Menjaga Integritas ASN: Seperti Air yang Menghidupkan Ikan
Jika seekor ”ikan” jatuh sakit, apa yang mesti kita lakukan? Kita bisa menangkap ikannya, memberinya obat, lalu memasukkannya kembali ke dalam kolam. Tetapi jika airnya kotor, tercemar, kekurangan oksigen, atau mengandung zat berbahaya, ikan itu sangat mungkin kembali sakit. Maka persoalannya bukan semata-mata pada ikannya. Persoalannya juga ada pada ”air” dimana tempat ikan itu hidup.
Analogi sederhana ini merefleksikan persoalan integritas Aparatur Sipil Negara (ASN). Pimpinan biasanya langsung memanggil, membina, hingga menjatuhkan sanksi ketika seorang ASN melanggar disiplin. Pengawasan kita perketat saat korupsi muncul, dan pelatihan kita adakan tatkala kualitas pelayanan merosot.
Berbagai langkah preventif tersebut memang selalu kita perlukan. Kendati demikian, masalah yang sama terus berulang sehingga kita harus menggeser fokus pertanyaan: apakah hanya orangnya yang perlu kita perbaiki, ataukah lingkungan kerjanya juga menuntut perbaikan? Di sinilah pentingnya infrastruktur integritas ASN.
Sudahkah sistemnya mendorong integritas atau justru memberi ruang bagi penyimpangan? Sudahkah organisasi menghargai orang yang bekerja sungguh-sungguh atau justru lebih nyaman bagi mereka yang sekadar pandai menyesuaikan diri? Atau sudahkah pimpinan menjadi teladan atau hanya menjadi pemberi instruksi?
Selanjutnya, sudahkah sistem penghargaan dan hukuman berjalan adil? Dan sudahkah ukuran kinerja benar-benar mengukur hasil atau hanya kesibukan administratif? Di sinilah gagasan infrastruktur integritas ASN menjadi penting.
ASN adalah “ikan” yang bekerja di dalam “air” birokrasi. ASN bekerja dalam sistem. Ia bekerja dengan aturan, struktur organisasi, atasan, bawahan, kolega, target, anggaran, prosedur, teknologi, budaya kerja, dan berbagai kepentingan yang mengelilinginya.
ASN juga bukan hanya pekerja yang menyelesaikan tugas administratif. Ia mengelola kewenangan negara dan berhadapan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Karena itu, ketika terjadi persoalan pada ASN, jangan selalu buru-buru menyimpulkan bahwa masalahnya adalah orangnya. Bisa jadi orangnya memang bermasalah. Tetapi bisa juga lingkungannya yang membuat perilaku buruk menjadi mudah, sementara perilaku baik menjadi sulit.
Urgensi Membangun Ekosistem Birokrasi yang Sehat
Ada perbedaan antara memperbaiki individu dan memperbaiki sistem yang memproduksi perilaku. Jika satu orang melakukan kesalahan, bisa jadi memang persoalan individu. Jika kesalahan yang sama dilakukan banyak orang, maka kita harus mulai bertanya tentang ”sistem”.
Selanjutnya, Jika keterlambatan telah menjadi kebiasaan, jangan hanya bertanya siapa yang terlambat. Namun, tanyakan mengapa budaya keterlambatan bisa berlangsung.
Jika pelayanan publik terus dikeluhkan, jangan hanya mencari siapa petugas yang salah. Periksa juga apakah sistem pelayanan memang dirancang untuk memudahkan masyarakat.
Kemudian jika integritas terus menjadi masalah, jangan hanya memperbanyak slogan antikorupsi. Periksa apakah sistem pengawasan, transparansi, konflik kepentingan, pengambilan keputusan, dan keteladanan pimpinan sudah cukup kuat.
Infrastruktur integritas ASN mencakup keseluruhan sistem, lingkungan, budaya, keteladanan, dan mekanisme organisasi yang menghargai serta melindungi perilaku berintegritas. Konsep ini menuntut pembentukan human ecosystem yang melengkapi human capital. Ekosistem ideal ini memampukan setiap pegawai memunculkan versi terbaik dari diri mereka.
