Inovasi Penanganan TBC Jateng Diakui, Wamendagri Minta Seluruh Indonesia Meniru

14 Oktober 2026, 21:26 WIB • 3 menit baca
Wakil Menteri Kesehatan memberikan arahan di podium Pendopo Demak terkait program percepatan eliminasi tuberkulosis dan inovasi penanganan TBC Jateng.
Wakil Menteri Kesehatan saat memberikan arahan strategis terkait program eliminasi dan penanganan TBC di Pendopo Kabupaten Demak, Rabu (14/10/2026). Kunjungan ini berfokus pada integrasi layanan Cek Kesehatan Gratis untuk melacak kasus tuberkulosis hingga ke pelosok desa.

DEMAK, Jatengdata.com — Kementerian Dalam Negeri resmi meminta seluruh kabupaten di Indonesia meniru inovasi penanganan TBC Jateng. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ahmad Wiyagus menyampaikan instruksi langsung tersebut setelah melihat keberhasilan aparat daerah melacak pasien hingga ke pelosok desa di Kabupaten Demak, Rabu (14/10/2026).

Wamendagri Ahmad Wiyagus sangat mengapresiasi model penanggulangan penyakit menular milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia menilai strategi daerah ini sangat efektif untuk mempercepat target eliminasi TBC secara nasional.

“Saya akan mengangkat model penanganan TB di Jawa Tengah ini menjadi model yang harus diadopsi oleh seluruh Kabupaten yang ada di Indonesia,” ujarnya memicu tepuk tangan meriah para peserta saat ia meninjau layanan Active Case Finding (ACF) terintegrasi cek kesehatan gratis di Pendopo Kabupaten Demak.

Wamendagri melakukan kunjungan ini bersamaan dengan agenda Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Oktavianus. Keduanya memantau langsung layanan integrasi kesehatan tersebut di tiga wilayah secara beruntun, yakni Jepara, Kudus, dan Demak.

Kewajiban Lacak Kontak Erat

Merespons apresiasi kementerian, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan pemerintah daerah tidak cukup hanya mengobati pasien sakit. Pemerintah daerah kini mewajibkan petugas kesehatan melacak kontak erat dan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada warga berisiko tinggi.

“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana menemukan kasusnya, kemudian pengobatannya. Namun, yang tidak kalah penting adalah kontak erat dari pasien TB juga harus ditindaklanjuti,” ujarnya usai mendampingi kunjungan kementerian.

Sumarno menjelaskan, petugas medis harus memutus rantai penularan secara tuntas agar lonjakan kasus tidak terus berulang setiap tahun.

“Misalnya, kalau tahun ini ditemukan dan diobati 15.000 orang, kemudian tahun depan jumlahnya kembali 15.000, kita perlu melihat apakah kontak eratnya sudah ditindaklanjuti. Ini menjadi langkah strategis agar penanggulangan TB di Jawa Tengah bisa lebih efektif,” jelasnya saat memaparkan komitmen penanganan TBC Jateng.

Kolaborasi Babinsa dan Bhabinkamtibmas

Untuk memperluas jangkauan pelacakan, Sumarno terus mendorong pembentukan Desa Siaga TB di seluruh wilayah. Ia menyoroti keberhasilan Kabupaten Demak yang berinovasi dengan melibatkan aparat keamanan desa, yakni Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).

Aparat desa tersebut bertugas memberikan edukasi awal kepada warga sebelum tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

“Desa Siaga TB ini sebetulnya perlu dibentuk semua. Intinya, bagaimana semua pihak berkolaborasi untuk penemuan TB. Di Demak, kolaborasi Babinsa dan Bhabinkamtibmas menjadi salah satu inovasi yang bisa ditularkan ke kabupaten/kota lain,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap seluruh kabupaten dan kota segera meniru praktik kolaborasi dari Demak ini. Melalui sinergi solid antara aparat desa dan tenaga kesehatan, pemerintah meyakini keberhasilan penanganan TBC Jateng mampu menekan angka penyebaran secara permanen dan berkelanjutan pada masa mendatang.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.