Waspada Penipuan Deepfake AI! Pakar Siber CISSREC Bongkar Taktik Kuras Rekening Bank
SEMARANG, Jatengdata.com – Modus kejahatan siber kini berevolusi semakin mengerikan lewat rekayasa wajah dan suara untuk mengelabui nasabah. Peringatan darurat terkait ancaman penipuan deepfake AI ini dibongkar tuntas oleh Chairman Lembaga Riset dan Keamanan Siber CISSREC, Dr. Pratama Persadha dalam wawancara eksklusif bersama Jatengdata.com di Semarang, Selasa (21/7/2026). Sebelumnya, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Intelijen (STIN) ini memberikan edukasi jajaran eksekutif perbankan daerah.
Ancaman teknologi masa kini memasuki babak yang sangat krusial bagi keamanan finansial masyarakat luas, Para peretas tidak lagi sekadar mengirimkan tautan jebakan lewat pesan singkat,kata dia. Mereka kini memanfaatkan kecerdasan mesin untuk melancarkan serangan psikologis tingkat tinggi. Modus ini sanggup meniru wajah, gerak-gerik, hingga suara seseorang dengan tingkat kemiripan yang nyaris sempurna.
Dr. Pratama Persadha membongkar taktik kotor para penjahat siber tersebut secara mendalam. Ia menjelaskan bahwa pelaku kejahatan awalnya meretas data identitas dasar, seperti KTP elektronik milik korban yang banyak tersebar di internet. Setelah itu, sindikat ini akan mengais profil media sosial korban untuk mencuri foto dan sampel suara.
“Dari media sosial ketemu fotonya, kemudian di-create AI. Saat verifikasi perbankan suruh tengok kanan, tengok kiri, kedip, sistem AI itu bisa dipakai untuk memalsukannya,” ujar Pratama Persadha.
Manipulasi Suara dan Titik Lemah Nasabah
Taktik canggih ini jelas memicu ancaman serius bagi keamanan digital nasabah. Mesin kecerdasan buatan memungkinkan peretas menembus sistem verifikasi biometrik pada pendaftaran rekening bank digital bodong. Lebih parah lagi, teknologi voice phishing (vishing) membuat pelaku sanggup menelepon korban menggunakan suara yang persis seperti kerabat, anak, atau atasan mereka.

Kondisi ini membuat modus penipuan transfer bank berevolusi menjadi sangat memanipulasi alam bawah sadar. Masyarakat awam yang belum tersentuh edukasi siber pasti akan sangat mudah terperdaya. Nasabah kerap kali secara sadar mentransfer sejumlah uang karena meyakini instruksi dari panggilan darurat tersebut benar-benar berasal dari orang terdekat.
“Manusia itu titik terlemah sebenarnya dalam ekosistem keamanan ini,” ujar Pratama menegaskan.
Menghadapi masifnya penyebaran penipuan deepfake AI, masyarakat khususnya di Jawa Tengah wajib menyalakan kewaspadaan tingkat tinggi. Nasabah tidak boleh lagi mudah panik dan percaya pada permintaan transfer dana yang bersifat mendadak, meskipun suara di telepon terdengar sangat familier. Melakukan konfirmasi ulang melalui panggilan seluler biasa atau bertemu secara fisik kini menjadi langkah penawar paling ampuh.
Pihak perbankan sendiri saat ini terus didorong untuk mengejar ketertinggalan dengan memperkuat sistem deteksi liveliness kecerdasan buatan mereka. Namun, garis pertahanan terakhir demi menjaga keutuhan rekening tetap berada pada tingkat literasi dan sikap kritis masyarakat itu sendiri.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.