Tak Hanya Padi, Undip Dorong Hilirisasi Pertanian Transmigran di Banyuasin Sumsel
BANYUASIN, SUMSEL, Jatengdata.com – Kawasan Transmigrasi Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, bersiap naik kelas. Warga setempat sukses mencetak rekor sebagai produsen padi paling tinggi tingkat nasional pada 2025. NAmun kini kawasan ini tak ingin lagi sekadar menjual gabah mentah.
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip) terus mendorong masyarakat transmigran melakukan hilirisasi pertanian. Mereka memandu warga menyulap limbah panen menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Mengubah Limbah Menjadi Nilai Tambah
Gagasan hilirisasi ini mengemuka sangat kuat saat TEP Undip Tim 24 menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama warga Kecamatan Tanjung Lago, Selasa (8/9). Perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyuasin, Agung, menyoroti potensi besar komoditas lokal. Ia melihat warga selama ini belum menggarap potensi tersebut secara optimal ke arah hilir.
“Dari padi, misalnya, bisa dikembangkan menjadi jerami, sekam, briket padi, maupun tepung padi,” jelasnya.
Agung menilai inovasi pengolahan limbah pertanian membuka peluang usaha baru. Langkah menahan bahan baku mentah punya nilai strategis. Proses lanjutan ini pasti memberikan nilai tambah. Warga juga akan menikmati peningkatan kesejahteraan harian mereka.
Melanjutkan Kesuksesan Transmigran
Adapun warga Telang memiliki landasan kuat untuk mengembangkan kapasitas mereka. Kawasan transmigrasi ini menyimpan rekam jejak kemajuan sosial ekonomi yang sangat pesat.
Terkait hal tersebut, Ketua TEP Undip Tim 24, Prof. Dr. Rer Oec. Arfan Bakhtiar, S.T., M.T., menegaskan program ini menindaklanjuti kajian tim sebelumnya.
“Tema industrialisasi dan hilirisasi ini kami dapatkan dari laporan tiga tim TEP tahun lalu. Jadi, kami menjalankan apa yang menjadi temuan dari tim sebelumnya,” ujar Prof. Arfan.
Ia menambahkan Telang layak menjadi barometer bagi daerah transmigrasi lainnya.
“Berdasarkan hasil diskusi kami, Telang termasuk kawasan yang berhasil dan menjadi percontohan. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan,” katanya.
Mengatasi Kendala Pemasaran UMKM
Meski unggul dalam hulu produksi, pelaku UMKM Telang masih menemui batu sandungan. Kelompok Industrialisasi mencatat tingkat kesiapan produksi warga sebenarnya sudah menyentuh angka 60 persen. Namun, mereka masih menghadapi masalah rantai distribusi. Akses pasar untuk produk turunan juga masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Siska Anggraini dari Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Banyuasin mendesak penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Ia menilai pemanfaatan platform digital menjadi kunci krusial. Strategi ini memampukan produk hilirisasi asal Telang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Buah Manis Penantian 46 Tahun
Sementara itu, warga merespons hangat langkah strategis lintas sektor ini. Tokoh masyarakat Telang, Landung Widodo, merefleksikan kembali tantangan panjang para transmigran perintis sejak empat dekade silam.
“Alhamdulillah, hari ini kondisi ekonomi dan sosial sudah membaik dibanding 46 tahun lalu. Tidak ada kata yang lebih indah dibanding kata ucapan terima kasih,” ungkap Landung.
Masyarakat transmigran Telang kini merajut asa baru. Mereka bertransformasi dari sekadar lumbung pangan hulu menuju pusat hilirisasi UMKM yang tangguh dan berdaya saing.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.