Tanam 5.000 Pohon, Strategi Baru Mitigasi Bencana Purbalingga di Desa Serang

8 April 2026, 19:30 WIB • 2 menit baca
Pejabat Pertamina (diduga Ahmad Luthfi) memberikan keterangan pers di area industri.
Pejabat Pertamina memberikan pernyataan media mengenai operasional perusahaan.

SEMARANG, jatengdata.com – Penanaman 5.000 bibit pohon keras di Desa Serang menandai dimulainya penguatan mitigasi bencana Purbalingga sebagai solusi jangka panjang mengatasi alih fungsi lahan yang masif. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan pegunungan yang kian tergerus.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat daya dukung lingkungan di dataran tinggi. Melalui Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI, mereka menanam 5.000 bibit pohon di kawasan rawan tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan bahwa wilayah pegunungan saat ini menghadapi tantangan serius. Alih fungsi lahan dan berkurangnya tutupan vegetasi memicu risiko kerusakan alam yang lebih besar.

“Kondisi lingkungan di kawasan tersebut menghadapi tantangan serius akibat alih fungsi lahan dan berkurangnya tutupan vegetasi,” ujar Widi Hartanto.

Benteng Alam Cegah Longsor

Penanaman ini bertujuan menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air dan cegah longsor Serang. Pemerintah memilih jenis tanaman keras dan produktif yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.

Infografis landscape 16:9 aksi mitigasi bencana Purbalingga melalui penanaman 5.000 pohon di Desa Serang.
Data visual penanaman 5.000 pohon di lereng Purbalingga untuk cegah longsor dan jaga resapan air.

Langkah mitigasi bencana Purbalingga ini tidak hanya berfokus pada sisi ekologis. Namun, pemilihan bibit tersebut juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat di masa depan.

“Penanaman pohon ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga ketersediaan air serta mencegah erosi,” tambah Widi.

Kolaborasi Reboisasi Lereng Gunung

Keberhasilan gerakan ini bergantung pada partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat. Berbagai komunitas peduli lingkungan turut terjun langsung dalam aksi reboisasi lereng gunung ini.

Kelompok seperti Forum Masyarakat Peduli Gunung Malang dan Karang Taruna mengambil peran penting dalam tahap pemeliharaan. Pemerintah berharap semangat gotong royong ini mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.

Melalui pelestarian alam Jateng yang konsisten, risiko bencana alam di masa depan dapat berkurang secara signifikan. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melakukan gerakan serupa secara berkelanjutan.

Editor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Sumber: Rilis Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.