Rahasia Membuat Bubur Singkong Lembut, Alternatif Pengganti Nasi
MAGELANG, Jatengdata.com – Mengurangi ketergantungan pada nasi putih kini dapat dimulai dari dapur rumah melalui langkah yang sangat sederhana. Singkong segar yang melimpah di sekitar lingkungan ternyata bisa diolah menjadi sajian bubur bertekstur sangat lembut dan mengenyangkan. Hidangan alternatif ini menjadi wujud nyata dari konsep diversifikasi pangan untuk memperluas pilihan gizi keluarga secara praktis.
Pengenalan metode pengolahan umbi akar ini menjadi fokus utama dalam kegiatan sosialisasi di kediaman Bapak Kepala Dusun Sobowono, Magelang, pada Kamis (27/8/2026). Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus (KKN MMK) UIN Walisongo Posko 6 memandu warga mempraktikkan inovasi bertajuk “Sulap Singkong Jadi Bubur”. Kegiatan tersebut sengaja dirancang untuk mengenalkan pemanfaatan pangan lokal sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Empat Langkah Praktis Pembuatan Bubur Singkong
Workshop pengolahan bahan mentah ini langsung mengajak peserta mempraktikkan proses memasak. Happy Dwi Alfarizi, anggota tim KKN yang bertindak sebagai pemateri, memandu langsung pembuatan bubur tersebut agar warga mudah mengikutinya di rumah. Ia menunjukkan cara warga mengkreasikan hasil bumi lokal menjadi aneka hidangan menarik bagi keluarga.
“Cara membuat bubur singkong ini sebenarnya cukup mudah. Singkong kita kupas dan cuci terlebih dahulu, kemudian diparut sampai halus. Setelah itu, singkong dimasak dengan air sambil diaduk sampai teksturnya lembut dan menjadi bubur. Terakhir, tinggal ditambahkan gula dan bahan pelengkap sesuai selera,” jelas Happy.
Peserta memancarkan antusiasme tinggi ketika proses pengadukan bubur berlangsung di area wajan. Tim KKN memilih singkong karena masyarakat pedesaan sangat mudah membudidayakan serta mengolah bahan tersebut.

Diversifikasi Pangan Melalui Potensi Gizi Lokal
Selain memandu memasak, Happy juga memaparkan materi bahwa keberagaman konsumsi sama sekali tidak mengharuskan masyarakat meninggalkan nasi sepenuhnya. Ia mengutip materi presentasinya yang menjelaskan bahwa diversifikasi pangan merupakan usaha memperluas pilihan dan konsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan berbasis sumber daya lokal. Konsep ini membidik tujuan peningkatan kesehatan serta ketahanan pangan masyarakat desa.
“Untuk memulainya sebenarnya cukup sederhana. Kita bisa mengenali dulu pangan lokal yang ada di sekitar, kemudian mulai mencoba makanan selain nasi secara bertahap. Pangan tersebut juga bisa dikombinasikan dengan lauk, sayur, dan buah. Selain itu, penting juga mengenalkan pangan lokal kepada anak-anak dan mengolahnya menjadi makanan yang menarik serta disukai keluarga,” ujar Happy Dwi Alfarizi.
Mewakili tim KKN, ia mengingatkan warga bahwa variasi sumber karbohidrat merupakan langkah adaptif menghadapi fenomena iklim, seperti El Nino. Kondisi alam tersebut berpotensi memicu kelangkaan air dan berdampak pada stabilitas ketersediaan panen.
Presentasi gizi dari Happy menunjukkan profil nutrisi singkong segar yang memadai. Setiap 100 gram bahan lokal ini menyumbang karbohidrat 34,7 gram, protein 1,2 gram, lemak 0,3 gram, serat 0,9 gram, dan vitamin C 30 miligram. Warga yang memanfaatkan bahan mentah kaya gizi di sekitar lingkungan ini otomatis membuka pilihan menu harian yang lebih bervariasi.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.