Fondasi Empat Tiang Utama Integritas ASN
Infrastruktur integritas ASN setidaknya berdiri di atas 4 (empat) tiang utama. Pertama, pendidikan. Pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia pintar. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu membedakan antara benar dan salah, kepentingan pribadi dan kepentingan publik, hak dan kewajiban.
Kedua, kompetensi. Orang baik yang tidak kompeten dapat menghasilkan pelayanan yang buruk. Karena itu integritas harus berjalan bersama profesionalisme.
Ketiga, keteladanan. Budaya organisasi paling mudah dipelajari bukan dari buku pedoman, tetapi dari perilaku orang yang memiliki kewenangan. Nilai organisasi paling cepat ditiru dari perilaku atasannya. Integritas tidak akan kuat jika hanya menjadi tuntutan kepada bawahan.
Keempat, budaya kerja. Budaya kerja adalah “air” yang setiap hari disentuh manusia. Ia menentukan apakah disiplin dianggap biasa atau aneh. Apakah inovasi dihargai atau ditakuti, Atau apakah pelayanan dipahami sebagai kewajiban atau sekadar rutinitas.
Organisasi harus membuat perilaku baik menjadi kebiasaan, bukan tindakan heroik. Datang tepat waktu, melayani dengan baik, menggunakan anggaran secara benar, menolak pemberian, dan bekerja sesuai aturan harus menjadi sesuatu yang normal.
Paradigma pembangunan aparatur negara perlu kita perluas cakupannya. Lingkungan kerja yang menghargai kinerja akan menumbuhkan integritas secara alami. Sebaliknya, pembiaran terhadap praktik manipulasi dan konflik kepentingan akan terus menekan nilai-nilai kejujuran.
Membangun infrastruktur integritas ASN berarti kita tidak sekadar mencetak orang-orang baik, tetapi juga merancang sistem yang menjaga orang baik tersebut tetap dapat bekerja dengan benar.
Solusi Konkret Menata Pengawasan dan Budaya Kerja
Birokrasi yang bersih tidak lahir sekadar dari deretan orang baik, melainkan dari sistem yang mengunci ruang gerak pelaku penyimpangan. Kita mendesain birokrasi sedemikian rupa agar integritas menjadi pilihan paling rasional bagi setiap pegawai
Infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan irigasi mempermudah mobilitas serta aktivitas masyarakat. Demikian pula infrastruktur integritas ASN yang berfungsi mengalirkan nilai kejujuran langsung ke dalam sistem operasional kerja. Evaluasi mendalam harus menyentuh akar masalah, bukan sekadar meredakan gejala permukaan.
Pada akhirnya, ketika ASN bermasalah, pembinaan tetap diperlukan. Sanksi tetap diperlukan. Pelatihan tetap diperlukan. Tetapi tidak berhenti pada ikan. Lanjut pada airnya: apakah budaya organisasinya sehat? Kepemimpinannya memberi teladan? Sistem penghargaan dan kariernya adil? Penyimpangan mudah terjadi? Orang yang berintegritas mendapatkan perlindungan?
Jika jawabannya belum, maka membangun integritas ASN tidak cukup dengan membersihkan diri sendiri. Airnya harus dibersihkan. Birokrasi yang berintegritas bukan lahir hanya dari ASN yang baik, tetapi dari ekosistem yang membuat kebaikan, profesionalisme, dan kejujuran memiliki tempat untuk tumbuh.
Infrastruktur integritas ASN pada akhirnya bukan tentang bagaimana menghukum lebih banyak orang yang salah, melainkan bagaimana membangun sistem yang membuat semakin sedikit orang memiliki ruang untuk berbuat salah.
Baca juga:
Integritas ASN, Antara Kepentingan Negara dan Pribadi
Korupsi Tidak Takut Slogan: Menggagas Kampanye Antikorupsi yang Konkret
Matematika Hukum Korupsi, Formula Baru Hukuman Koruptor yang Berkeadilan
.