Menanti Bukti Ilmiah Klaim Lukisan Raden Saleh di Pesantren Semarang
SEMARANG, Jatengdata.com – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islah di Tembalang, Kota Semarang menyimpan sebuah lukisan tua bertema perburuan singa. Pengasuh pesantren, Kiai Budi Harjono meyakini karya seni tersebut sebagai lukisan maestro Raden Saleh Syarif Bustaman. Meski demikian, klaim lukisan Raden Saleh tersebut masih menanti bukti ilmiah serta proses autentikasi independen dari pihak ketiga.
Kiai Budi Harjono menceritakan riwayat perolehan lukisan tersebut secara unik. Ia mendapatkan karya seni itu secara gratis ketika membeli dua bus tua di Magelang pada 1990.
Budi menemukan lukisan tersebut saat melihat tumpukan kanvas tak terawat di belakang sebuah bengkel. Pemilik bengkel kemudian memberikan lukisan itu secara cuma-cuma setelah Budi memborong dua bus tua miliknya.
“Waktu itu saya melihat onggokan lukisan yang tidak terawat di belakang bengkel. Pemiliknya memberikan lukisan itu secara gratis karena saya memborong dua bus tua,” ungkap Budi Harjono, baru-baru ini.
Menurut Budi, keluarga pemilik sebelumnya merawat lukisan perburuan singa itu secara turun-temurun. Sang pemilik bengkel merupakan generasi keenam yang menjaga karya tersebut sebelum berpindah tangan pada 1990.
Komposisi Berbeda dari Koleksi Museum Latvia
Lukisan koleksi Ponpes Al Islah Semarang itu menampilkan adegan perburuan yang melibatkan empat orang sayyid. Dalam kanvas tersebut, tampak pula seekor singa yang sedang bertarung melawan seekor banteng.
Komposisi visual ini berbeda dari lukisan The Lion Hunt atau Die Löwenjagd milik Museum Seni Nasional Latvia. Versi koleksi museum di Eropa tersebut menampilkan adegan perburuan dengan kehadiran tentara kolonial.
Perbedaan visual ini menjadi aspek menarik guna menelusuri latar belakang lukisan tersebut. Oleh karena itu, para ahli perlu melakukan penelitian lanjutan untuk menguji klaim dan memastikan hubungannya dengan karya dokumentasi sang maestro.
Selain itu, bagian bawah lukisan memuat goresan tulisan yang menunjukkan penanda “R. Saleh 1863”. Sementara Raden Saleh wafat pada 23 April 1880 di Bogor.
Klaim Penelitian Akademisi dan Pentingnya Autentikasi Ilmiah
Lebih lanjut, Budi Harjono menyampaikan bahwa sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) pernah meneliti lukisan tua tersebut. Para akademisi dan pecinta seni lukis itu sempat menyatakan bahwa lukisan tersebut asli.
Meski demikian, pengelola koleksi masih perlu menghimpun dokumentasi hasil pemeriksaan, identitas peneliti, serta metode autentikasinya. Langkah verifikasi independen ini sangat penting untuk mendukung kepastian atribusi karya tersebut kepada sosok Raden Saleh.
Sebab, kalangan ahli tidak dapat menentukan keaslian sebuah lukisan hanya berdasarkan keberadaan tanda tangan atau angka tahun. Proses autentikasi wajib mencakup pemeriksaan material, teknik pengerjaan, karakteristik cat, kondisi kanvas, hingga riwayat kepemilikan karya secara transparan.
Tolak Skema Perantara Senilai Rp1 Miliar
Di sisi lain, seorang perantara pernah menawarkan skema penjualan lukisan tersebut dengan nilai mahar Rp1 miliar. Namun, Kiai Budi Harjono menolak skema penjualan melalui jalur perantara tersebut.
Sebaliknya, ia mempersilakan calon pembeli maupun kolektor yang serius untuk datang langsung ke Pondok Pesantren Al Islah. Peminat dapat melihat langsung kondisi fisik lukisan di Tembalang, Semarang dan melakukan transaksi secara tunai.
Bagi Budi, keberadaan lukisan tua tersebut menyimpan cerita panjang yang bermula dari peristiwa sederhana di Magelang. Dari onggokan belakang bengkel pada 1990, ia terus merawat karya seni itu hingga sekarang.
Sebagai informasi, Raden Saleh merupakan pelukis Indonesia abad ke-19 yang memiliki reputasi internasional. Karya-karyanya memegang arti penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia serta sejarah perjumpaan seni Nusantara dengan tradisi Eropa.
Pada akhirnya, kebenaran di balik klaim lukisan Raden Saleh di Ponpes Al Islah Tembalang ini baru akan menemukan titik terang apabila uji material dan penelitian independen tuntas dilakukan. Apabila pembuktian ilmiah tersebut berhasil terwujud, karya seni ini berpotensi memperkaya khazanah sejarah seni rupa Indonesia tanpa terjebak pada klaim sepihak.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.