Panduan Puasa Asyura 10 Muharam: Cek Niat, Hukum, dan Hadis Sahihnya

22 Juni 2026, 11:28 WIB • 3 menit baca
Panduan Puasa Asyura 10 Muharam: Cek Niat, Hukum, dan Hadis Sahihnya
Ilustrasi: Seorang muslim mendalami literatur agama di dalam masjid. Jelang 10 Muharram, umat Islam diimbau untuk merujuk pada panduan puasa Asyura berdasarkan hadis sahih guna memastikan ketepatan niat dan hukum ibadah. (AI Generated)

SEMARANG, Jatengdata.com – Menjelang jadwal 10 Muharam 1448 H, umat Islam sangat membutuhkan panduan puasa Asyura yang komprehensif agar amalan membuahkan hasil. Menyikapi hal ini, Ustad Drs. H. Danusiri, M.Ag. dri Komisi Dakwah MUI Kota Semarang merinci tata cara, lafal niat puasa Asyura, hingga kedudukan hukum puasa Asyura. Umat wajib menyandarkan ibadah ini murni pada hadis sahih puasa Asyura agar Allah SWT menerima amalan tersebut secara sempurna.

Hari ini Senin (22/6/2026), bertepatan dengan tanggal 7 Muharam 1448 H. Momentum ibadah puasa sunnah pada tanggal 10 Muharam pun kian dekat. Namun, masyarakat kerap tidak mengimbangi tingginya antusiasme tersebut dengan literatur syariat yang lurus. Akibatnya, banyak kaum muslimin masih menjalankan ritual tanpa dasar yang kuat.

Ustad Drs. H. Danusiri, M.Ag. dari Komisi Dakwah MUI Kota Semarang mengingatkan bahwa agama melarang keras umat menciptakan ritual ibadah baru. Syariat dari Allah dan Rasulullah wajib menjadi landasan utama bagi segala tindak peribadahan.

“Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan amat tegas: ‘Barangsiapa yang mengada-ada suatu dalam urusan (agama) kami yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak’ (HR Bukhari: 2499).

Hal ini selaras dengan kaidah ushuliyah bahwa agama melarang asal-usul ibadah, kecuali Allah dan utusannya mensyariatkan hal tersebut,” urai Danusiri kepada Jatengdata.com, Senin (22/6/2026).

Kedudukan Hukum Puasa Asyura

Oleh karena itu, umat Islam harus memahami hukum puasa Asyura secara presisi. Danusiri memaparkan bahwa status puasa 10 Muharam adalah mubah atau sunnah muakkad, sama sekali bukan ibadah wajib. Hadis sahih puasa Asyura riwayat Imam Bukhari mengikat kepastian hukum ini.

Ustad Danusiri mengutip riwayat sahih dari Aisyah RA yang berbunyi: “Dahulu hari Asyura’ adalah hari-hari yang dipergunakan orang-orang jahiliyyah untuk melakukan puasa, tatkala datang bulan Ramadan, beliau bersabda: Barangsiapa yang ingin berpuasa Asyura’ hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, maka berbukalah.” (HR Bukhari: 4142).

Melalui hadis ini, Nabi SAW membebaskan umat untuk memilih puasa atau tidak tanpa memikul dosa apabila meninggalkannya. Namun, pelaksanaan ibadah ini menawarkan ganjaran luar biasa berupa ampunan dosa setahun berlalu (HR. Turmuzi: 683).

Waspada Hadis Palsu dan Penataan Niat

Dalam menerapkan panduan puasa Asyura ini, Danusiri juga menyoroti bahayanya dalil palsu yang beredar jelang Muharram. Ia meminta umat menghindari teks riwayat dusta yang menjanjikan pahala tidak rasional.

“Hindari keyakinan dari teks palsu yang berbunyi: ‘Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura bulan Muharam, niscaya Allah memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 haji dan umrah, dan 10.000 pahala syuhada’,” tegasnya.

Sebagai gantinya, dosen pendidikan agama Islam Unimus ini mengajak umat untuk menata niat puasa Asyura secara tulus. Umat Islam cukup melafalkan niat singkat nawaitu shauma ghaddin lillahi Ta’ala untuk mengawali ketaatan tersebut. Umat tidak perlu menambahkan harapan lain di luar tuntunan syariat.

Mari kita indahkan panduan puasa Asyura yang benar, memahami hukum puasa Asyura, dan hanya bersandar pada hadis sahih puasa Asyura sebagai kunci kesempurnaan amal. Umat yang menata niat puasa Asyura semata-mata demi rida Allah akan menyempurnakan kualitas ibadahnya di bulan Muharam.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.