Opini 3 menit baca

Prabowo 2029 Tanpa Gibran? Sudaryono, Sugiono, dan Teddy Mulai Masuk Radar

Prabowo 2029 Tanpa Gibran? Sudaryono, Sugiono, dan Teddy Mulai Masuk Radar
Ilustrasi Pengamat Politik dan Dosen FISIP, Diryo Suparto, dalam rubrik opini yang mengulas dinamika hukum dan politik terkait Kasus Sudewo di Kabupaten Pati.

Peta politik menuju Pilpres 2029 memang masih jauh dari final. Namun dalam politik, empat tahun bukanlah waktu yang terlalu dini untuk membaca arah regenerasi kekuasaan. Terlebih, satu kepastian politik telah diletakkan Partai Gerindra sejak Kongres Luar Biasa di Hambalang pada 13 Februari 2025: Prabowo Subianto diminta kembali maju sebagai calon presiden pada 2029.

Prabowo menjawab “Insyaallah”, dengan catatan ia terlebih dahulu harus membuktikan keberhasilan pemerintahannya.

Yang kemudian menarik dalam isu Pilpres 2029 bukan lagi sekadar pertanyaan “apakah Prabowo maju?”, tetapi “siapa figur cawapres Prabowo 2029?”

Nama Gibran Rakabuming Raka tentu belum dapat dikeluarkan begitu saja dari kalkulasi. Sampai September 2026 tidak ada keputusan resmi bahwa duet Prabowo–Gibran akan berakhir pada 2029. Bahkan Gerindra pada Juli lalu menegaskan keduanya tetap kompak dan saling melengkapi dalam pemerintahan.

Pada 25 Agustus, juru bicara Gerindra juga mengatakan partainya belum membahas Pilpres 2029 karena masih berfokus pada keberhasilan pemerintahan.

Mengintip Bursa Cawapres Prabowo

Namun, apabila pada akhirnya Prabowo membutuhkan konfigurasi baru dalam bursa cawapres Prabowo, kita patut mencermati tiga nama dari lingkar pemerintahan dan Gerindra.: Sudaryono, Sugiono, dan Teddy Indra Wijaya.

Sudaryono menarik karena jalur politiknya bersentuhan langsung dengan agenda populis pemerintah. Pada 22 Juli 2026, Prabowo melantiknya menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Artinya, ia kini memimpin institusi yang mengawal Makan Bergizi Gratis, salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo.

Posisi tersebut bukan hanya administratif; keberhasilan maupun problem tata kelola MBG otomatis membuat Sudaryono berada di ruang politik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, sebuah modal kuat menuju pertarungan politik ke depan.

Sugiono membawa modal berbeda. Ia berada pada dua arena sekaligus: pemerintahan dan partai. Sugiono menjabat Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Jenderal Gerindra.

Kombinasi pengalaman diplomasi, parlemen, struktur partai, serta kedekatannya dengan Prabowo memberikan profil politik yang berbeda dari figur teknokratis biasa. Data resmi kabinet masih mencatatnya sebagai Menteri Luar Negeri pemerintahan Prabowo.

Lalu ada Teddy Indra Wijaya. Sebagai Sekretaris Kabinet, Teddy bekerja pada salah satu simpul terdekat dengan Presiden. Ia hampir selalu berada pada ruang koordinasi dan agenda penting kepresidenan. Sugiono, Teddy, dan Sudaryono bahkan pernah bersama-sama mendampingi Prabowo dalam agenda kenegaraan pada Maret 2026.

Syarat Ketat Menjadi Cawapres Prabowo 2029

Tetapi membaca ketiganya sebagai kandidat cawapres Prabowo 2029 hari ini tetap terlalu dini.

Politik Pilpres 2029 tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling dekat dengan Prabowo. Ada kebutuhan menjaga koalisi, representasi partai, keseimbangan generasi, basis elektoral, dan—yang paling menentukan—rekam kinerja pemerintahan hingga menjelang pemilu.

Karena itu, fenomena Sudaryono, Sugiono, dan Teddy lebih tepat dibaca sebagai munculnya generasi figur yang memperoleh ruang strategis di sekitar Presiden Prabowo, bukan bukti mutlak bahwa salah satunya sudah dipersiapkan menjadi pendamping Prabowo Subianto.

Jika 2024 menghadirkan duet Prabowo–Gibran sebagai konfigurasi lintas generasi, maka Pilpres 2029 bisa saja menghasilkan formula berbeda.

Pertanyaannya kini perlahan bergeser. Jika bukan Gibran, siapa figur cawapres Prabowo 2029 yang Prabowo butuhkan untuk melengkapi pertarungan politik berikutnya? Figur berakar pada program rakyat, pengendali mesin partai dan diplomasi, atau figur muda yang tumbuh langsung dari pusat kekuasaan?

Jawabannya masih jauh. Tetapi nama-namanya mulai terlihat.

Baca juga:

Gibran dan Politik Isyarat Pendek, Membaca Strategi Komunikasi Wakil Presiden di Era Media Hibrida

“Habis Mulyono Terbitlah Mulyadi”

Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Opini
Bagikan: