Pesona Magis Kesenian Jaranan Desa Tlompakan: Ajang Pelestarian Seni dan Simbol Kerukunan Warga

7 September 2026, 13:23 WIB • 3 menit baca
Penari tradisional membawakan atraksi Kesenian Jaranan Desa Tlompakan dengan kostum autentik di atas panggung pagelaran seni budaya.
Penampilan energik Kesenian Jaranan Desa Tlompakan dari Dusun Krajan dan Sombron yang sukses memukau penonton dalam pagelaran seni budaya.

TUNTANG, SEMARANG, Jatengdata.com – Hentakan kaki para penari berpadu dinamis dengan alunan gamelan memecah keheningan malam di Desa Tlompakan, Tuntang, Kabupaten Semarang. Pertunjukan kesenian Jaranan dari Dusun Krajan dan Dusun Sombron sukses menghipnotis ratusan pasang mata yang memadati area panggung sejak pukul 19.00 WIB. Gelaran sarat makna ini bukan sekadar hiburan warga semata, melainkan wujud nyata pelestarian seni tradisional yang terus dihidupkan oleh antusiasme lintas generasi.

Kemeriahan pagelaran seni budaya pada Sabtu (5/9/2026), ini ternyata merajut sebuah kisah emosional di balik layar. Acara kebudayaan tersebut sekaligus menjadi panggung perpisahan bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Inovasi Terintegrasi (MIT) UIN Walisongo Semarang Posko 39.

Kehadiran 15 personel mahasiswa sukses mendinamisasi warga untuk berkolaborasi menampilkan ragam kesenian memukau. Selain jaranan, warga turut menampilkan drama anak-anak, senam ibu-ibu PKK, hingga lantunan angklung yang syahdu.

Misbahul Mundir selaku Koordinator Posko 39 merasakan langsung energi positif dari kolaborasi kebudayaan tersebut. Keterlibatan aktif pemuda desa menumbuhkan harapan baru bagi masa depan kesenian lokal.

“Bagi saya itu pagelaran jaranan malam ini sangat meriah dan menarik. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi bentuk pelestarian seni dan budaya tradisional agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda. Semoga kesenian jaranan terus lestari dan semakin berkembang,” ungkap Misbahul Mundir.

Ruang Toleransi dalam Pagelaran Seni Budaya

Kepala Desa Tlompakan, Sunardi, melihat sinergi estetika ini sebagai katalisator kerukunan desa yang sangat krusial. Beliau menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan sikap saling menghargai yang terwujud dalam ruang-ruang perjumpaan budaya semacam ini.

“Harapannya masyarakat itu hidup tentram, saling bertoleransi. Dari hidup bermasyarakat harus hidup bersama-sama, saling harga-menghargai, saling bertoleransi,” ujar Sunardi.

Lebih lanjut, Sunardi mengapresiasi cara mahasiswa melebur bersama masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial. Harmoni ini membuat pagelaran seni budaya terasa sangat personal dan emosional bagi warga Desa Tlompakan.

“Dari saya pribadi atau mengenai pemerintah desa itu sangat senang dengan adanya KKN UIN ini, karena KKN UIN ini bisa memberi kepada masyarakat. Yang menjadi kesenangan dari warga,” ungkapnya.

Ia memastikan ikatan persaudaraan warga tidak akan terputus meski masa pengabdian akademis telah rampung.

“Setelah dari desa ya semua adalah saudara kita, yang muda-muda teman-teman kita, yang kecil lagi adik-adik kita, jadi enggak ada perbedaan,” tuturnya.

Pemerintah desa lantas menyelipkan doa tulus bagi kesuksesan para mahasiswa yang telah membantu menggerakkan roda kesenian dan sosial masyarakat.

“Semoga lancar sukses mencari pekerjaan dan bisa mendapatkan nilai yang baik,” ujarnya.

“Terima kasih mbak-mbak mas-mas KKN UIN, banyak terima kasih kerja di sini. Ramah, suka sekali bisa membaur di desa Tlompakan ini,” katanya.

Baca juga:

Jangan Biarkan Lahan Kosong Terbengkalai, Ubah Jadi Kebun Herbal Penopang Ekonomi Keluarga

Kontributor: KKN MIT UIN Walisongo Posko 39
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.