Ketika Riset Undip Sukses Angkat Fenomena Langka Air Laut Dingin 10°C di Perairan Tropis
SEMARANG, Jatengdata.com – Matahari menyengat tajam di pesisir Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, di balik hangatnya ombak tropis, lautan menyimpan sebuah anomali suhu yang drastis. Tim peneliti Universitas Diponegoro (Undip) akhirnya berhasil memetakan rahasia alam ini. Fenomena langka tersebut tak sekadar menjadi keajaiban sesaat, tetapi juga bersiap mengubah nasib warga pesisir selamanya.
Jatengdata.com melansir laporan dari laman Undip pada Sabtu (11/7/2026) yang menyebutkan bahwa anomali laut ini menyapa pada waktu-waktu tertentu antara bulan Agustus hingga November. Di tengah suhu udara pesisir yang panas, suhu permukaan laut di Desa Alor Kecil dapat turun drastis hingga mendekati 10°C. Kejadian ekstrem berupa fenomena langka sattu-satunya di dunia ini berlangsung cukup singkat. Yakni hanya selama satu hingga dua jam.
Penurunan suhu secara tiba-tiba ini membawa dampak luar biasa. Perubahan termal yang cepat membuat ikan-ikan di perairan tersebut pingsan dan mengambang di permukaan air.
Tak lama berselang, kawanan lumba-lumba liar segera berenang menepi. Mereka menyantap ikan-ikan tak berdaya tersebut tepat di bibir pantai. Atraksi alam ini dapat mengukuhkan pesona Alor sebagai destinasi wisata NTT yang tiada duanya.
Intervensi Teknologi Undip Membaca Ritme Alam
Sejak tahun 2020, tim peneliti Undip turun tangan mengurai misteri di balik fenomena langka ini. Prof. Dr.Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc., memimpin riset kelautan dari Departemen Oseanografi FPIK Undip dan menamai kejadian tersebut ALaDin (Air Laut Dingin). Secara oseanografi, gejolak ini merupakan proses upwelling ekstrem. Interaksi kuat antara arus pasang purnama dengan kontur topografi dasar Selat Pantar yang unik dan terisolasi membangkitkan kondisi perairan tersebut.
Sayangnya, pesona eksotis ini selama bertahun-tahun gagal memberi manfaat ekonomi bagi warga lokal karena kemunculannya yang serba tiba-tiba. Warga setempat seringkali sekadar menikmati tontonan alam ini secara pasif.
“Ke depan, kita harus mengubah paradigma ini,” tegas Prof. Anindya menyoroti ironi tersebut. “Wisatawan seharusnya menjadi penikmat utama ALaDin. Sementara itu, penduduk lokal harus berperan menyediakan fasilitas agar mereka mendapatkan manfaat ekonomi.”
Kolaborasi Membangun Pariwisata Berbasis Komunitas
Guna memecahkan kebuntuan tersebut, tim Undip menjalin kolaborasi dengan Universitas Tribuana Kalabahi (UNTRIB) dan Pemerintah Kabupaten Alor melalui Program Hilirisasi Riset Sinergi Strategis LPDP 2026. Mereka meracik teknologi ‘Si ALaDin’.
Sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) ini membaca ritme periodik pasang surut secara akurat. Hasilnya, masyarakat bisa meramalkan waktu terjadinya fenomena langka air dingin tersebut langsung dari layar gawai masing-masing. Lebih dari itu, tim UNTRIB kini melatih warga desa secara partisipatif untuk menyediakan jasa wisata lewat pendekatan community-based tourism.
Ambisi Kelas Dunia Melalui Pekan Wismaraya
Sejalan dengan kesiapan warga, Pemerintah Kabupaten Alor bergerak tak kalah cepat. Pemerintah daerah menetapkan pariwisata sebagai satu dari tiga pilar utama pembangunan daerah atau “TRI PALAWA” melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029.
Sebagai langkah konkret percepatan sektor tersebut, pemerintah daerah merancang Pekan Wismaraya Alor (Wisata Maju Rakyat Sejahtera). Pemerintah akan mengemas potensi laut bersuhu 10°C ini secara profesional dalam panggung Festival ALaDin 2026 pada bulan September mendatang. Pemerintah daerah memproyeksikan hajatan besar ini sebagai motor ekonomi baru sekaligus wisata andalan Alor di masa depan dengan mengusung prinsip blue economy.
Prof. Anindya meyakini pesona pesisir Alor mampu bersaing dengan daya pikat reptil purba di ujung barat pesisir NTT. “Jika Labuan Bajo bisa mendunia karena memiliki komodo, kadal raksasa satu-satunya di dunia, Alor juga bisa menyainginya,” ujarnya penuh optimisme. “Sebab, Alor memiliki ALaDin yang juga satu-satunya di dunia.”
Fenomena langka ALaDin tentunya bukan sekadar tontonan alam musiman. Lewat intervensi teknologi peramalan dari Undip dan semangat gotong royong warga, perairan bersuhu dingin ekstrem ini dapat menghangatkan denyut nadi ekonomi pesisir.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.