Bukan Sekadar Juara, MUI Ungkap Dampak Nyata MTQ Nasional di Jateng

23 September 2026, 14:14 WIB • 3 menit baca
Gambar Ketua MUI Jawa Tengah, Prof Noor Achmad, yang memakai baju batik dan songkok, duduk di meja jamuan bersama seorang wanita berhijab semasa acara MTQ Nasional Jateng.
Ketua MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. KH. Noor Achmad (kiri), bergambar di meja jamuan ketika menghadiri penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 di Semarang. (foto: Imam Abu Maulana).

SEMARANG, Jatengdata.com – Hiruk-pikuk Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 di Kota Semarang, Jawa Tengah, telah berakhir seiring panitia membongkar panggung utama. Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menegaskan perhelatan MTQ Nasional Jateng ini meninggalkan warisan spiritual dan perputaran ekonomi yang jauh melebihi sekadar piala yang peserta raih.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., menilai Jawa Tengah sukses menunaikan amanah sebagai tuan rumah ajang nasional ini. Setelah menanti hampir setengah abad sejak 1979, perhelatan ini berhasil mengumpulkan para penjaga dan pecinta Al-Qur’an dari seluruh penjuru Indonesia.

“Jateng menjadi tuan rumah dan mampu menjalankan serta menuntaskan dengan baik dan fenomenal. Ini sangat luar biasa,” ujar Noor Achmad, bebarapa waktu lalu.

Ia menekankan kebanggaan daerahnya atas kelancaran acara tersebut. “Alhamdulillah, kita bangga dengan dipercayanya menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-31. Ini kepercayaan yang luar biasa terhadap Jawa Tengah dan Semarang,” katanya.

Dampak Positif MTQ bagi Ekonomi Semarang dan Talenta Baru

Lebih dari sekadar kompetisi, MTQ Nasional Jateng membawa denyut ekonomi baru yang nyata. Kehadiran ribuan peserta, pendamping, panitia, hingga tamu undangan langsung menggerakkan sektor riil. Berbagai lini usaha mulai dari perhotelan, kuliner, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga transportasi publik mendulang dampak positif MTQ secara langsung bagi ekonomi Semarang dan sekitarnya.

Di sisi kompetisi, penambahan cabang lomba terbukti efektif mencetak generasi Qur’ani yang siap bersaing di kancah global.

“Dengan bertambahnya nomor-nomor yang dilombakan, telah memunculkan juara-juara baru yang akan turun di tingkat internasional,” tegas Noor Achmad.

Meski memerlukan biaya penyelenggaraan yang tidak sedikit, MUI Jateng memastikan hasilnya sangat sepadan. “Kalau dibandingkan dengan manfaatnya, sangat besar. Ini belum sebanding jauh dengan manfaatnya, karena Al-Qur’an mampu menyinari Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, bahkan dunia,” ungkapnya.

Merawat Semangat Baca Al-Qur’an Pasca MTQ Nasional Jateng

Kesuksesan perhelatan ini bergantung pada strategi komunikasi sejak awal. Jauh sebelum panitia mendirikan panggung, MUI Jateng telah menggerakkan masyarakat melalui mimbar masjid.

“Kami sangat mendukung dari awal. Jauh-jauh hari kami mengimbau di setiap khutbah Jumat agar khatib menyinggung tema-tema MTQ sehingga masyarakat tahu informasi,” jelasnya.

Kini, MUI Jateng memiliki tugas besar untuk menjaga gema Al-Qur’an agar tidak ikut pudar ketika panitia mematikan lampu panggung. Noor Achmad berharap ajang ini memicu gelombang semangat baru di akar rumput.

“Dari aspek peningkatan Al-Qur’an jelas ada dan banyak sekali. Akan terjadi pergerakan semangat mempelajari Al-Qur’an untuk menjadi yang terbaik, mulai dari tingkat kecamatan sampai provinsi,” tuturnya.

Kemenangan sejati MTQ Nasional Jateng pada akhirnya bukan berwujud piala emas, melainkan saat anak-anak mulai mengaji, remaja menghafal, dan masyarakat menjadikan rutinitas baca Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.