Bukan Berisi Baju, Koper di Pinggiran Semarang Ini Bawa Misi Pelibatan Publik dalam Pendidikan Kemendikdasmen
SEMARANG, Jatengdata.com– Matahari pagi belum sepenuhnya garang memanggang aspal Kota Semarang. Namun, peluh sudah merembes deras membasahi kening Yuli Kuswanti. Perempuan berusia 30 tahunan ini menggenggam erat gagang sebuah koper warna tosca. Rodanya mulai aus tergerus aspal jalanan kota yang bergelombang. Yuli jelas tidak sedang bersiap menuju bandara atau stasiun kereta. Dia melangkah pasti menyusuri keriuhan ruang publik demi menjemput bola literasi.
Koper berukuran sedang itu sama sekali tidak berisi pakaian liburan. Koper tersebut menyimpan ratusan buku cerita anak yang siap Yuli gelar di atas selembar tikar plastik. Inilah wajah otentik Koper Pustaka Semarang. Sebuah pergerakan akar rumput yang sukses membuktikan bahwa pelibatan publik dalam pendidikan tidak melulu menuntut kucuran dana miliaran rupiah. Sejatinya, kita tidak butuh fasilitas mewah berpendingin ruangan untuk mulai mencerdaskan bangsa.
Berawal dari Dedikasi Sepasang Pustakawan
Menariknya, dedikasi Yuli tidak lahir dari ruang hampa. Ibu dari satu anak yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) ini memang bernapas dalam ekosistem perbukuan. Yuli merampungkan pendidikan formalnya sebagai seorang pustakawan. Cerita perjalanan hidupnya ia labuhkan pada seorang pria yang juga berprofesi sebagai pustakawan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Semarang. Sang suami pulalah yang menjadi sistem pendukung (support system) utama Yuli dalam bahu-membahu mengelola Koper Pustaka.
Yuli kemudian terus mengasah jiwa pergerakannya melalui jalur keorganisasian. Perempuan gigih ini tercatat aktif sebagai pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Semarang. Dia juga secara konsisten mendedikasikan tenaga dan waktunya sebagai aktivis Nasyiatul Aisyiyah. Kombinasi keilmuan akademik, dukungan penuh dari sang suami, dan semangat filantropi Islam inilah yang menjadi bahan bakar utamanya.
Yuli dan suaminya mulai merintis gerakan jalanan ini tatkala pandemi Covid-19 melumpuhkan sendi kehidupan pada tahun 2021 silam. Niat awalnya tergolong sangat sederhana. Mereka berdua hanya ingin anak-anak di lingkungan sekitarnya tetap memiliki akses membaca saat gerbang sekolah formal terkunci rapat.
Menyulap Lahan 90 Meter Persegi Jadi Episentrum Literasi
Mula-mula, Yuli memanggul tumpukan buku tersebut menggunakan tas ransel besar. Tentu saja, aktivitas ini membawa beban fisik yang menyiksa tubuh. Punggung Yuli kerap terasa nyeri setelah seharian berkeliling mengendarai sepeda motor dengan suaminya. Berangkat dari rasa sakit itulah, Yuli akhirnya memutuskan beralih menggunakan koper pakaian bekas peninggalan keluarga. Benda ini terbukti jauh lebih mudah dia tarik menuju taman-taman kota.

