Cetak Sejarah! MTQ Disabilitas Tuli Akhirnya Digelar di Jateng

16 September 2026, 08:23 WIB • 2 menit baca
Foto seorang wanita berjilbab berompi panitia di panggung MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah, melakukan gerakan bahasa isyarat dengan mengangkat jari telunjuk. Latar belakang panggung biru-emas menampilkan spanduk bertuliskan 'Eksibisi Tartil Al Qur'an Isyarat untuk Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Wicara'. Monitor di latar depan menampilkan gambar langsung dari acara tersebut.
Seorang peserta beraksi di atas panggung selama penyelenggaraan Eksibisi Tartil Al-Qur'an Isyarat pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Acara ini merupakan terobosan inklusi untuk penyandang disabilitas sensorik rungu/wicara. (foto: Humas Pemprov).

SEMARANG, Jatengdata.com – Penantian panjang kaum difabel untuk unjuk gigi di pentas keagamaan nasional akhirnya terwujud. Eksibisi tartil Al-Qur’an isyarat resmi menjadi bagian dari MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah, membuka babak baru kesetaraan hak beribadah bagi kaum tuli.

Eksibisi bersejarah ini berlangsung di MG Setos Hotel Semarang pada Selasa (15/9/2026). Ajang tersebut mempertandingkan cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat yang khusus dirancang bagi golongan penyandang disabilitas sensorik rungu.

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menyebut terobosan ini sebagai tonggak penting pemenuhan hak beragama.

“Kami bersyukur, hari ini MTQ Nasional yang ke-XXXI sudah menjadikan satu cabang musabaqah, yaitu tartil untuk golongan rungu/tuli sensorik, menjadi salah satu cabang eksebisi,” ujar Abu Rokhmad selaku Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI.

Evaluasi Menuju Cabang Resmi

Kehadiran cabang eksibisi ini masih melewati proses pengenalan dan pengujian secara intensif. Pemerintah akan mengevaluasi pelaksanaan pertandingan, termasuk kesiapan perangkat musabaqah, sebelum menetapkannya sebagai cabang lomba rutin pada masa mendatang.

Meski masih berstatus eksibisi, antusiasme peserta tergolong sangat tinggi. Sebanyak 28 kafilah putra dan putri dari 14 komunitas Tuli Muslim saling unjuk kemampuan membaca kitab suci.

Mereka mewakili sembilan provinsi di Indonesia. Para peserta yang hadir berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Selain itu, perwakilan dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, hingga Jambi juga ikut ambil bagian dalam sejarah ini.

“Layanan keagamaan tidak boleh dibeda-bedakan, kita harus memberikan layanan yang berkeadilan,” ujar Muchlis M Hanafi selaku Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI.

Metode Isyarat dan Kesetaraan Akses

Panitia penyelenggara membagi kompetisi menjadi dua kategori utama, yakni metode kitabah dan metode tilawah. Penilaian kompetensi peserta melibatkan dewan hakim gabungan yang terdiri atas pakar tuli serta nontuli.

Kesuksesan acara di provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Kemenag menggandeng Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI) untuk merumuskan pedoman penilaian hingga mekanisme teknis musabaqah.

Langkah inklusif pemerintah pusat dan daerah ini langsung memanen apresiasi dari berbagai pihak. Komisi Nasional (Komnas) Disabilitas RI menilai negara telah membuktikan kehadirannya dalam menjamin kesetaraan akses beribadah.

“Kami menegaskan MTQ ke-XXXI di Semarang ini menjadi pembuktian nyata, bahwa negara, dalam hal ini melalui Kementerian Agama, betul-betul hadir memenuhi hak penyandang disabilitas,” ujar Deka Kurniawan selaku Komisioner Komnas Disabilitas RI.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.