Berkaca dari Kasus Bully Siswa Semarang, Ini Tips Orang Tua Siapkan Anak Kebal Perundungan

26 Juni 2026, 13:58 WIB • 2 menit baca
Seorang ibu berhijab tersenyum hangat sambil memegang dagu putrinya yang mengenakan seragam sekolah SMP dengan lembut. Mereka duduk di meja kayu. Di rak belakang terdapat foto-foto keluarga dan pamflet UNICEF yang jelas bertuliskan "HENTIKAN PERUNDUNGAN".
Momen hangat penuh kasih sayang antara ibu dan anak sekolah berhijab di Indonesia, yang menunjukkan dukungan keluarga di dekat materi panduan anti-perundungan UNICEF. (Foto; AI generated).

SEMARANG, Jatengdata.com – Kasus bully siswa Semarang baru-baru ini kembali mengingatkan kita tentang bahaya kekerasan di lingkungan sekolah. Orang tua kini harus bergerak cepat menyiapkan pertahanan mental anak. Tujuannya agar anak memiliki insting pelindung diri dan kebal terhadap perundungan.

KAA (13), siswa SMP swasta favorit di Semarang, mengalami trauma berat akibat kekerasan di sekolahnya. Sudah empat bulan terakhir, ia enggan berangkat ke sekolah. Saking traumanya, korban bahkan merasa takut berada di kamar mandi rumah. Ia teringat pengalaman buruk di kamar mandi sekolah yang menjadi lokasi kejadian perundungan.

Kejadian pahit ini menunjukkan bahwa jaminan keamanan sekolah tidak selalu optimal. Oleh sebab itu, benteng pertahanan paling awal harus dibangun dari rumah. Dan orang tua memegang peran kunci dalam mencegah anak menjadi sasaran pelaku.

Mengutip data dan panduan resmi dari kampanye lembaga kesejahteraan anak PBB UNICEF Indonesia tentang Pencegahan Perundungan, anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi memiliki risiko jauh lebih rendah menjadi korban. Mereka umumnya berani bersikap tegas saat menghadapi tekanan dari teman sebaya.

Tips Orang Tua Bangun Mental Anak

Langkah pertama yang bisa orang tua lakukan adalah melatih asertivitas anak. Orang tua harus mengajarkan anak cara berkata “tidak” dengan nada suara lantang. Selanjutnya, biasakan anak berani menatap mata lawan bicaranya secara langsung. Postur tubuh yang tegap sering kali membuat pelaku bully berpikir dua kali sebelum mengganggu.

Selain itu, keluarga wajib membangun komunikasi yang hangat setiap hari. Anak harus merasa aman menceritakan masalah sekecil apa pun kepada orang tuanya. Komunikasi terbuka ini mencegah anak memendam rasa takut sendirian. Pola pengasuhan ini sangat vital untuk menekan risiko terulangnya kasus bully siswa Semarang di masa depan.

Latihan Simulasi Anti Bully di Rumah

Praktikkan juga simulasi atau bermain peran (role-play) di rumah secara rutin. Orang tua bisa berpura-pura menjadi teman yang sedang mengejek atau mengintimidasi. Kemudian, minta anak merespons provokasi tersebut dengan tenang tanpa terpancing emosi. Latihan interaktif ini sangat ampuh menajamkan insting bertahan hidup anak di lingkungan sosial.

Terakhir, orang tua harus selalu memantau aktivitas media sosial anak secara bijak. Jangan biarkan anak menghadapi teror siber tanpa pendampingan orang dewasa yang peduli.

Kolaborasi kuat antara orang tua dan anak adalah kunci perlindungan utama. Kita semua tentu berharap kasus bully siswa Semarang menjadi pelajaran berharga bagi ketahanan setiap keluarga.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.