bibit merupakan varietas terbaik. Tanaman tersebut dipastikan adaptif dengan ekosistem lokal lereng gunung.
Perempuan-perempuan tangguh ini rupanya sudah lama menenun jejak hijau. Mereka konsisten bergerak lintas daerah demi memulihkan paru-paru bumi. Ini menjadi respons nyata atas dampak perubahan iklim. Perjalanan mereka menunjukkan konsistensi luar biasa dalam mempraktikkan konservasi air Jumog Putri dan wilayah lainnya.
“Kita bermitra dengan pemerintah untuk menanam di berbagai daerah. Beberapa bulan lalu, Februari kemarin, kita juga menanam pohon. Kalkulasinya, dalam satu tahun di Jawa Tengah kita sudah menanam sekitar 5.000 pohon,” jelas Lilik.
Langkah nyata ini membuktikan aksi penanaman pohon bukan sekadar slogan. Mereka menanamkan harapan besar melalui ikhtiar konservasi air Jumog Putri. Selama ada yang merawat hulu, air kehidupan akan terus mengalir bagi anak cucu kelak.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.