Transformasi Sejarah Lisan Digital: Akademisi Unnes dan USU Soroti Peran AI hingga Podcast
MEDAN, Jatengdata.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan platform media sosial kini secara signifikan mengubah lanskap pengarsipan sejarah lisan digital di Indonesia.
Pergeseran metode dari konvensional ke digital ini menjadi fokus utama dalam Kuliah Umum bertajuk “Sejarah Lisan di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) di Gedung Serba Guna FIB USU, Medan, pada Jumat (18/9/2026).
Acara ini menghadirkan Mukhamad Shokheh, Ph.D., Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah dan Magister Kajian Sejarah FISIP Universitas Negeri Semarang (Unnes), sebagai pembicara utama. Di hadapan para sivitas akademika FIB USU, Mukhamad Shokheh menekankan bahwa transisi teknologi tidak mematikan sejarah lisan, melainkan mengembangkannya melalui ragam platform digital masa kini.
Platform Digital dan Pemanfaatan AI dalam Sejarah
Dalam pemaparannya, Mukhamad Shokheh menyampaikan praktik sejarah lisan digital saat ini bukan sekadar aktivitas merekam wawancara. Metode pengarsipan masa kini telah berevolusi menjadi proses komprehensif untuk menggali, mengkritisi, mengolah, dan menjaga memori sebagai sumber sejarah yang valid.
Inovasi teknologi membuka peluang baru dalam pendokumentasian sejarah melalui medium podcast, video dokumenter, wawancara daring, dan pameran virtual.
Lebih lanjut, Shokheh menyoroti penggunaan AI sebagai alat bantu krusial. Teknologi cerdas ini mampu mempercepat proses transkripsi otomatis dan mengelola arsip data digital berkapasitas besar.
Ia mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, agar mengambil peran sentral dalam pengembangan sejarah lisan digital. Mahasiswa dapat memulai peran tersebut dengan mewawancarai narasumber langsung di masyarakat, mengautentikasi transkrip, hingga mengurasi data. Proses panjang ini bermuara pada produksi narasi sejarah digital yang kreatif dan mudah publik akses secara luas.
Antusiasme Diskusi dan Penguatan Kolaborasi Institusi
Pemaparan menarik mengenai sejarah lisan digital ini memantik diskusi interaktif dari para peserta. Nuhung, Ph.D., mengangkat isu mengenai strategi riset yang tepat saat menggunakan pendekatan lisan di era modern. Sementara itu, mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU, Aditya Pratama, menyoroti kriteria penentuan narasumber yang kredibel dalam wawancara lisan.
Mahasiswa lainnya, Syifa, mengingatkan sivitas akademika agar tetap menjaga nalar kritis ketika memanfaatkan platform digital dan kecerdasan buatan dalam riset akademik.
Selain kegiatan akademik, kedua institusi mengoptimalkan momentum ini untuk memperkuat hubungan kelembagaan. Para petinggi kampus melanjutkan agenda dengan menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) antara FIB USU dan FISIP Unnes. Mereka juga menyepakati Implementation Agreement (IA) antara Prodi S1 dan Magister Ilmu Sejarah di kedua universitas tersebut.
Langkah kolaboratif ini mewujudkan dukungan nyata institusi pendidikan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan strategis ini berkontribusi langsung pada SDG 4 (Pendidikan Bermutu) dengan memperkuat literasi digital dan keterampilan riset mahasiswa. Selain itu, kedua kampus memperluas jejaring akademik untuk memenuhi target SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Para akademisi memproyeksikan masa depan pengarsipan sejarah lisan digital serta integrasi AI akan semakin inovatif. Melalui sinergi kelembagaan dan pemanfaatan teknologi yang kritis, perguruan tinggi berkomitmen untuk terus menjaga serta mendistribusikan memori kolektif bangsa dengan cara yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.