Kisah Tersembunyi di Balik Pertempuran Lima Hari Semarang, Kesaksian Cucu Wongsonegoro Gubernur Jawa Tengah Pertama

16 Oktober 2026, 07:25 WIB • 3 menit baca
BRA Roosmarina, cucu Gubernur Jawa Tengah pertama Wongsonegoro, duduk di kursi VIP saat peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang di Tugu Muda.
BRA Roosmarina (kedua dari kiri, berbaju hitam), cucu tertua Gubernur Jawa Tengah pertama K.R.M.T. Wongsonegoro, saat menghadiri upacara peringatan 81 tahun Pertempuran Lima Hari Semarang di kawasan Tugu Muda, Rabu malam (14/10/2026). (Foto: Imam Abu Maulana).

SEMARANG, Jatengdata.com – Memasuki peringatan 81 tahun Pertempuran Lima Hari Semarang, narasi sejarah yang selama ini beredar ternyata masih menyimpan lembaran yang belum sepenuhnya terkuak. Kesaksian cucu Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah pertama, perlahan mengungkap kisah tersembunyi tentang kelicikan tentara Jepang dan keputusasaan para pejuang kita.

Melalui penuturan BRA Roosmarina, publik dapat menyelami memori kelam tersebut dari sudut pandang kakeknya yang harus mempertaruhkan nyawa sekaligus martabat demi menyelamatkan rakyat dari pembantaian.

Ketika Republik Indonesia baru berusia dua bulan, semangat kemerdekaan pemuda Semarang berbenturan keras dengan realitas militer yang sangat timpang di lapangan. Pasukan Jepang masih menguasai persenjataan lengkap dan secara sepihak menolak tunduk pada kekuasaan republik.

Oleh karena itu, Wongsonegoro sebagai Gubernur Jawa Tengah pertama terpaksa maju ke garis depan untuk mencari solusi damai bagi warganya.

“Eyang memimpin barisan pemuda berunding, menagih janji Jepang sebagai saudara tertua dengan meminta persenjataan untuk bekal perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” tutur Roosmarina dalam wawancara eksklusif dengan Jatengdata.com, di sela-sela malam peringatan 81 tahun Pertempuran Lima Hari Semarang, di kawasan Tugu Muda, Rabu (14/10/26).

Pengkhianatan Tentara Jepang dan Penemuan Senjata Rusak

Langkah diplomasi awal ini sempat memberikan angin segar saat Mayor Kido menyerahkan sejumlah senjata di kawasan Jatingaleh. Namun, harapan akan transisi kekuasaan yang damai seketika hancur berkeping-keping ketika para pemuda memeriksa persenjataan tersebut di markas Angkatan Muda.

“Setelah mereka pulang ke markas dan membongkarnya, mereka sadar bahwa senjata yang diserahkan memang rusak semua,” kenang Roosmarina.

Penipuan tak termaafkan ini sontak memicu gelombang kemarahan tak terkendali dari seluruh elemen pemuda. Akibatnya, ketegangan meledak menjadi rangkaian aksi saling serang di berbagai sudut kota menjelang pecahnya Pertempuran Lima Hari Semarang.

Gugurnya dr. Kariadi dan Keputusan Berat Wongsonegoro

Situasi bertambah genting tak terkendali ketika kabar duka menyebar luas mengenai tewasnya Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara, dr. Kariadi. Insiden berdarah ini semakin menyulut api perlawanan di tengah masyarakat.

“Puncak kemarahan pemuda setelah mendengar gugurnya dr. Kariadi,” ujarnya.

Kematian tragis dr. Kariadi mengubah insiden perebutan senjata menjadi perlawanan terbuka berskala besar yang menelan banyak korban jiwa. Para pemuda yang terbakar emosi segera merapatkan barisan pertahanan, meskipun mereka menghadapi mesin perang Jepang dengan persenjataan yang sangat terbatas.

“Eyang didesak pemuda-pemuda Semarang untuk segera bersiap menghadapi tentara Jepang yang jauh lebih kuat dan lengkap persenjataannya.”, lanjutnya.

Merespons situasi darurat ini, Gubernur Jawa Tengah pertama itu mengambil keputusan luar biasa berat untuk menghentikan meluasnya pertumpahan darah. Bersama Presiden Soekarno, Wongsonegoro secara berani memprakarsai perundingan tingkat tinggi yang melibatkan pihak Sekutu guna mendesak gencatan senjata.

Meskipun tentara Jepang sempat menangkap dan memukulnya, perjuangan Wongsonegoro berhasil mewujudkan kesepakatan penghentian permusuhan pada 20 Oktober 1945.

Kisah tersembunyi di balik Pertempuran Lima Hari Semarang ini menyadarkan kita bahwa usaha mempertahankan kemerdekaan selalu menuntut pengorbanan yang sangat mahal. Kesaksian cucu Wongsonegoro membuktikan peran krusial Gubernur Jawa Tengah pertama dalam menavigasi krisis kemanusiaan melalui keberanian fisik sekaligus kebijaksanaan diplomasi.

Kisah perjuangan para tokoh masa lalu ini sudah sepatutnya terus menyala sebagai inspirasi dan pengingat abadi bagi generasi penerus bangsa.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.