Aksi Menegangkan SAR Semarang di Tebing Djaro, Merdeka di Atas Tali

15 Agustus 2026, 11:21 WIB • 2 menit baca
Personel SAR Semarang berseragam oranye berdiri tegap membawa panji-panji kebanggaan dengan latar belakang bendera merah putih raksasa yang terbentang di dinding cadas Tebing Djaro Kendal.
KENDAL – Jajaran personel SAR Semarang berdiri tegap membawa bendera merah putih dan panji-panji instansi saat melangsungkan upacara peringatan HUT ke-81 RI. Di latar belakang, bendera raksasa berukuran 25×10 meter sukses dibentangkan di dinding cadas Tebing Djaro, Kabupaten Kendal, Rabu (12/8/2026). (Foto: Dok. SAR Semarang)

KENDAL, Jatengdata.com – Di tengah Tebing Djaro Kendal setinggi 40 meter, enam personel Search and Rescue atau SAR Semarang tampak bergelantungan paada tali penyelamat. Tidak. Mereka tidak sedang menyelamatkan korban, namun sedang mengukir sejarah, melakukan rappeling serentak, mengibarkan bendera merah putih raksasa dalam rangka peringatan HUT ke-81 RI.

Tebing Djaro di Desa Pagertoyo, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal pada Rabu (12/8/26) pagi itu bukan sekadar tumpukan batu. Bagi puluhan personel SAR Semarang, dinding cadas tersebut adalah panggung pembuktian pengabdian mereka kepada negara.

Lembaran kain merah putih raksasa berukuran 25×10 meter sudah terbentang di atas sana, menanti aba-aba untuk mengudara. Suasana hening sejenak sebelum aba-aba komando terdengar.

Tidak seperti pengibaran bendera pada umumnya, puncak seremonial ini menampilkan aksi mendebarkan. Keenam personel rescuer, lengkap dengan perlengkapan pengaman, mulai menuruni tebing secara perlahan. Setiap gerakan mereka terukur, serentak membuka gulungan bendera yang perlahan menutupi sebagian wajah tebing batu yang kokoh tersebut.

Menurut Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono S.E., M.M., yang memimpin langsung seremonial ini, upacara ini memiliki makna yang amat mendalam. Ketinggian medan bukanlah sebuah penghalang, melainkan pemicu semangat kebangsaan.

“Di medan ketinggian ini, kita menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kemampuan, keberanian, profesionalisme, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi insan SAR, kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diisi dengan pengabdian,” ujar Budiono di hadapan peserta upacara.

Kesiapsiagaan dan kelancaran acara ini tentu tak lepas dari kerja keras setidaknya 20 personel yang terlibat dalam persiapan teknis. Mulai dari perancangan sistem yang rumit, kehadiran safety officer, hingga petugas eksekutor pengibar. Dedikasi rescuer kemanusiaan dan profesionalisme menjadi prioritas utama demi memastikan nol insiden sebelum keberanian benar-benar dipertunjukkan.

Makna Kemerdekaan Bagi SAR Semarang

Kemerdekaan bagi insan penyelamat memiliki arti yang lebih luhur dari sekadar mengenang pahlawan. Budiono dengan lugas menegaskan,

“Setiap kali kita hadir membantu masyarakat yang mengalami musibah, setiap kali kita menembus medan yang sulit, dan setiap kali kita berusaha menyelamatkan satu jiwa, di situlah kita memberikan makna nyata bagi kemerdekaan.”

Aksi heroik dari SAR Semarang yang turut didukung penuh oleh kehadiran 81 personel serta unsur potensi SAR ini menjadi sebuah refleksi yang tajam. Bahwa di atas tali-tali pengaman tempat mereka bertaruh nyawa, makna kemerdekaan bagi penyelamat adalah sumpah untuk terus mengabdi, menjaga sinergitas tanpa batas, dan menolak menyerah pada keterbatasan medan demi kemanusiaan.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.