Perjuangan mengedarkan buku ke ruang publik ini tentu tidak selalu menapaki jalan mulus. Suatu ketika, relawan Koper Pustaka sempat menelan kenyataan pahit saat menerima penolakan dan terusir dari sebuah taman kota. Kendati demikian, tragedi kecil ini sama sekali tidak menyurutkan nyali mereka. Yuli dan suami justru mengambil sebuah keputusan ekstrem yang jarang orang lain berani lakukan.
Yuli membuka lebar-lebar pintu rumah pribadinya yang berdiri di atas tanah seluas cuma 90 meter persegi di pinggiran Selatan Kota Semarang. Dia nekat menyulap garasi dan ruang tamunya yang mungil menjadi markas utama pergerakan Koper Pustaka. Keputusan ini secara gamblang “mengorbankan” privasi utama keluarga mereka. Saat ini, rak-rak kayu sederhana berdiri tegak mengapit dinding rumahnya. Ribuan buku hasil donasi berbagai pihak berjajar rapi menyambut kedatangan anak-anak setiap harinya.
Meruntuhkan Sekat Privasi demi Perangi Candu Gawai
Langkah Yuli meruntuhkan sekat privasi ini ternyata memicu resonansi hingga ke mancanegara. Beberapa waktu lalu, serombongan tamu akademisi dari Universiti Malaya, Malaysia, bertandang mengunjungi Koper Pustaka. Para intelektual negeri jiran ini ikut duduk lesehan di lantai teras rumah Yuli yang sederhana. Mereka kemudian membaur riang membuat kerajinan tangan dari barang bekas bersama anak-anak sekitar.
Di sela-sela riuhnya kegiatan, seorang dosen tamu mengutarakan kekagumannya. Yuli masih merekam jelas memori percakapan berharga tersebut di kepalanya. Dosen itu menyatakan bahwa di Malaysia sangat sulit menemukan warga yang rela menjadikan ruang privasi rumahnya sebagai fasilitas bacaan publik.

“Mereka sungguh takjub melihat kami membiarkan anak-anak asing bebas keluar masuk, duduk, dan belajar di atas lahan tanah yang sempit ini. Bagi kami, inilah wujud totalitas pelibatan publik dalam pendidikan anak yang sesungguhnya,” kenang Yuli sembari menata kembali buku-bukunya.
Selain menjadikan rumah sebagai episentrum literasi, tantangan terbesar Koper Pustaka hari ini berpusat pada musuh tak kasat mata bernama gawai. Menyadari ancaman nyata ini, Yuli merancang siasat jitu untuk kurangi kecanduan gadget sejak dini. Dia sering menggandeng mahasiswa relawan untuk memimpin sesi mendongeng interaktif yang terbukti sukses merebut kembali perhatian anak-anak dari layar ponsel.
Dari Akar Rumput Menembus Atensi Kemendikdasmen
Yuli juga menolak berdiam diri menunggu pembaca datang mengetuk rumahnya. Dia memilih bergerak proaktif melebarkan sayap pengaruh Koper Pustaka ke ranah pendidikan formal. Perempuan asal Cilacap ini bergerilya menandatangani nota kesepahaman (MoU) peminjaman buku bergilir dengan berbagai institusi. Koper Pustaka kini resmi mendistribusikan bahan bacaan ke TK ABA 31 Wonosari Ngaliyan dan SD Aisyiyah Saubari Bening Hati (SBH) Tembalang, serta berbagai sekolah mitra strategis lainnya.
Dedikasi tanpa pamrih ini pada akhirnya berhasil menembus tembok tebal birokrasi kementerian. Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., secara khusus menyempatkan waktu mengunjungi lapak baca sederhana tersebut. Pejabat tinggi negara ini hadir langsung, lalu duduk lesehan membaur bersama anak-anak. Kehadiran sang Wamen menancapkan bukti sahih bahwa negara sungguh menghargai denyut nadi pergerakan akar rumput.

“Jangan pernah menunggu punya fasilitas sempurna untuk mulai bergerak. Buka koper Anda, gelar tikar Anda di mana saja, dan mulailah membaca bersama anak-anak,” pungkas Yuli mengakhiri perbincangannya dengan jatengdata.com pada akhir pekan lalu.
Kalimat lugas dari rumah mungil ini merangkum ruh perjuangan literasi yang terus menyala. Semangat dari pinggiran Kota Semarang ini sukses membuktikan satu hal krusial. Inisiatif sekecil apa pun ternyata bisa menjadi wujud nyata pelibatan publik dalam pendidikan. Langkah sederhana ini pada akhirnya sanggup melahirkan perubahan peradaban bangsa
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.