Diplomasi Budaya di Meja Makan, Kisah Mahasiswa Internasional Undip
SEMARANG, Jatengdata.com — Aroma rempah kuliner lintas negara menyapa pengunjung di Lapangan Widya Puraya Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang, Semarang, Jumat (16/10/2026) sore. Puluhan mahasiswa internasional Undip tampak antusias mengenakan pakaian adat kebanggaan bangsa mereka masing-masing. Melalui ajang Diponegoro International Youth Festival (DIYF) 2026, mereka merajut diplomasi budaya yang hangat bersama mahasiswa lokal.
Kantor Urusan Internasional (KUI) Undip menggelar festival bertema “Taste the World, Meet the Cultures” ini sejak pukul 15.00 WIB. Kegiatan tahunan tersebut mempertemukan puluhan mahasiswa asing asal 15 negara dalam satu ruang perjumpaan yang inklusif. Mereka berasal dari Malawi, Madagaskar, India, Pakistan, Gambia, Tanzania, Yaman, Nigeria, Vietnam, Filipina, Malaysia, Jepang, Belanda, Rusia, hingga Myanmar.
Wakil Rektor IV Undip, Wijayanto, S.I.P., M.Si., Ph.D., membuka acara ini secara simbolis melalui prosesi pengguntingan pita. Dalam kesempatan itu, Wijayanto hadir mewakili jajaran pimpinan sebagai Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Undip.
Selain itu, Wakil Direktur Kemitraan dan Konektivitas Global, Pulung Widhi Hari Hananto, S.H., M.H., LL.M., turut mendampingi prosesi tersebut. Supervisor Kemitraan dan Konektivitas Global, Anton Bowo Wicaksono, S.Hum., juga hadir bersama jajaran pimpinan di atas panggung.
Diplomasi Budaya Lewat Kuliner Lintas Negara
Rangkaian acara bermula dengan agenda “Food Festival: Taste the World” yang menghadirkan 19 stan makanan tradisional khas 15 negara. Para mahasiswa internasional Undip meracik dan membagikan langsung hidangan autentik tersebut kepada pengunjung melalui penukaran kupon registrasi. Lebih lanjut, Wijayanto menilai ragam sajian ini mampu menjembatani perbedaan latar belakang bangsa.
“Kita rayakan sesuatu yang fundamental, lebih dari sebuah perayaan, namun membawa kapasitas diri kita untuk memahami perbedaan. Di sini ada Food Festival, seperti yang kita tahu, food is the universal love language,” kata Wijayanto.
Menurutnya, makanan menyimpan identitas sekaligus memori kolektif yang mengingatkan manusia pada sosok terdekat maupun tradisi leluhur lintas generasi. Sepiring hidangan khas kampung halaman mampu menghadirkan kehangatan keluarga di tengah tanah rantau.
“Makanan bukanlah tradisi yang ada di museum tetapi kekal ada di meja makan keluarga. Gastronomy is meaningful, let’s share our stories and celebrate a wonderful cultural diplomacy,” ungkap Wijayanto, Ph.D.
Oleh karena itu, perjamuan kuliner lintas negara ini menjadi ruang dialog hangat yang mendekatkan jarak antarbangsa. Tak hanya itu, Undip turut mengundang mahasiswa asing dari kampus lain di Jawa Tengah untuk merasakan kemeriahan festival. Mahasiswa mancanegara dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) hadir membaur di lokasi. Kehadiran mereka memperluas jejaring persaudaraan antarmahasiswa lintas perguruan tinggi di Kota Semarang.
Harmoni Panggung Seni Mahasiswa Internasional Undip
Menjelang malam, suasana Lapangan Widya Puraya semakin semarak saat memasuki agenda puncak “Cultural Night”. Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., membuka langsung sesi malam budaya tersebut. Ia berpesan agar mahasiswa internasional dan mahasiswa nasional menjalin persahabatan yang erat melalui akulturasi budaya.
Sementara itu, Direktur Reputasi, Kemitraan, dan Konektivitas Global Undip, Prof. Dr. Ir. Hadiyanto, S.T., M.Sc., IPU., menyoroti capaian internasionalisasi kampus. Ia mengungkapkan bahwa jumlah mahasiswa internasional Undip terus meningkat setiap tahun.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Direktur Pulung Widhi menekankan pentingnya kampus menyambut hangat seluruh mahasiswa asing. Kampus juga mengundang mahasiswa nasional sebagai peserta untuk membangun koneksi persahabatan global.
Selanjutnya, panggung Cultural Night menyuguhkan kolaborasi karya seni dari mahasiswa Indonesia dan berbagai penjuru dunia. Harukaze Odori FIB Undip menampilkan tarian Jepang, sedangkan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Undip membawakan medley lagu Nusantara. Selain itu, Dipo Dance Crew menyuguhkan penampilan K-Pop Dance yang energik dan kelompok Ratoh Jaroe mempersembahkan tari Saman.
Delegasi mancanegara pun bergantian memamerkan tarian khas Afrika, tari India, tari tradisional Yaman, tari Pakistan, hingga lagu daerah negara masing-masing. Bahkan, empat mahasiswi asal Rusia tampil kompak membawakan tarian Russian Dance di atas panggung utama. Mereka memadukan kaus biru bertuliskan Undip dengan rok panjang putih sembari menari penuh senyum. Kemeriahan malam puncak berlanjut ketika seluruh peserta menari bersama mengikuti alunan musik dari DJ Hamka.
Pada akhirnya, kolaborasi lintas bangsa dalam Diponegoro International Youth Festival ini memantapkan langkah Universitas Diponegoro menuju World-Class University. Ke depan, kampus akan terus memfasilitasi ragam kegiatan mahasiswa internasional Undip melalui pertukaran seni dan kuliner lintas negara. Semangat diplomasi budaya dari Tembalang ini membuktikan bahwa keberagaman mampu melahirkan harmoni yang bermartabat dan bermanfaat bagi dunia
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.