Jangan Biarkan Lahan Kosong Terbengkalai, Ubah Jadi Kebun Herbal Penopang Ekonomi Keluarga

30 Agustus 2026, 09:53 WIB • 2 menit baca
Warga dan mahasiswa bergotong royong menanam bibit tanaman herbal di sebuah lahan kosong sebagai wujud nyata pemanfaatan lahan terbengkalai menjadi kebun produktif.
Aktivitas penanaman bibit herbal secara komunal. Inisiatif gotong royong ini menjadi contoh nyata pemanfaatan lahan terbengkalai yang efektif untuk merintis kebun fungsional guna menopang ekonomi dan kesehatan rumah tangga.

SEMARANG, Jatengdata.com– Banyak masyarakat membiarkan lahan kosong di sekitar lingkungan tempat tinggal mati tanpa fungsi spesifik. Padahal, inisiatif pemanfaatan lahan terbengkalai menjadi kebun herbal skala rumahan menawarkan solusi cerdas untuk menekan pengeluaran dapur sekaligus menjaga kesehatan keluarga.

Praktik inspiratif ini mulai mengemuka lewat aksi nyata warga Dusun Sombron, Desa Tlompakan, Kabupaten Semarang. Warga setempat bersama tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo berinisiatif menghidupkan kembali sebidang lahan kritis menjadi area hijau produktif melalui program bernama Plantopia.

Masyarakat mengeksekusi penanaman berbagai jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) secara komunal pada Kamis (20/8/2026). Mereka bergotong royong menanam rimpang herbal yang memiliki nilai manfaat harian tinggi, seperti jahe, kunyit, dan lengkuas.

Model pemanfaatan lahan terbengkalai ini sangat relevan untuk diduplikasi oleh masyarakat di berbagai daerah. Lingkungan perumahan perkotaan maupun perdesaan yang memiliki petak tanah tak terurus dapat segera mengadaptasi langkah serupa.

Langkah Awal Membangun Ketahanan Ekonomi

Inisiatif lingkungan ini bermula dari keresahan warga melihat kondisi tanah yang lama tidak produktif. Ibu-ibu warga RT 04/RW 02 turun langsung mencangkul tanah, memindahkan bibit ke dalam pot daur ulang, dan merancang tata letak kebun.

Ibu Rahwiti, penggerak kegiatan dari warga RT 04/RW 02, menuturkan bahwa masyarakat sejatinya sudah lama mengonsep pembuatan sentra tanaman herbal tersebut.

“Untuk kebun ini kan sebenarnya memang sudah dirancang dari dulu ya. Mau buat kebun toga, mau ditanam buat obat-obatan, atau misal tanaman herbal, entah itu jahe, kunyit, atau lengkuas, gitu. Itu memang sudah dirancang dari dulu,” ujarnya.

Ia menyambut positif realisasi program penanaman ini karena menyadari kondisi tanah sebelumnya sangat memprihatinkan. Warga kini mengambil tanggung jawab penuh untuk merawat tanaman tersebut secara berkelanjutan.

“Untuk kegiatan ini ya saya mendukung sekali. Ini sudah baik lah. Tapi mohon maaf, tanahnya itu kan sudah lama nggak ditanami, jadi tanahnya itu sudah mati. Nanti biar bisa dirawat sama ibu-ibu warga sini,” tambahnya.

Langkah strategis pemanfaatan lahan terbengkalai ini membuka proyeksi penghematan ekonomi rumah tangga. Jika kelak panen berhasil, warga dapat menggunakan hasil bumi tersebut untuk bumbu masakan harian tanpa harus membeli ke pasar.

“Banyak sekali manfaatnya kan, untuk serai selain dibuat obat-obatan, nanti bisa dijual juga. Jadi manfaatnya untuk warga, untuk rumah tangga,” katanya.

Memulai langkah kecil dari pekarangan kosong merupakan fondasi esensial dalam membangun kemandirian pangan. Gerakan menanam herbal ini membuktikan bahwa lingkungan yang terawat selalu menyimpan potensi besar untuk menyokong kesejahteraan hidup masyarakat sehari-hari.

Kontributor: Tim KKN UIN Walisongo
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.